Sekolah Semakin Dikepung Iklan Rokok

TURUNKAN: kalangan pelajar di Kota Mataram menurunkan spanduk iklan rokok dan menggantinya spanduk berisi pesan positif. (NASRI/RADAR LOMBOK)

MATARAM—Yayasan Galang Anak Semesta (Gagas) Foundation mengungkapkan kekhawatirannya dengan fenomena makin maraknya iklan rokok. Iklan-iklan ini bahkan dinilai sudah kian mengepung keberadaan sekolah-sekolah yang ada di Kota Mataram.

Ketua Gagas Foundation, Azhar Zaini mengatakan, fenoma seperti ini sudah berlangsung sejak 2015t lalu. Di tahun itu, Kota Mataram mulai marak dengan persebaran iklan rokok.

“Padahal Pemerintah Kota Mataram sudah mencanangkan diri menjadi Kota Layak Anak (KLA) di tahun 2018 mendatang. Semestinya dari sekarang ketegasan Pemkot harus terlihat,” ungkapnya, Senin (20/2).

[postingan number=3 tag=”rokok”]

Parahnya dari banyak persebaran iklan rokok tersebut, tidak sedikit yang berada dekat dengan sekolah. Tragisnya, iklan-iklan ini berada tidak jauh dari sekolah jenjang SMP dan SMA.

Azhar mengira persoalan ini sangatlah gawat dan harus dalam kondisi sigap. Pihaknya tidak ingin iklan rokok yang massif itu kian merajalela. “Anak usia sekolah sudah dijadikam target oleh iklan-iklan rokok itu,” ucapnya.

Ia lantas membeberkan, startegi iklan rokok untuk menciptakan konsumen baru yakni, sengaja meletakkan iklan rokok di sekitar sekolah. Seperti hasil data dan monitoringnya di 5 kota semisal Mataram, Makassar, Padang, Jakarta dan Bandung tahun 2015, ditemukan 85 persen sekolah di Indonesia Dikepung iklan rokok yang diletakkan di warung atau kios sekitar sekolah.

Kemudian strategi selanjutnya adalah pihak perusahaan sengaja menjual rokok dengan harga yang bisa dijangkau para pelajar atau remaja. Perusahaan juga menyuguhkan iklan rokok dengan harga per biji. 

Dengan harga per biji yang tertera, anak-anak akan dengan mudah untuk membelinya. Strategi lainnya, adalah, perusahaan rokok menyediakan dana untuk meletakkan iklan-iklan di sekitar sekolah dan kemungkinan besar iklan tersebut tidak membayar pajak.

“Seperti halnya pengalaman di Kota Padang, Bekasi, Bogor dan Tanggerang Selatan. Rata-rata mereka tidak bayar pajak,” sebutnya.

Adapun perkembangan selanjutnya pada tahun 2016 lalu, Gagas Foundation Mataram bersama Lentera Anak Jakarta dan Ruandu Foundation Padang melakukan monitoring kembali di 5 kota. Kelima kota yang dimonitir yakni, Mataram, Padang, Bekasi, Tanggerang Selatan dan Bogor.

Dari monitoring tersebut, ada sebanyak 61 merk perusahaan rokok yang berkeliaran mengepung sekolah. Gerakan massif yang dilakukan perusahaan rokok itu sangat membahayakan generasi bangsa.

Katanya, berdasarkan Permendikbud no 64 tahun 2015 mempertegas tentang aturan dan larangan merokok. Dalam pasal 5 Permendikbud Nomor 64 tahun 2015 tentang Kawasan Tanpa Rokok di Lingkungan Sekolah.

Melihat kondisi ini, tepatnya pada awal tahun 2017 saat ini pihaknya mengajak 30 sekolah bahkan sudah bergerak di Kota Mataram untuk mengampanyekan dengan istilah tagar Tolak Jadi Target (#TolakJadiTarget). Dimana para pelajar, guru dan masyarakat sekitar melawan taktik curang perusahaan rokok dengan berbagai aksi. Salah satunya dengan menurunkan iklan rokok yang ada di sekitar lembaga pendidikan.

Saat ini sudah ada sekitar 22 sekolah di Mataram berhasil menurunkan iklan rokok di sekitar sekolah. Iklan tersebut diganti dengan spanduk berisi pesan positif yang dibuat para pelajar. (cr-rie)

BACA JUGA :  Kisah Polisi Pahlawan Pendidikan yang Diundang ke Istana Negara