Siaga Bencana Cuaca Ekstrem

Siaga Bencana Cuaca Ekstrem
PANTAU : Kepala Pelaksana BPBD Provinsi NTB, H Ahsanul Khalik didampingi kepada Dishub NTB bersama Aparat saat melakukan pemantauan kelapangan pasca terjadi cuaca ekstrim yang melanda wilayah Lombok Utara belum lama ini.(ist)

MATARAM – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi NTB menetapkan siaga darurat sejak awal Januari 2020. Yakni untuk bencana banjir, longsor dan puting beliung sampai tanggal 31 Maret 2020 mendatang. Hal ini dilakukan guna mengantisipasi dampak risiko bencana yang ditimbulkan cuaca ekstrem yang melanda semua wilayah NTB akhir-akhir ini.

Hal disampaikan Kepala BPBD NTB, H Ahsanul Khalik, bahwa pihaknya menetapkan siaga darurat, banjir, longsor dan puting beliung sampai bulan 31 Maret 2020. Karena potensi ancaman bencana banjir langsor dan puting beliung sampai bulan tersebut cukup tinggi sesuai analisis dan peringatan BMKG. ‘’BKMG memberikan peringatan ini khusus kepada kami di BPBD,’’ ungkap Khalik, Sabtu (4/1).

Khalik menambahkan, sesuai data pemetaan yang dilakukan BPBD terkait dengan wilayah yang rawan banjir bandang selama ini terjadi. Untuk banjir bandang mulai Kabupaten Lombok Utara (KLU), yang bersumber dari air di atas gunung. Sedangkan Kabupatan Lombok Barat dan Kota Mataram karena sungainya yang menyambung. Potensi banjir di Lobar juga masuk ke Mataram. Ditambah lagi dengan resapan air di Kota Mataram sangat kurang, karena peralihan fungai lahan.

Sedangkan Kabupaten Lombok Tengah di beberapa wilayah juga terjadi, sehingga masyarakat diminta waspada terutama pada daerah yang mendapat langganan banjir setiap tahunnya. Begitu pula di Kabupaten Lombok Timur, potensi banjir bandang juga ad, di bebrapa wilayah yang aliran sungainya langsung dari Gunung Rinjani. Untuk Pulau Sumbawa semua kabupaten/kota juga memiliki potensi banjir bandang karena kondisi lingkungan, terutama hutan yang rusak. ‘’Jadi atas nama gubernur kami mengingatkan semua bupati/walikoya untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan kewaspadaan,” imbuhnya.

Untuk memperkecil akibat kemungkinan terjadinya bencana, Khalik mengimbau agar semua pihak berkoordinasi sampai ke tingkat desa atau bahkah sampai ke tingkat dusun. “Bahkan manakala intesintas hujan lebat dan lama, maka tidak ada salahnya mengambil langkah evakuasi terhadap warga yang ada di bantaran sungai,” sarannya.

Lebih jelas Khalik membeberkan, data sesuai rencana kontijensi yang dimiliki BPBD NTB, data ini tetap di-update setiap 3 tahun sekali untuk diperbarui. Mengenai data wilayah dengan tingkat risiko bencana banjir dan longsor, dengan tingkat risiko bencana, rendah, sedang dan tinggi setiap daerah kabupaten/kota se NTB. Mulai dari tingkat desa atau kelurahan dengan tingkat risiko bencana banjir tinggi di Kabupaten Lombok Timur terdapat di 225 desa. Sedangkan desa/kelurahan dengan tingkat risiko bencana tanah longsor tinggi di Kabupaten Lombok Timur terdapat di 229 desa/kelurahan. 

Sedangkan di desa/kelurahan dengan tingkat risiko bencana banjir tinggi di Kabupaten kabupaten Lombok Tengah terdapat di 120 desa/kelurahan. Sedangkan desa/kelurahan dengan tingkat risiko bencana tanah longsor tinggi di Kabupaten Lombok Tengah terdapat di 129 desa/kelurahan. Kemudian desa/kelurahan dengan tingkat risiko bencana banjir tinggi di Kabupaten Lombok Barat, terdapat di 78 desa/kelurahan. Sedangkan desa/kelurahan dengan tingkat risiko bencana tanah longsor tinggi di Kabupaten Lombok Barat terdapat di 116 desa/kelurahan. 

