Satu Tahun Pandemi Covid-19 di NTB, Kasus Kematian Masih Tinggi

Dr Hj Sitti Rohmi Djalilah,M.Pd (Faisal Haris/radarlombok.co.id)

MATARAM – Pada bulan Maret ini genap satu tahun pandemi Covid-19 melanda Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).

Bukannya penyebaran virus ini hilang, tapi justru masih terus berlangsung. Bahkan jumlah penderita penyakit ini semakin bertambah. Update per 25 Maret 2021, jumlah kasus positif terkonfirmasi Covid-19 sudah tembus diangka 10.638 kasus dengan rincian, sebanyak 9.092 pasien sembuh. Kemudian, terdapat 447 pasien sudah dinyatakan meninggal dunia. Sedangkan masih menjalani perawatan diruang isolasi hingga saat ini sebanyak 1.099 pasein.

Wakil Gubernur Provinsi NTB, Dr Hj Sitti Rohmi Djalilah,M.Pd menegaskan, agar penyebaran virus ini bisa ditekan bahkan dihentikan, maka masyarakat harus tetap mematuhi protokol kesehatan Covid-19 seperti 5M (memakai masker, mencuci tangan pakai sabun dan air mengalir, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, membatasi mobilisasi dan interaksi). “Ya tetap 5M. Sebenarnya kuncinya kalau masyarakat kita semua disiplin dengan menggunakan maskes, menjaga jarak, menghindari kerumunan sebenarnya bisa kita hindari (Covid-19),”kata Wagub yang belum lama ini dinyatakan sembuh dari Covid-19.

Menurutnya, Covid-19 ini sama halnya dengan penyakit flu dan lain-lain. Penularannya lewat kontak langsung antar manusia. “Nah sekarang PR-nya bisa tidak kita disiplin (Prokes). Kalau tidak nanti bisa membaik terus nanti pasti memburuk lagi jadi begitu terus,”ujarnya.

Maka penerapan prokes ini betul-betul menjadi atensi bersama. Karena jika tidak, virus ini bisa menyerang tubuh siapa saja dan kapan saja. “Jadi itu yang harus kita betul-betul yakinkan bahwa 5M itu bisa kita terapkan di NTB,”imbuhnya.

Wagub menyadari angka kasus kematian akibat pendemi Covid-19 di NTB masih tergolong tinggi secara di NTB. Dua kali lipat dari rata-rata kasus kematian secara nasional. “Ya angka kematian kita masih tinggi. Makanya tracingnya yang harus dikencangkan. Masih 4 persen kan. Makanya jangan panik dengan jumlah orang positif ya. Yang kita panik itu, ada orang meninggal karena Covid. Kalau banyak tracing yang masif konsikuensinya makin banyak yang ditemukan positif. Contohnya seperti saya ya kan, positif tapi tidak bergejala ya lebih baik ditemukan dari pada tidak ditemukan jadi bisa isolasi mandiri,”ungkapnya.

Maka ditegaskan, ketika ada ditemukan kasus baru terkonfirmasi Covid-19 jangan alergi. Tapi jika pernah kontak dengan orang yang telah dinyatakan positif agar segara melakukan pemeriksaan supaya bisa lakukan isolasi mandiri. “Jadi jangan sampai tertular kepada orang lain,”tutupnya. (sal)