Serpihan Sejarah Datu Gangga Lombok Utara dalam Jejak Ingatan Warga

BUKTI SEJARAH: Amiq Supardi sebagai salah satu keturunan Kedatuaan Gangga memperlihatkan bukti sejarah dari peninggalan Kedatuaan Gangga yang masih tersimpan dari turun temurun. (HERY MAHARDIKA/RADAR LOMBOK)

Tebalnya dinding sejarah serta dalamnya kuburan masa lalu membuat suatu perstiwa kadang lekang dikikis usia. Pun demikian halnya dengan sejarah kedatuan atau kerajaan di Pulau Lombok. Beragam versi diutarakan para sejarawan, tapi semuanya tetap mengacu pada sumber literatur sebagai dasar keyakinan.

_______________________________

HERY MAHARDIKA-LOMBOK UTARA

_______________________________

 

GANGGA dulunya dikenal sebagai salah satu kerajaan di Pulau Lombok. Berbagai literatur sudah menyebutkan Lombok Utara menjadi salah satu pintu masuk penyebaran agama Islam di Pulau Lombok. Salah satu penyebar agama Islam yang berasal dari Irak bernama Syeikh Sayid Abdurrahman Arabian. Sang Syeikh kemudian mengubah namanya menjadi Aliyah Penagarang Keling. Dia mendirikan Kedatuan Gangga, sekarang terletak di Dusun Kertaraharja Desa Genggelang Kecamatan Gangga.

Menelusuri peninggalan Kedatuan Gangga setidaknya harus menempuh jarak sekitar 30 menit dari Tanjung, pusat ibu kota Lombok Utara. Setiba di Mako Polres Lombok Utara, pengunjung harus naik lurus ke arah selatan yang melewati perkebunan buah-buahan yang dulunya adalah hutan belantara. Jalur ini sekaligus untuk lebih mudahnya ke jalur air terjun Kertaraharja.

Setiba di lokasi ini, pengunjung cukup menanyakan kepada masyarakat sekitar bertemu perihal tujuan. Nantinya akan diarahkan kepada salah satu keturunan dari Datu Gangga yang tidak jauh dari jalan beraspal. Salah satu keturunan yang mengetahui sejarah itu bernama Amiq Supardi.

Setelah mengetahui tujuan wartawan ini, Amiq Supardi pun menceritakan sejarah dari Kedatuan Gangga. Berawal Syeikh Sayid Abdurrahman Arabian diutus secara tiba-tiba berdakwah ke Lombok. Pada awal-awal masuk ke Lombok, Syeikh Sayid Abdurrahman Arabaian berkhalwat di Gunung Rinjani sebelum meletus, kira-kira lima kilometer dari Gunung Sidakala yang sekarang menjadi Gunung Samalas.

Dari berkhalwat itu mendapatkan petunjuk untuk membuat sistem pemerintahan kedatuaan. Dari petunjuk itulah kemudian langsung mendirikan Kedatuaan Gangga sekitar abad ke-7. “Syeikh Sayid-lah yang menjadi datu pertamanya yang kemudian mengubah namanya menjadi Aliyah Penagarang Keling,” tutur Amiq Supardi.

Kedatuaan Gangga pernah ada kunjungan dari raja Dinasti Tang, sebuah kerajaan asal Tiongkok yang menggantikan Dinasti Siu. Dinas Tang sendiri berdiri sekitar tahun 618-690 masehi. Kerajaan Gangga juga sempat dikunjungi raja dari India dalam kunjungan bilateralnya.

Dalam kunjungan bilateralnya itu, diajak berkunjung ke Batu Tunjang di Desa Rempek (sekarang). Kemudian ke Barat Ngadang di Dusun Orong Kopang Desa Medana (sekarang), kemudian wilayah barat Orong Tupu tengah di Dusun Orang Ramput Desa Sigar Penjalin, lalu ke Haputuning (Orong Boroma Desa Sigar Penjalin), Bayu Rumangsang (Sigar Penjalin).

Dari kunjungan bilateral itu terdapat berbagai peninggalan hadiah yang diberikan para raja dari India dan Tiongkok. Seperti baskom, cawan, bahan keramik yang ditemukan pada saat penggalian di bekas istananya. “Cerita ini terdapat dalam lontar ditulis kunjungan bilateralnya,” jelasnya.

Daerah kekuasaan Datu Gangga pada waktu dari timur kokoh segara sampai ke Tanjung Teros-Lombok Timur. Sementara dari barat kokoh segara sampai Jerowaru-Lombok Timur diserahkan kepada menantunya Raden Mas Pahit, seorang keturunan Kerajaan Majapahit Jawa yang menikah dengan salah satu anaknya bernama Janjak Sartika Dewi. “Makanya dikenal orang tua dulu, timur kawat (Datu Gangga) dan barat kawat (Datu Bebekek),” terangnya.

Dikatakan, Datu Gangga termasuk kedatuan tertua di Pulau Lombok. Dari sinilah antara pernikahan Raden Mas Pahit dan Jenjak Sartika Dewi pertama kali muncul Raden di Lombok.

Seiring perkembangan zaman bergantilah kedatuaan Gangga sampai 30 kali berganti. Lalu, sekitar abad ke-17 atau 18 datanglah Kerajaan Karang Asem-Bali yang menjajah Lombok. Pada saat itu seluruh istana Kedatuaan Gangga dirusak oleh kerajaan Karang Asem yang dibantu oleh penjajah tentara Belanda. Karena Kedatuaan Gangga yang diincar sebab terkuat yang bisa mengendalikan Kedatuaan Bayan, Kedatuaan Selaparang.

Namun, di kala itu Kedatuaan Gangga lebih memilih menghindar daripada melawan pasukan Kerajaan Karang Asem dan Belanda. Sebab, menurut keyakinan mereka di kala itu, saling membunuh itu dilarang agama, tidak ingin mempertahankan harta dan tahta tersebut. “Untuk menghindar dari itu, mereka memilih menghilangkan diri dengan memberikan batas secara gaib sehingga sekarang tempat mereka disebut Kampung Besari (kampung orang-orang yang sabar). Sekarang sudah tidak orang, hanya beberapa tempat peninggalan yang masih,” tuturnya.

Kerap orang pergi ke sana dalam keadaan tidak sadar, dikira masih ada kampung namun nyatanya sudah tidak ada. Sekarang pun masih ada orang yang berkhalwat di areal tersebut. Sebab, Datu Gangga yang pertama merupakan waliyullah. “Beliau ingin betul-betul damai supaya saling menghargai, supaya tidak saling bunuh-membunuh. Makanya di Lombok Utara sampai sekarang alhamdulillah masih aman dan terhindar dari peperangan meskipun ada agama Hindu dan Budha. Mereka bukanlah orang biasa, mereka para waliyullah yang berpegang teguh kepada Alquran dan Alhadist. Pesan moral yang hendak menjadi pembelajaran dari Kedatuaan Gangga yang menghilangkan diri ialah tetap menjaga kekompakan, tidak boleh pecah belahh antar sesama manusia. Itulah pembelajaran yang berharga,” imbuh Amiq Supardi kini menjadi guru madrasah.

Setelah menghilangnya Kedatuaan Gangga, ada salah satu yang dibiarkan tidak ikut sebagai penerusnya yang menjadi Datu Gangga yang ke-18 bernama Amiq Moya hingga berganti keturunan 30 kedatuan. Adapun peninggalan yang masih disimpan di museum mulai dari tombak prajurit, keris, rompi perang, lontar, pedang kedatuaan yang ditemukan hingga sekarang masih disimpan sebagai bukti sejarah. Termasuk juga kunjungan bilateral dari kerajaan di China dan Hindia tersebut. “Pelestarian peninggalan ini akan menjadi sejarah dan menjadi pembelajaran bersama bagi generasi sekarang,” imbuhnya. (**)