Sempat Dilarang Menulis, Siapa Sangka Prestasi Mendunia

Sakina Aulia Marium (IRWAN/RADAR LOMBOK)

Melalui karya tulis ilmiah berjudul “Sang Milyarder Membangun Negeri”, Sakina Aulia Marium, pelajar SMP, kelahiran 24 Juli 2002 ini, ternyata berhasil membawa nama NTB di ajang internasional.

 

 


JANWARI IRWAN – LOTIM


 

KEGEMARAN menulis Aulia, sapaan akrabnya, ternyata sempat mendapat larangan dari orang tuanya. Namun remaja cantik asal Dusun Terara, Desa Terara, Kecamatan Sakra Barat, Kabupaten Lombok Timur (Lotim) ini tak pantang menyerah, dan niatnya untuk berkarya tidak pernah surut.

Aulia sendiri merupakan sosok anak yang pendiam. Namun dibalik itu, teryata dia sangat aktif ketika berada di dalam kelas. Terpilihnya dia menjadi perwakilan NTB dalam Nusantara Student Leadership Camp (NSLC) yang berlangsung sejak tanggal 21 hingga 25 Januari mendatang di Kuala Lumpur (Malaysia), tentu akan dijalani dengan mudah.

Keyakinan ini didasari dengan adanya bakat menulis yang telah dilakukan sejak dia masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Sehingga pada saat masuk sekolah SMP, bakat itu terus dikembangkan, meski orang tuanya sendiri pernah melarang.

“Jadi dia akan berangkat hari ini (Sabtu, red) menuju ke Universitas Indonesia (Jakarta) untuk mendapatkan pelatihan selama dua hari, dan akan berangkat dari UI pada hari Senin mendatang, untuk mempresentasikan karya tulis ilmiah yang ditulisnya itu,” ungkap Kepala SMP IT Dhiaul Fikri, Muhar, Minggu kemarin (22/1).

[postingan number=3 tag=”features”]

Dituturkan, Aulia sendiri terpilih menjadi perwakilan NTB dalam Nusantara Student Leadership Camp (NSLC) atau menulis karya ilmiah, melalui tulisannya yang berjudul “Sang Miliader Membangun Negeri”, setelah berhasil mengalahkan 43 peserta dari seluruh Indonesia. Dimana Aulia merupakan satu-satunya peserta yang berasal dari NTB.

“Jadi ini merupakan karya esai yang berjudul :Sang Miliader Membangun Negeri”, yang merupakan karya saya sendiri yang saya tulis selama tiga jam, atau kurang dari sehari,” ujarnya polos.

Dikatakan, inspirasi menulis dengan tema Sang Miliarder Membangun Negeri ini pertama kali muncul pada saat melihat poster pengumuman adanya lomba menulis karya ilmiah. Pada saat itu dirinya tergerak untuk menulis yang sesuai dengan persayaratan yang ada. ”Dengan dasar itu saya melihat di negeri ini banyak orang kaya, namun tidak mau membantu masyarakat sesamanya,” cetusnya.

Sebelum mewakili NTB ke ajang Nusantara Student Leadership Camp (NSLC), dia pernah menjadi perwakilan sekolah di tingkat kabupaten dalam lomba pidato, dan mendapat juara 2 tingkat Kabupaten Lotim.

Tak hanya menulis karya ilmiah dan pintar berpidato saja, anak yang masih berumur 15 tahun ini juga sering menulis cerita pendek (Cerpen), artikel dan biografi, yang kemudian di upload di Blog Sekolah atau media sosial. “Kalau Cerpen dan lainnya, saya hanya upload di Twitter, Facebook dan media sosial lainnya,” jelas Aulia.

Pada saat orang tuanya (ibu, red) melarang anak yang sangat penurut dan pendiam ini untuk tidak lagi menulis. Dia menyatakan kalau menulis merupakan dunianya, dan bakat yang harus dikembangkan. Sehingga dengan kata-kata itu ibunya kemudian menjadi sadar, dan akhirnya justeru mendukung.

Sementara Ibu Aulia, atau Inaq Lia ketika ditanyakan terkait itu menyatakan kalau dia bukan tidak mendukung anaknya menulis. Tetapi larangannya itu lebih pada anaknya yang masih kecil. “Saya tidak menolak. Tapi saya tidak sanggup melihat anak saya yang masih kecil, bekerja seperti orang yang sudah dewasa,” ungkapnya sambil meneteskan air mata.

Disampaikan, Aulia merupakan anak yang suka membeli buku. Namun buku-buku yang telah dibelinya itu sering tidak terurus. Hal ini juga yang memicu dirinya tidak senang melihat anaknya menjadi penulis. ” Saya tidak pernah melarang dia membeli buku, kalau dia bisa menjaga buku-bukunya. Ini buku-buku yang dibelinya setiap hari, semuanya hilang,” jelasnya.

Namun dengan torehan prestasi menulis yang kini diraih oleh buah hatinya itu, Inaq Lia tidak dapat berkata apapun, dan hanya bisa menangis, serta bangga melihat apa yang telah didapatkan anaknya tersebut. “Saya ini tidak punya apa-apa, jadi bapaknya yang pontang-panting mencari dana demi anaknya yang akan berangkat mewakili NTB,” tuturnya seraya menyampaikan pula bantuan sekolah, dan tentu saja pihak UI. (*)