Desa/kelurahan dengan tingkat risiko nencana banjir tinggi di Kabupaten Lombok Utara terdapat di 16 desa. Sedangkan desa dengan tingkat risiko bencana tanah longsor tinggi di Kabupaten Lombok Utara terdapat di 24 desa. Selanjutnya, desa/kelurahan dengan tingkat risiko bencana banjir tinggi di Kabupaten Sumbawa terdapat di 65 desa/kelurahan. Sedangkan untuk desa/kelurahan dengan tingkat risiko bencana tanah longsor tinggi di Kabupaten Kabupaten Sumbawa terdapat di 49 desa/kelurahan. 

Desa/kelurahan dengan tingkat risiko bencana banjir tinggi di Kabupaten Sumbawa Barat, terdapat di 56 desa/kelurahan. Sedangkan desa/kelurahan dengan tingkat risiko bencana tanah longsor tinggi di Kabupaten Sumbawa Barat terdapat di 51 desa/kelurahan. Desa/kelurahan dengan tingkat risiko nencana banjir tinggi di Kabupaten Dompu terdapat di 59 desa/kelurahan. Sedangkan desa/kelurahan dengan tingkat risiko bencana tanah longsor tinggi di Kabupaten Dompu terdapat di 77 desa.

Sementara di desa/kelurahan dengan tingkat risiko bencana banjir tinggi di Kota Bima terdapat di 35 desa/kelurahan. Sedangkan desa/kelurahan dengan tingkat risiko nencana tanah longsor tinggi di Kota Bima terdapat di 38 desa/kelurahan. Dan di Kabupaten Bima desa/kelurahan dengan tingkat risiko bencana tanah longsor tinggi di 21 desa/kelurahan.

Meski potensi bencana begitu besar bisa terjadi dengan cuaca ekstrem yang terjadi akhir-akhir ini, Khalik berharap tidak berdampak begitu besar. “Walaupuan potensi bencana cukup besar, semoga tidak terjadi dan kalau terjadi tentu kita berharap karena kewaspadaan dan kesiapsiagaan semua pihak, tidak ada korban atau risiko yang besar,” harapnya.

Maka dari itu, pihaknya tidak henti-hentinya melakukan koordinasi dan komunikasi dengan berbagai pihak dalam mengantisipasi dampak yang ditimbulkan jika terjadi bencana, baik banjir bandang maupun tanah longsor di wilayah NTB. BPBD dengan TSB (tenaga siaga bencana), Dinas Sosial dengan TAGANA (Taruna Siaga Bencana), TNI dan Polri.

Karena sejauh ini, sambung Khalik, bancana yang terjadi di NTB sampai tanggal 31 Desember 2019 lalu, tercatat 95 kejadian bencana. Yakni banjir 3 kali, puting beliung 45 kali, Tanah longsor 4 kali, gelombang pasang 3, karhutia 6 kali, gempa bumi merusak 3 kali, kebakaran 9 kali dan kekeringan 9 kali. Bencana yang disebut bencana Hidrometeorologi mendominasi seperti banjir, angin puting beliung, bencana gempa bumi tercatat sebagai bencana yang menimbulkan dampak kerusakan yang paling besar serta menimbulkan korban jiwa. 

Dalam 2019 tercatat 4 orang meninggal dunia, 785.561 orang menderita (terkena dampak) dan 99 orang luka. Sedangkan rumah rusak sebanyak 5.486, rusak berat sebanyak 1085, rusak sedang 1.904 dan rusak sedang sebanyak 1.904. Sementara 74 fasilitas rusak dan terdampak seperti, 9 fasilitas peribadatan, 52 fasilitas kesehatan, 13 fasilitas pendidikan. Sementara katanya, data untuk awal Januari 2020 pihaknya belum melakukan pendataan terkait dengan dempak yang ditimbulkan oleh bencana, baik karena agin puting beliung yang terjadi akhir-akhir ini. “Kalau Januari 2020 belum, kalau selama tahun 2019 ada, karena minggu pertama untuk Januari kan belum juga. Dan sepanjang tahun 2019, yang banyak masyarakat terdampak adalah kekeringan,” paparnya. (sal)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid