Sekolah Harus Utamakan Kejujuran

Ilustrasi.

MATARAM –  Ujian Nasional (UN) untuk jenjang Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dilaksanakan serentak mullah hari ini (3/4) hingga Kamis (6/4).

Berdasarkan data terakhir dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) NTB, ternyata  dari 258 Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di NTB yang mengikuti Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) sebanyak 201 SMK atau 92,75 persen. Hanya 57 yang tidak melaksanakan. “Hampir 100 persen SMK kita yang menggunakan UNBK di NTB,” Kata Kabid Pembinaan SMK Lalu Hasbulwadi Sabtu lalu (1/4).

Dijelaskannya, kalau dilihat dari jumlahnya memang hanya sepertiganya saja yang tidak ikut UNBK. Hal ini bisa terjadi disebutnya, dikarenakan oleh keberanian dan tanggung jawab SMK itu sendiri.  Dia berharap pelaksanaan UNBK ini berlangsung dengan lancar.

Terpisah Kepala SMKN 3 Mataram sekaligus Ketua MKKS SMK Kota Mataram Umar mengatakan,  di Kota Mataram sendiri  tahun ini, hanya beberapa SMK saja yang tidak menggunakan UNBK.

[postingan number=5 tag=”UNBK”]

Dari 21 SMK di Kota Mataram baik swasta dan negeri hanya 3 yang tidak melaksanakannya.Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy mengimbau semua pihak untuk mengutamakan kejujuran. ”Saya imbau sekolah jauhkan praktek kecurangan dan utamakan kejujuran dalam penyelenggaraannya,” katanya melalui keterangan resmi Minggu kemarin (2/4).

Pengamat pendidikan dari UIN Syarif Hidayatullah Jejen Musfah mengatakan bahwa imbauan Mendikbud untuk mengutamakan kejujuran sangat beralasan. Menurutnya, selama ini, ujian nasional kerap diwarnai kecurangan. Bukan hanya dilakukan oleh siswa dan orang tua. Tetapi juga oleh guru, kepala sekolah, bahkan para pengawas ujian. ”Saya sepakat dengan Pak Menteri. Kejujuran itu memang mudah diucapkan. Tapi berat untuk dilakukan,” katanya.

Saking selalu terciderai kecuangan, Jejen menyarankan Kemendikbud bekerja sama dengan Komisi Pemberantas Korupsi (KPK) untuk terus menggaungkan kejujuran. ”Ini ritual tahunan yang enggak pernah sepi dari praktik kecurangan,” ungkap Jejen.

Kecurangan ini juga dikatakan Jejen bisa terjadi pada UN SMK yang tengah berlangsung. Terlebih, sistem ujiannya sudah berbasis komputer. Ini, kata Jejen, malah makin membuka peluang orang untuk bisa mencuri soal dengan mudah. Karena bersifat online dan disimpan di sistem komputasi awan, peluang untuk dijebolnya jadi lebih besar ketimbang soal yang berbasis kertas.

”Online itu lebih mudah. Lebih rawan karena bisa diakses oleh siapa saja. Saya pikir, Menteri perlu berpesan kepada hacker untuk jangan menggunakan kemampuannya untuk memperkaya diri. Teritama dengan membobol soal ujian,” terangnya.

Hal agak berbeda dilontarkan Mansur, pengurus Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI). Alih-alih mengkhawatirkan akan terjadi kecurangan, Mansur lebih menggarisbawahi kematangan persiapan. ”Dalam UNBK ini, yang harus diperhatikan betul adalah alatnya. Yakni komputer atau laptop, listrik, dan sambungan internet. Kalau semuanya aman, UN akan berjalan lancar,” tuturnya.

Mansur menambahkan, saat ini, tidak semua alat merupakan inventaris sekolah. Ada yang meminjam dari siswa, ada juga yang meminjam dari sekolah lain. Sehingga kondisinya akan berbeda. ”Bisa saja terjadi masalah teknis di tengah ujian. Itu yang harus diperhatikan,” katanya.

Terkait kebocoran soal, Mansur yakin dengan sistem berbasis komputer ini, kebocoran soal akan minim terjadi. Menurutnya, dengan sistem tersebut, soal baru bisa dibuka lima menit sebelum ujian dimulai. Dengan begitu, kebocoran akan sulit terjadi. ”Lagi pula, tiap siswa dengan komputernya masing-masing akan dapat soal yang berbeda. Kemungkinannya kecil sekali (untuk bocor),” terangnya. (cr-rie/and)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid