Selly Kecewa Terhadap Ekspor NTB

KECEWA : Kadis Perdagangan Provinsi NTB, Hj Putu Selly Andayani mengaku kecewa dengan ekspor NTB karena tidak ada yang bisa dibanggakan, Rabu kemarin (5/4) (AZWAR ZAMHURI/RADAR LOMBOK)

MATARAM – Kepala Dinas Perdagangan Provinsi NTB, Hj Putu Selly Andayani mengaku sangat kecewa dengan perkembangan ekspor daerah ini.  Hal itu diungkapkannya dalam acara pengembangan daya saing pelaku usaha daerah berorientasi ekspor yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Kementerian Perdagangan (Kemendag) RI, Rabu kemarin (5/4).

Menurut Selly, tidak ada hal yang bisa dibanggakan dalam  ekspor NTB. Pasalnya, mayoritas produk ekspor merupakan barang tambang atau galian non migas. “Saya malas sebenarnya paparkan ekspor kita, tidak ada yang bisa dibanggakan. Memalukan kalau yang kita ekspor kebanyakan tambang milik AMNT (PT Amman Mineral Nusa Tenggara) saja,” ujarnya di hadapan pejabat Kemendag, kemarin (5/4).

[postingan number=3 tag=”ekspor”]

Kekecewaan Selly cukup beralasan. Dirinya yang baru menjabat Kadis Perdagangan mulai Januari lalu, berjanji akan melakukan berbagai terobosan untuk meningkatkan ekspor NTB. Namun tentunya produk-produk yang diekspor yaitu hasil karya para pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menegah (UMKM).

Nilai ekspor NTB akan langsung anjlok ketika PT AMNT tidak melakukan ekspor. Misalnya saja pada Februari 2017 lalu, nilai ekspor NTB turun 99,24 persen. Jika pada Januari 2017 nilai ekspor sebesar US$ 391.395, maka pada Februari lalu hanya US$ 51.624.474. “Ini karena produk UMKM yang diekspor cuma 1 persen, kebanyakan miliknya AMNT saja,” ungkap Selly.

Selama ini, beberapa kabupaten/kota memang telah melakukan ekspor. Namun jumlahnya tidak seberapa. Misalnya Kota Mataram, produk yang sudah ekspor atau merambah pasar dunia diantaranya mutiara, kulit kerang, cukli bunga dan buah kering.

Kemudian Lombok Barat ada produk gerabah, Lombok Utara produk kopi dan serabut kelapa. Begitu juga dengan di Lombok Tengah dan Lombok Timur, produk yang diekspor tidak jauh berbeda. “Banyak produk kita dikirim ke luar negeri, tapi terkadang mampir di Bali untuk proses finishing. Terus saat diekspor labelnya made in Bali, tidak dianggap produk kita,” kata Selly.

Selly sendiri sangat tidak setuju jika data ekspor Provinsi NTB dianggap surplus. Meskipun terjadi surplus, namun sebenarnya hanyalah semu. “Surplus apanya sih, semu semuanya itu.Tidak ada yang bisa kita banggakan,” ujarnya.

Kerap kali alasan pelaku UMKM sulit berkembang adalah permodalan. Padahal, banyak program pemerintah maupun swasta yang bisa diakses untuk modal pelaku UMKM. Contohnya saja Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL). “Saya sudah komunikasi dengan PT Angkasa Pura juga, mereka siap bantu kok,” ucap Selly.

Kepada para pelaku UMKM, Selly meminta untuk segera berbenah. Apabila ada kesulitan yang dihadapi, bisa langsung datang ke kantornya. Begitu juga ketika produk sulit dipasarkan, Selly siap berada di depan mencari solusi. “Pokoknya tahun 2017 ini harus ada perubahan, mumpung saya jadi Kadis Perdagangan. Karena biasanya saya tidak lama di satu jabatan, pokoknya kalau ada kendala datang saja ke saya,” kata Selly.

Di tempat yang sama, pejabat Kemendag RI, Bona Kusuma yang hadir dalam acara tersebut mengingatkan kepada Pemprov NTB dan pelaku usaha agar mampu memanfaatkan peluang. Pria yang pernah bertugas sebagai Wakil Ketua Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) Kemendag di Lagos, Nigeria itu menilai banyak peluang yang selama ini belum diambil.

Misalnya saja tujuan ekspor yang selama ini mengabaikan Nigeria. Menurut Bona Kusuma, Negara Nigeria seharusnya dijadikan sebagai tujuan ekspor. Jumlah penduduk Nigeria 180 juta jiwa dan tertinggi keenam di dunia, bisa menjadi pasar yang empuk. “Nigeria itu selama ini impor mutiara, pupuk organik, obat-obatan, furniture dan lain-lain. Produk NTB bisa masuk ke Nigeria, itu harus diupayakan,” sarannya. (zwr)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid