Serunya Menyusuri Hutan Kumbi Desa Pakuan

HASIL HUTAN : Sebagian hasil hutan yang dinikmati oleh warga sekitar Hutan Kumbi Rasinah Abdul (Igit/Radar Lombok)

Kumbi kini lebih teduh dari tahun-tahun sebelumnya. Hasil hutan warga sekitar juga semakin melimpah. Tahun 2001 silam, sekelompok turis jepang memulai menanam pohon, mengisi lahan-lahan tandus akibat pembalakan liar. Kini tinggal menanti komitmen pemerintah daerah untuk menjaga dan melestarikannya demi anak cucu.

 

 


Rasinah Abdul Igit_LOBAR


 

Kumbi dulunya masuk wilayah desa Lembah Sempage, desa paling utara dan sekaligus desa pinggiran hutan di kecamatan Narmada. Setelah pemekaran, dusun ini menjadi wilayah Desa Pakuan. Ada nuansa keteduhan setelah memasuki jalan tanah menuju kampung berpenghuni lebih dari 200 Rumah Tangga (RT) ini.“ Dulu disini tandus. Jangankan di bagian atas, hutan dekat perkampungan saja banyak yang ditebang. Tapi syukur banyak kelompok masyarakat yang datang menanam,” ungkap Amaq Sah (60), warga asli setempat, saat diajak ngobrol beberapa hari lalu.

Hutan kumbi termasuk Hutan Kemasyarakatan (HKm) seluas sekitar 3.300 hektar. Sejak puluhan tahun hutan ini dikelola oleh masyarakat dari empat desa utama yakni Sesaot, Pakuan, Lembah Sempage dan Sedau dengan luas garapan antara 2 hektar hingga 15 hektar. Jika masuk lewat dusun Kumbi, ada semacam terminal sebelum menanjak memasuki lahan. Disini terpampang prasasti kerjasama antara Pemda Lombok Barat dengan OISCA SHIKOKU, lembaga nirlaba asal Jepang yang fokus kepada penyelamatan lingkungan. Pada papan yang lain tertulis bentuk program penghijauan tahun lengkap dengan jenis-jenis pohon yang berhasil ditanam dan tumbuh. Saban hari, tempat ini dipenuhi oleh buah-buahan hasil hutan yang siap diangkut ke pasar terdekat. Yang mendominasi saat ini adalah durian, manggis dan pisang.

[postingan number=3 tag=”features”]

Ada jalan tembus hutan yang bisa dilalui kendaraan roda dua. Sekitar dua kilometer menyusuri jalan, ada kali yang langsung bersumber dari mata air pengkoak, salah satu mata air yang masih aktif. Tidak jauh dari mata air ada tempat persembahyangan ummat Hindu. Menurut cerita warga kumbi, rusa hutan masih banyak areal ini. “ Dengan hasil hutan seperti durian, pisang, papaya, sebenarnya sudah cukup menghidupi warga kami. Yang datang menebang pohon itu orang-orang luar,” ungkap Man (45) warga lainnya.

Pembalakan liar selalu menjadi ancaman, serapi apapun warga sekitar menjaga hutannya. Pencuri kayu kian berani. Mereka melakukan penebangan tidak lagi siang hari, melainkan malam hari. Potongan kayu juga tidak dikeluarkan melalui jalur umum, melainkan jalur-jalur khusus yang sengaja dibuat. “Selain dari warga, komitmen penjagaan hutan harus datang dari pemerintah daerah. Bekerjasama dengan para penggiat lingkungan sejak lama, masyarakat kami sadar betul pentingnya hutan,” ungkapnya.

Di dalam hutan, koran ini berpapasan dengan enam orang penggila motorcross memacu kendaraannya. Jalan tanah yang becek sehabis diguyur hujan menjadi tantangan tersendiri. Tidak jelas kemana arah mereka setelah sampai di persimpangan ketiga sekitar 5 kilometer dari pemukiman.

Hutan kumbi mulai ramai menjadi tujuan wisata alternatif setelah pemda Lombok Barat membangun jalan hotmix berkilo-kilo meter. Dulu, infrastruktur jalan mulai dari  pemukiman terluar Desa Sesaot menuju Lembah Sempage dan selanjutnya tembus ke Desa Keru sangat buruk. Kondisi ini menyebabkan wisatawan hanya sampai hutan Aik Nyet setelah melewati Taman Suranadi. Wisatawan yang gemar menjelajah alam kini memiliki banyak pilihan jalan, termasuk menggunakan jalur kumbi. Sarana yang dirasa masih kurang hanyalah pusat lapak pedagang. Hal ini akan akan hidup dengan sendirinya jika kedatangan wisatawan makin banyak. Kumbi kini sedang menggeliat. Hutannya mulai menghijau. Diperlukan komitmen kuat seluruh elemen untuk menjaga hutan ini tidak lagi menjadi mangsa pembalak.(*)