Skandal Mahasiswa Titipan Unram Tak Terelakkan

Mahasiswa Titipan Unram
AKSI; Untuk ketiga kalinya secara berturut turut para wali calon mahasiswa baru melakukan aksi ke Unram, Sabtu (28/7). (NASRI/RADAR LOMBOK)

MATARAM – Puluhan wali calon mahasiswa baru Universitas Mataram (Unram), kembali berunjuk rasa di depan gedung rektorat kampung setempat, Sabtu (28/7).

Masih persoalan sama, para wali calon mahasiswa menuntut komitmen pengumuman Unram yang telah meluluskan anak-anak mereka lewat jalur Mandiri pada 24 Juli lalu. Pada kesempatan itu, wali calon mahasiswa semakin lantang menyuarakan dugaan adanya mahasiswa titipan yang dimainkan oknum Unram. Permainan itu menggeser posisi anak-anak mereka yang telah dinyatakan lulus sebelumnya.

BACA JUGA: Memalukan, Pengumuman Tes Mandiri Unram Amburadul

Salah seorang wali calon mahasiswa baru, H Irham asal Lombok Timur menyebut, yang digeser kelulusan anaknya pada pilihan pertama yakni Fakultas Kedokteran. Menurutnya, ada salah seorang oknum mantan calon wakil bupati yang memang jelas menitip anaknya agar bisa lulus di Fakultas Kedokteran yang menjadi keinginannya. Hal ini diyakini bermula dari cerita salah seorang guru privat anaknya yang kebetulan sama tempatnya kursus. “Anak mantan calon wakil bupati ini pada tanggal 24 Juli itu dia gak lulus, tapi tanggal 25 itu tiba-tiba lulus,” tuturnya usai menggelar aksinya yang ketiga kali.

Berdasarkan keterangan dari guru privat anaknya, lanjut Irham, anak oknum mantan calon wakil bupati kemampuannya masih jauh di bawah standar. Sangat kecil kemungkinannya untuk lulus murni pada tes seleksi jalur Mandiri Unram. Hal ini kemudian membuat orang tua mahasiswa yang digeser kelulusannya itu semakin curiga dengan kasus yang terjadi di Unram saat  ini. 

Ditambahkannya, untuk FK sendiri memang ada uang pangkal atau sumbangan khusus yang dilampirkan pihak Unram. Besarannya mulai dari Rp 50 juta sampai 250 juta. Dan ini memang diperbolehkan Menristek Dikti. Hanya saja, pada kasus ini dia melihat ada pemilahan yang prioritasnya dilakukan secara sepihak. Artinya, bisa saja anak mantan calon wabup ini lebih besar sumbangannya dari pada calon mahasiswa yang lain. Sehingga pada pengumuman pertama tidak disahkan pihak kampus. “Kalau soal kecerdasan mari kita adu, dan ini nyata. Karena guru privatnya sendiri yang menyebut anak oknum mantan wagub ini pengetahuannya di bawah standar,” lanjutnya.