Selama Seminggu, Museum NTB Pamerkan Naskah-naskah Kuno

NASKAH KUNO: Pengunjung terlihat antusias melihat koleksi naskah-naskah kuno yang dipamerkan Museum NTB, Selasa (30/11). (sigitsetyo/radarlombok)

MATARAM—Ketika masyarakat Suku Sasak di Pulau Lombok belum mengenal tulisan, tradisi literasi telah dilakukan melalui lisan, yang secara terstruktur dilakukan oleh para tetua di zamannya.

Dan tradisi lisan ini ternyata masih ditemukan di pelosok Lombok, yang masyarakatnya sendiri tidak bisa membaca aksara tradisi. Namun sangat memahami isi naskah-naskah kuno yang mereka simpan sebagai warisan leluhurnya.

“Karena itu, untuk membumikan kembali budaya literasi, membaca dan menulis naskah-naskah kuno yang ada di kalangan masyarakat Suku Sasak Lombok. Kami, Museum Negeri NTB kembali menggelar pameran temporer, yang kali ini mengusung tema “Tradisi Literasi Masyarakat Sasak Lombok”,” kata Kepala Museum Negeri NTB, Bunyamin, M.Hum, dalam laporan ketika pembukaan pameran, Selasa (30/11).

Pameran Temporer Tradisi Literasi Masyarakat Sasak Lombok, akan berlangsung selama seminggu, 30 November – 5 Desember 2021, yang berlangsung di Aula Museum NTB. Dimana pameran temporer ini merupakan pameran ke dua yang digelar di Museum NTB, untuk tahun 2021.

“Pertama adalah Pameran Wastra (kain tenun), dan kali ini yang ke dua Pameran Naskah Kuno, yaitu mengenal tradisi literasi masyarakat Lombok. Pameran ini sekaligus sebagai rangkaian peringatan HUT NTB, 17 Desember mendatang,” jelas Bunyamin.

Karena tema utamanya adalah tentang budaya iterasi masyarakat Sasak Lombok, maka benda-benda yang dipamerkan juga terkait dengan literasi, yakni naskah-naskah kuno yang menjadi koleksi Museum NTB, dari berbagai periode.

“Benda naskah-naskah kuno baik yang ditulis diatas daun lontar, bilah bambu, maupun kertas yang dipamerkan, disusun berdasar sejarah perjalanan masyarakat Lombok. Mulai dari Tradisi Lisan ke Tradisi Tulisan, Mengenal Aksara, Tradisi Jawi (Arab Melayu), Tradisi Kawi, Tradisi Mengkawinkan Naskah Melayu, dan Tradisi Pepaosan,” ujar Bunyamin.

BACA JUGA :  Lestarikan Naskah Kuno, Museum NTB Gelar Kelas Filologika
NASKAH KUNO: Salah satu naskah kuno yang ditulis diatas daun lontar, dengan aksara Kawi (Jawa Kuno), yang dipamerkam di Aula Museum NTB. (sigitsetyo/radarlombok)

Penyusunan koleksi pajang itu dilakukan untuk memudahkan para pengunjung memahami naskah-naskah kuno yang dipamerkan.

“Seperti tradisi tulisan, masyarakat Sasak (Lombok) mengenal dua jenis Aksara sekaligus, yaitu Aksara Jawi/Pegon (Arab Gundul, atau Tanpa Tanda Bunyi) dan Aksara Kawi (Era Jawa Tengah-an), yang masuk dibawa oleh para pendakwah Agama Islam dari Jawa dan Melayu,” jelas Bunyamin.

Secara sosial sambung Kepala Museum NTB, untuk naskah-naskah kuno yang beraksara Kawi berkembang di Lombok bagian selatan dan utara. Sementara untuk aksara Jawi/Pegon berkembang di wilayah Lombok bagian tengah.

“Selanjutnya secara kultural, dari pengenalan dua jenis aksara ini kemudian melahirkan dua jenis literasi, yaitu tradisi Kitab (Jawi/Pegon), dan tradisi Takepan (Kawi),” terang Bunyamin.

Pengenalan masyarakat Lombok terhadap aksara Jawi/Pegon atau Arab Melayu, melahirkan tradisi penulisan kitab oleh para ulama terdahulu, baik meggunakan Bahasa Sasak, Melayu, dan Arab.

“Tradisi penulisan kitab inilah yang kemudian melahirkan tradisi membaca Hikayat, seperti Hikayat Maulid, Hikayat Mi’raj, Hikayat Nabi Yusuf, dan lainnya,” beber Bunyamin.

Demikian pengenalan masyarakat terhadap Aksara Kawi (Jawa Kuno), juga telah melahirkan tradisi membaca dan menulis, yang dapat dibuktikan dengan banyaknya ditemukan naskah Takepan berbagai jenis.

Untuk jenis naskah Takepan, hingga kini masih banyak yang beredar dan dimiliki masyarakat. Pihak Museum NTB sendiri memiliki 2700 koleksi, seperti Serat Menak (Babon Pewayangan Sasak), Kawitan (Turunan Serat Menak seperti Rengganis dan Nursiwan), Bangbari, Junglengga, Guritan (karya roman) seperti Puspakerma, Labangkara, Jatiswara, Indarjaya, Megantaka, dan lainnya.

BACA JUGA :  Museum NTB Gelar Lomba Melukis Ritual Budaya

Selanjutnya juga naskah berisi ajaran Suluk seperti Markum, Unduk, Bayan Alip, Suluk Kadam Sarak, dan lainnya. Kemudian cerita rakyat seperti cerita Panji, Babad atau cerita sejarah seperti Babad Suwung, Babad Lombok, Babad Praya, Babad Sakra, dan lainnya. “Juga ada naskah kuno berisi tentang pengetahuan perbintangan dan pengobatan (Husada),” jelas Bunyamin.

Sementara Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan NTB, Julmansyah, S.Hut. M.Ap, yang diberikan kehormatan untuk membuka kegiatan pameran, dalam sambutan menyampaikan bahwa antara Museum Negeri NTB dan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan NTB, bagaikan dua sisi mata uang, sangat dekat.

“Kalau Museum NTB menyimpan dan mengarsipkan benda-benda bersejarah seperti naskah kuno atau lontar, maka Dinas Perpustakaan dan Kearsipan juga menyimpan dan mengoleksi buku-buku atau tulisan tentang naskah kuno yang telah diterjemahkan dan dibukukan,” ujarnya.

“Memang kalau di NTB, kami belum memiliki koleksi buku-buku tentang naskah kuno ini. Baru di Perpustakaan Nasional di Jakarta, dan kalau di daerah adalah Perpustakaan Kabupaten/Kota, seperti di Perpustakaan KLU dan Kota Mataram misalnya, yang banyak menyimpan dan mengoleksi naskah-naskah kuno,” tutur Julmansyah.

Namun ke depan, sambungnya, bukan tidak mungkin Dinas Perpustakaan dan Kearsipan NTB juga akan menyimpan serta mengoleksi naskah-naskah kuno, yang keberadaannya kini selain ada di Museum NTB, juga masih lebih banyak lagi yang dimiliki atau dikoleksi pribadi masyarakat NTB, khususnya Lombok. (gt)