Selingkuh, Diusir dari Desa, Pria Ini Nyaris Dihakimi Massa

DIAMANKAN:Pria berinisal S warga Desa Pengembur Kecamatan Pujut saat diamankan di Polres Lombok Tengah karena kedapatan selingkuh, Minggu lalu (11/1) (Istimewa)

PRAYA — Seorang Pria berinisial S (29 tahun) warga Dusun Sepit Desa Pengembur Kecamatan Pujut Lombok Tengah diamankan polisi karena nyaris dihakimi massa.

Warga merasa geram setelah mengetahui S diduga selingkuh dengan seorang perempuan yang sudah mempunyai suami yakni D (21 tahun) warga Dusun Sinah, Desa Pengembur Kecamatan Pujut. Kasat Reskrim Polres Lombok Tengah, AKP I Putu Agus Indra menegaskan bahwa, peristiwa tersebut berawal dari suami D yang belum lama ini baru pulang dari Malaysia menemukan bukti rekaman percakapan mesra voice note antara D dengan S. Hal ini yang membuat hati suami D ini merasa hancur, karena merasa telah dikhinati oleh wanita yang ia cintai selama ini. “Hubungan terlarang antara D dan S ini terbongkar setelah suami D menemukan rekaman percakapan voice note di whatsapp antara D dengan S,” ungkap Agus Indra.

Hal itu memicu amarah suami D dan keluarganya. Bahkan, rumah beserta mobil dump truk milik S, sempat menjadi pelampiasan. Tidak berhenti disitu, S juga sempat dicari dan akan diamuk massa. Beruntung personel Polsek Pujut diback-up personel Polres Lombok Tengah dengan sigap langsung mengevakuasi S ke Mapolres Lombok Tengah. “S berhasil diamankan oleh personel menuju Polres. Namun rumah dan dump truk miliknya sempat jadi sasaran amarah keluarga suaminya D,”tegasnya.

Keluarga kedua belah pihak meminta bahwa permasalahan perselingkuhan tersebut, agar diselesaikan melalui hukum adat yang berlaku di Desa Pengembur. Tentunya dengan melibatkan tokoh masyarakat setempat, mengingat dari kedua belah pihak masih ada hubungan keluarga. “Permasalahan itu langsung diselesaikan secara hukum adat atau awik-awik desa,”tegasnya.

Alhasil, kedua pelaku perselingkuhan dikenakan denda adat berupa uang sebesar Rp 5 juta. Selain itu ada sanksi sosial yakni yang bersangkutan harus dikeluarkan dari Desa Pengembur seumur hidup. “Dari hasil musyawarah adat, disepakati bahwa yang bersangkutan sudah dikenakan denda adat dan sanksi sosial sesuai aturan hukum adat yang berlaku di Desa Pengembur,”tegasnya.(met)