Sempat Tenggelam tapi Eksis Lagi Hingga 74 Tahun

KLASIK TAPI KEREN: Inilah musil tradisional Kalentang Serengat yang banyak digemari masyarakat sampai sekarang (M HAERUDDIN/RADAR LOMBOK)

Musik teradisional Kelentang sangat populer di era 1960-an. Biasanya musik tradisional tersebut sering digunakan oleh masyarakat Lombok, terutama suku Sasak untuk kegiatan adat.

 

 


M HAERUDDIN-PRAYA


 

DENGUNG suara gong dan tiupan seruling membuat suasana di acara pengukuhan lembaga krame adat Lombok Tengah, semakin menarik Kamis (10/11). Ratusan masyarakat memadati arena yang berpusat di Alun-Alun Tastura Praya, tersebut. Tak disangka musik tradisional Kelentang juga ikut memeriahkan acara tersebut.

Musik yang namanya cukup asing ini ternyata masih banyak peminatnya. Buktinya, hingga sekarang banyak masyarakat yang lebih tertarik melihat kesenian tersebut ketimbang kesenian lainya.

Musik tradisional Kelentang Serengat Selatan Kelurahan Perapen tersebut mampu menghipnotis warga di acara tersebut. Tak terkeculi kaum muda yang menontonya. ‘’Musik ini klasik tapi keren,’’ ungkap Fino, salah satu pemuda yang nonon musik tradisional tersebut.

Keberdaan alat musik tersebut sebenarnya tidak berjalan dengan mulus. Terlebih, saat ini masyarakat lebih senang menggunakan musik tradisional Gendang Beleq untuk acara adat. Bahkan, yang lebih ironisnya lagi bahwa banyak  masyarakat yang lebih senang menggunakan kecimol. ‘’Meskipun masyarakat banya menggunakan kecimol tapi kita harus tetap mempertahankan kesenian kita yang asli,” ungkap Ketua Musik Kelentang Serengat, Mamiq Isni.

Musik tradisional yang berdiri sejak tahun 1974 tersebut sebenarnya sudah sangat jarang diminati masyarakat. Bahkan pernah tenggelam selama beberapa tahun lamanya. Akan tetapi, dengan perjuangan yang terus dilakukan akhirnya membuat eksistensi kesenian tersebut bertahan hingga 74 tahun.

Keberadaanyapun saat ini sudah mulai disenangi kembali oleh masyarakat. Terutama untuk dipakai acara adat nyongkolan. Terlebih saat ini nyongkolan menggunakan Kecimol tidak jarang berakhir dengan perkelahian dan terkadang berujung konflik berkepanjangan. ‘’Kalau sekarang sudah bisa eksis kembali dan banyak masyarakat yang menyukainya,” tambahnya.

Musik yang memiliki alat seperti gong, saron, petuk, rencek dan suling tersebut memiliki personil sekitar 30 orang. Suaranya pun begitu nyaring, tidak ada konflik yang menghantui ketika mendengar suara tersebut. Namun yang ada hanyalah sebuah hiburan yang disenangi banyak orang. ‘’Kalau menggunakan musik ini tidak ada yang namaya perkelahian tapi yang ada hanyalah hiburan,” tambahnya.

Soleha Febrianti, salah satu penonton musik juga sependapat, sirinya sangat senang melihat musik yang bisa dibilang unik dan menarik tersebut. Dicertakan, ketika mendengar musik tersebut rasa nyaman untuk mendengarkanya terasa besar.

Lain halnya ketika menonton orang nyongkolan yang menggunakan Kecimol. Terkadang dirinya merasa takut bahkan was-was akan kerusuhan yang sewaktu-waktu menghantui para penonton. Karena setiap menonton kecimol, dia tidak jarang melihat perkelahian yang berujung dengan hilangnya nyawa. ‘’Kalau musik ini asli hiburan yang aman dan damai,” ungkapnya. (**)