Selly-Manan Pastikan Ketersediaan TPU dan Kebun Binatang di Mataram

PASLON:Bakal Calon Walikota Mataram Hj Putu Selly Andayani memberi makanan aneka jenis burung dirumahnya , di Jalan Panji Masyarakat , Kota Mataram. (ist for radarlombok.co.id)

MATARAM-Masalah perkotaan bukan hanya berhadapan pada penataan ruang dan pemukiman semata. Soal Tempat Pemakaman Umum (TPU) juga lambat laun akan menjadi kendala bersama.

Susutnya lahan akibat alihfungsi dan semakin banyaknya kompleks pemukiman dan perumahan baru membuat masalah TPU perlu menjadi perhatian.

Bakal Calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Mataram Hj Putu Selly Andayani dan TGH Abdul Manan (Selly-Manan) menjadikan masalah TPU ini sebagai salah satu prioritas pembangunan Kota Mataram.

Selly Andayani menegaskan, dalam hal memimpin bukan cuma mengurus soal hidup dan urusan dunia yang fana. Namun juga menunaikan tanggung jawab manakala warga berpulang ke hadirat Yang Kuasa.

Itu sebabnya, Selly selalu risau, manakala datang kabar padanya, ada warga sebuah kompleks perumahan tak diberi tempat untuk dimakamkan di perkampungan masyarakat yang terdekat.

Belakangan dalam hampir satu dekade ini, pengembangan kompleks perumahan di Kota Mataram memang dibangun minus ketersediaan fasilitas tempat pemakaman bagi warganya.Akhirnya warga kompleks yang meninggal dunia harus dimakamkan di TPU pemukiman perkampungan.

Selama ini, pada Tempat Pemakaman Umum (TPU) Karang Medain menjadi satu-satunya lokasi pemakaman bagi warga kompleks perumahan. Terutama bagi warga Kota Mataram yang berasal dari luar daerah. Tapi, TPU karang Medain kini pun sudah hampir penuh. Hanya tersisa sisi ruang di bagian tengah.

Kondisi ini dilihat Selly Andayani saat nyekar dan berdoa di TPU Karang Medain, Rabu (12/8/2020). Penjabat Wali Kota Mataram tahun 2015 ini melihat langsung bagaimana area pemakaman ini akan penuh dalam hitungan tahun.

“Harus ada solusi TPU jika di Karang Medain ini penuh. Ini jadi salah satu prioritas Selly-Manan,” katanya.

Ia memaparkan, seperti halnya warga yang hidup memerlukan rumah, mereka yang telah berpulang juga memerlukan rumah pula. Bagi Selly, pemakaman adalah “rumah masa depan” bagi semua kita.

“Seperti firman Allah. Sesungguhnya setiap yang berjiwa, akan merasakan mati,” kata perempuan berhijab ini menukil Ayat Suci Alquran.

Sehingga menjadi kewajiban mereka yang hiduplah yang menyiapkan “rumah masa depan” tersebut.

Namun, manakala tidak kunjung memadai, maka kata Selly, pemerintahlah yang harus berada di garis depan.

Selly menegaskan, jika dirinya bersama TGH Abdul Manan mendapat amanah dari masyarakat Kota Mataram, maka tanggung jawab menyiapkan pemakaman umum yang memadai itu akan diambil sepenuhnya oleh pemerintah. “Insya Allah, Tempat Pemakaman Umum adalah salah satu prioritas kami,” tandasnya.

Dalam desain yang disiapkan, Selly ingin solusi pemakaman untuk warga Kota Mataram tersebut bukan hanya untuk jangka pendek semata. Melainkan untuk jangka panjang. Sehingga soal TPU untuk masyarakat Kota Mataram ini bisa menjawab tantangan untuk sepuluh, bahkan dua puluh tahun yang akan datang.

Sebagai birokrat mumpuni yang lama bergelut dengan keuangan daerah, Selly tahu betul, bahwa mewujudkan pemakaman ini bukanlah hal yang sulit bagi Pemkot Mataram.

Ia menandaskan, pemerintah Kota Mataram bisa bersinergi dengan Pemerintah Provinsi untuk mewujudkan hal ini.

