Sidang Kasus Emak Caca, Korban Dijanjikan Keuntungan 50 Persen

BERSAKSI: Tiga saksi memberikan keterangan dalam perkara dugaan penipuan modus investasi dengan terdakwa Laras Chintiya atau Emak Caca di PN Mataram, Selasa (16/2). (DERY HARJAN/RADAR LOMBOK)

MATARAM – Kasus dugaan penipuan modus investasi dengan terdakwa Laras Chintiya alias biasa dikenal Emak Caca sudah mulai disidangkan di Pengadilan Negeri Mataram, Selasa (16/2).

Sidang dengan agenda pemeriksaan saksi-saksi ini menghadirkan beberapa korban penipuan dan juga anak buahnya Emak Caca. Dari pihak korban yang dihadirkan yaitu Yusti dan Heriyani. Oleh jaksa penuntut umum (JPU), para korban ini dimintai keterangannya seputar alasannya bergabung pada bisnis terdakwa dan permasalahan yang dialami serta kerugian yang ditimbulkan.

Saksi pertama yang dimintai keterangan yaitu Yusti. Dalam kesaksiannya, Yusti mengatakan awal mulanya ikut menanam modal ke bisnisnya Emak Caca usai menerima tawaran kerja sama dalam usaha rumah makan Dapoer Emak Caca, Caca Garden, Caca Village, dan Caca Crabs. Adapun keuntungan yang dijanjikan yaitu sebesar hingga 50 persen. Tawaran tersebut dipromosikan melalui media sosial.

Begitu tertarik, Yusti¬†kemudian melakukan komunikasi via whatshap dengan terdakwa. Setelah itu terjadilah kesepakatan.¬†Yusti kemudian bertemu dengan terdakwa pada 24 Januari di Caca Garden untuk penandatangan¬†perjanjian kerja sama. “Saya nanam saham sebesar Rp 25 juta untuk Caca Village. Keuntungannya nanti Rp 11 juta,” ungkap Yusti.

Begitu Yusti menginvestasikan dananya, ternyata yang terjadi tidak sesuai dengan yang dijanjikan. Bukannya mendapat untung tetapi malah buntung. Sebab modalnya saja tidak kembali apalagi mendapat keuntungan. “Padahal dalam perjanjian keuntungan dibayarkan setiap 3 bulan sekali,” ujarnya.

Saksi kedua Heriyani juga mengalami hal yang sama. Ia mengaku ikut bersama dengan Yusti menanam saham. “Saya pergi barengan,” timpalnya.

Heriyani mengaku menanam modal sebesar Rp 100 juta. Itu dilakukannya secara bertahap. Tahap pertama sebesar Rp 50 juta dan tahap kedua Rp 50 juta. “Tahap pertama itu lancar. Saya tinggal dua kali lagi menerima untuk tahap pertama. Sementara yang tahap kedua itu tidak ada sama sekali,” ujarnya.

Mengetahui dirinya tak pernah dapat lagi, Heriyani pun sudah beberapa kali mencoba menemui terdakwa. Hanya saja terdakwa terkesan menghindar. “Ia sulit sekali ditemui,” sebutnya.

Bukan hanya dirinya saja yang sulit menemui terdakwa, rekan lainnya yang ikut menanam modal kepada Emak Caca juga mengalami hal yang sama. Karena merasa ditipu, akhirnya para penanam modal ini pun menempuh jalur hukum dengan melaporkan Emak Caca ke kepolisian.

Anjani, salah seorang bawahannya Emak Caca juga memberi kesaksian dalam persidangan kali ini. Hanya saja ia tidak begitu banyak mengetahui mengenai persoalan usaha yang dikelola Emak Caca. “Saya kerja di sana sejak Maret hingga Juli 2020,” ujarnya.

Pertama, Anjani bekerja sebagai supervisor di Caca Crabs di Lombok Eficentrum Mall. Namun itu hanya berjalan beberapa hari saja karena adanya pandemi LEM ditutup. Berhenti sebagai supervisor, Anjani kemudian diminta menjadi admin oleh Emak Caca. “Karena chat yang dilayani Mbak Laras (Emak Caca) banyak, maka saya yang bantu untuk meresponsnya satu per satu,” ujarnya.

Setahu Anjani, jumlah orang yang menanamkan modalnya di usaha Emak Caca sekitar 600-an orang. Itu untuk usaha Dapoer Emak Caca, Caca Garden, Caca Village, dan Caca Crabs. “Jadi gak sanggup dilayani satu per satu, makanya saya yang bantuin. Bukan hanya untuk membalas chat tetapi juga melayani ketika ada yang ingin bertemu dengan Mbak Laras,” ujarnya. (der)

BACA JUGA :  Empat Remaja Terjaring Operasi Yustisi