Savana Bale Tepak Ancam Kelestarian Bendungan

RAMAI: Para wisatawan ramai mengunjungi Savana Bale Tepak di Bendungan Batujai untuk menikmati berbagai pemandangan alam di tempat itu. (M Haeruddin/Radar Lombok)

PRAYAKeberadaan  Savana Bale Tepak di bendungan Batujai Desa Penujak Kecamatan Praya Barat yang ramai dikunjungi wisatawan kini mendapat sorotan dari Balai Wilayah Sungai (BWS) Nusa Tenggara I selaku pengelola. Banyaknya wisatawan yang datang ke lokasi itu dianggap akan menggangu kelestarian dari bendungan Batujai itu. BWS sendiri sudah bersurat ke Pemkab Lombok Tengah agar memperhatikan pengelolaan Savana Bale Tepak ini. Mulai dari lokasi parkir, sampah dan berbagai macam permasalahan lainnya agar bendungan yang dibangun tahun 1977-1982 ini bisa tetap terjaga kelestariannya.

Wakil Bupati Lombok Tengah, HM Nursiah ketika dikonfirmasi mengatakan, keberadaan bendungan Batujai ini dihajatkan untuk menyediakan air bagi kepentingan irigasi di daerah itu. Namun, musim kemarau membuat air bendungan menyusut hingga menimbulkan padang savana. “Tetap akan ada kajian untuk menjawab aspirasi masyarakat. Kita lakukan kajian dengan adanya Savana Bale Tepak di bendungan Batujai ini tentu kita akan melihat bagaimana keuntungan atau manfaaat hingga kerugiannya. Karena masyarakat punya aspirasi dan BWS juga punya kewenangan,” ungkap Nursiah kepada Radar Lombok, Rabu (14/9).

Baca Juga :  Tipu Investor, Bos Walet Kateng Mulai Diadili

Kalaupun ada permasalahan sampah yang dikhawatirkan akan berdampak terhadap kelestarian bendungan, maka keberadaan savana ini sebenarnya hanya sementara. Jika nantinya masuk musim hujan, maka secara otomatis keberadaan savana ini akan hilang akibat tergenang air. “Keberadaan savana ini sepertinya hanya empat bulan saja. Kalau sudah mulai musim hujan, maka akan selesai. Maka pendekatannya mungkin dalam empat bulan itu, masyarakat bisa mengambil manfaat tanpa mengganggu fungsi bendungan yang sebenarnya,’’ ujar Nursiah.

Sebab, sambung dia, di satu sisi keberadaan Savana Bale Tepak ini sangat menguntungkan masyarakat. Ramainya wisatawan yang datang berkunjung ke bendungan ini membuat perekonomian masyarakat menjadi meningkat. Jika melihat dari berbagai sisi, tidak hanya keuntungan yang didapat selama empat bulan ini, namun tentu banyak hal yang harus menjadi pertimbangan bersama. “Bendungan ini juga untuk mengairi begitu banyak lahan, karena ada begitu banyak pesiris bendungan yang dimanfaatkan. Jadi masyarakat atau pengelola butuh penjelasan dari BWS bersama pemda. Makanya kita bersama BWS akan duduk bersama untuk membicarakan persoalan tersebut,” terangnya.

Baca Juga :  Sepekan Terombang-Ambing, Dua Nelayan NTT Selamat

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwiwisata Lombok Tengah, H Lendek Jayadi mengatakan, meski keberadaan Savana Bale Tepak ini ramai dikunjungi wisatawan tapi dampaknya harus dicermati. Jika fungsi bendungan yang amat strategis itu tidak dipelihara sesuai dengan kaidah tata kelolanya sebagaimana yang diatur BWS. Maka jangan karena kebutuhan sesaat akan berdampak negatif dan merugikan masyarakat yang lebih luas. “Kita tidak boleh mengarahkan, memfasilitasi untuk menggunakan dan mengambil keuntungan sepihak jika tidak ada izin pemanfaatan oleh yang menguasai atau pemilik lahan. Maka tugas kita bersama membelajarkan masyarakat agar mencari rezeki di jalan yang halal dan berkah,” katanya. (met)

Komentar Anda