“Kuncinya ada pada niat dulu. Kalau sudah, pasti Allah akan menunjukkan jalannya. Allah akan memudahkan,” tandasnya.

Selain itu, para pengusaha properti di Kota Mataram juga akan diajak bicara. Agar setiap lokasi perumahan, selain menyiapkan ruang terbuka untuk warganya, juga perlu menyiapkan tempat ibadah dan juga pemakaman.

“Penyiapan ruang ibadah, dan pemakaman itu, tentulah akan menjadi ladang ibadah bagi para pengusaha, dan juga bagi pemerintah. Dan ini akan menjadi berkah bagi warga,” katanya.

Selain penyediaan TPU yang memadai, Selly-Manan juga akan berupaya mewujudkan impian generasi muda Kota Mataram akan hadirnya kebun binatang.

Menurut Selly, kebun binatang bisa jadi ada penanda sebuah kota yang maju. Kota-kota utama di Indonesia telah memilikinya. Bahkan, provinsi terdekat seperti Bali, memiliki dua kebun binatang dengan nama yang kesohor.

“Kami menyiapkan kebun binatang ini sebagai pusat edukasi untuk generasi muda,” kata Selly. Akan menjadi tempat penangkaran hewan-hewan langka. Hewan-hewan endemik dari Bumi Gora.

Selly mengatakan, banyak sekali anak-anak dan generasi muda Kota Mataram yang hanya tahu dan melihat aneka binatang cuma dari gambar atau tayangan televisi semata. Dia tak ingin tak ingin generasi milenial Mataram seperti itu.

“Anak-anak Kota Mataram layak mendapatkan lebih dari itu. Mendapatkan pengalaman yang jauh lebih berharga dalam hidupnya,” katanya.

Selly mencontohkan, gambar rusa sebagai lambang Provinsi NTB bisa jadi tidak semua generasi muda NTB pernah dan melihat langsung rusa tersebut. “Jangan sampai rusa-rusa itu hanya ada tertempel di baju-baju dinas saja,” katanya.

Pun misalnya musang yang merupakan binatang endemik dari Gunung Rinjani. Tak banyak generasi muda NTB yang tahu hal tersebut, dan pernah melihatnya secara langsung. Padahal, musang endemik dengan nama latin Paradok Saurus Rinjanikus tersebut hanya ada di NTB.

Rencananya, kebun binatang Kota Mataram itu disiapkan berlokasi di lahan eks Bandara Selaparang di utara Kota Mataram.

Kelak, jika hal tersebut mewujud, kebun binatang ini tak akan cuma menjadi pusat edukasi bagi warga Kota Mataram, namun juga bagi seluruh warga Bumi Gora.

Selain sebagai pusat edukasi bagi generasi muda Kota Mataram, kebun binatang tersebut juga pastilah akan menjadi pusat rekreasi. Hal yang tentu dibutuhkan oleh masyarakat Kota Mataram.

Di sisi lain, paparnya, keberadaan kebun binatang ini akan menjadi ruang terbuka hijau. “Sehingga akan menjadi salah satu paru-paru Kota Mataram. Yang akan memasok udara segar yang akan meningkatkan kualitas hidup warga Kota Mataram,” tukasnya.

Bagi Selly, memang mesti ada pembenahan terhadap tata ruang kota. Mataram haruslah memiliki taman ikonik. Taman yang akan menjadi ruang publik, tempat bertemunya warga.

Selly mengatakan, di sejumlah Kota di Indonesia ketersediaan taman dan ruang terbuka hijau menjadi hal yang sangat sulit diwujudkan. Namun, dia tak ingin hal tersebut terjadi di Mataram. Sebab, dari tamanlah, warga kota Mataram memulihkan pancaindera.

“Taman dan RTH ini menjadi wahana yang bisa menjadi tempat rekreasi, olahraga, dan menyegarkan atmosfir kehidupan bagi warga Kota Mataram,” katanya. (gt)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid
Berita sebelumyaAnggota DPRD Lotim Positif Corona
Berita berikutnyaMawar Emas Berbasis Masjid Siap Melawan Rentenir