Sebelum Gugur, Praka Dedi Hamdani Berencana Pulang Menikah

Pratu Dedi Hamdani (IST/RADARLOMBOK)

PRAYA – nJenazah Prajurit TNI Praka Dedi Hamdani dimakamkan di tanah kelahirannya di Desa Pelambik Kecamatan Praya Barat Daya Kabupaten Lombok Tengah, Minggu (24/1).

Praka Dedi Hamdani gugur setelah ditembak Kelompok Sparatis Bersenjata (KKSB) OPM di Kampung Titigi Distrik Sugapa Kabupaten Intan Jaya Papua, Jumat (22/1) lalu. Sebelum meninggal, banyak kenangan dan firasat yang ditinggalkan korban kepada keluarga.

Jenazah Praka Dedi Hamdani tiba di kediamannya sekitar pukul 16.27 Wita, Minggu (24/1). Mobil ambulans yang membawa jenazah kemudian dipadati warga yang ingin melihat jenazah pria kelahiran 30 September 1995 itu. Isak tangis tak terbendung dari warga dan kelaurga ketika dibawa ke rumah duka.

Sarmiati dan Mudin orang tua mendiang Praka Dedi Hamdani itu beberapa kali pingsan lantara kuasa membendung dukanya. Baik Sarmiati maupun Mudin masih seolah tak percaya anak sulungnya itu telah tiada. Apalagi, sulung dua bersaudara itu merupakan tulang punggung keluarganya selama ini.

Mudin menuturkan, anaknya memang sering menelepon keluarga untuk menanyakan kabar. Sebaliknya, keluarganya di rumah jarang sekali bisa menghubungi Dedi Hamdani karena di tempat tugasnya lemah sinyal. “Saya bicara kepada dia (Dedi Hamdani, red) kenapa ketika saya nelepon tidak bisa, terus dijawab tidak ada sinyal. Kalau nelepon, dia selalu menanyakan kabar,” tutur Mudin, Minggu kemarin (24/1).

Rencananya, almarhum dalam waktu dekat ini akan cuti dan pulang untuk menikah. Almarhum akan menikah dengan seorang gadis asal kampungnya yang sudah lama dipacarinya. “Sebelumnya saya ada firasat. Saya mimpi buah kelapa di depan rumah berjatuhan,” tutur Mudin.

Dedi dikenal ramah selama hidupnya. Dia juga sudah lama bercita-cita menjadi seorang prajurit. “Dulu saat lamar tentara, saya yang antar dan ini memang cita- citanya. Ini sudah ketiga kali. Pertama lamar polisi tapi gugur dan lamar tentara gugur juga. Baru ketiga dia melamar dan dapat,” ceritanya.

Meski almarhum adalah tulang punggung keluarga tapi almarhum sudah membeli tanah dan membangun rumah yang akan ditinggali bersama calon istrinya. “Anak saya kelahiran 1995 dan jadi tentara sudah lama. Awalnya tugas di Solo,” terangnya.

Sarmiati mengaku sangat sedih ketika mengetahui anaknya sudah tiada. Yang membuat dirinya sedih, karena pada Kamis malam (21/1) almarhum tiga kali menelepon dirinya. Saat itu, dia sempat tidak mengangkat telepon almarhum, karena sedang salat Maghrib di musala. “Dia menelepon tapi saya sedang salat di musala. Saat tiba di rumah, saya mencoba menelepon balik tapi ponsel almarhum sudah tidak aktif,” katanya.

Pada Jumat (21/1), Sarmiati mendapat kabar bahwa sang anak telah gugur saat bertugas. Inilah yang membuat hatinya menjadi sedih, karena harus kehilangan anak yang ia banggakan ini. “Dia (almarhum) banyak kasihan sama orang. Waktu tugas di perbatasan Timor-Timor juga sering membagikan makanan kepada kawan- kawannya,” terangnya.

Sarmiati merasa bersyukur dan bangga memiliki anak seperti almarhum. Terlebih meski almarhum bekerja, tapi almarhum tidak pernah lupa ibadah puasa. “Bahkan pernah diberikan makanan sama komandannya tapi dia bilang sedang puasa. Dia cerita pausa Senin-Kamis, alhamdulilah saya bersyukur anak saya seperti itu, penurut dan baik,” katanya dengan mata berkaca-kaca.

Almarhum kini memiliki pangkat Prajurit Kepala Anumerta dengan jabatan Taban Cuk-1 RU-3 Ton Morse Kibant, Kesatuan Yonif Raider R-408/Suhrastha Dam IV/DIP. Almarhum telah mengenyam pendidikan dari SD lulus tahun 2008, MTs lulus tahun 2011 dan SMA lulus tahun 2014 dan dan langsung masuk militer secata Milsuk tahun 2017.
Almarhum dilahirkan di Desa Pelambik 30 September 1995. Ia merupakan anak pertama dari dua bersaudara dari Muhdin dan Sarmiati. (met)