Satu Rumah Nyaris Ambruk Diterjang Gelombang

GELOMBANG PASANG: Salah satu rumah warga di Lingkungan Mapak, Kelurahan Jempong Baru, diterjang oleh gelombang pasang sehingga rusak parah. (SUDIR/RADAR LOMBOK)

MATARAM—Satu rumah di Lingkungan Mapak, Kelurahan Jempong Baru milik Muhamad Saleh, nyaris ambruk diterjang gelombang pasang yang terjadi dua hari terakhir. Bhakan satu rumah diantaranya tampak rata disapu gelombang yang cukup besar.

Petugas gabungan pun terjun ke lokasi untuk membantu warga, dan membuatkan tanggul darurat menggunakan karung yang diisi pasir pantai. Tampak tembok rumah roboh diterjang gelombang.

Kepala Dinas Sosial Kota Mataram, Hj Baiq Asnayati mengatakan untuk bantuan sudah disalurkan kepada warga yang terdampak gelombang pasang. “Satu rumah terdampak sudah mendapatkan bantuan. Termasuk tenda darurat maupun makanan siap saji, untuk sementara waktu,” katanya kepada Radar Lombok, Jumat kemarin.
Kerusakan rumah tampak parah dibagian depan, yang berhadapan langsung dengan pantai. Tembok serta teras rumah disapu bersih gelombang pasang. Untuk perbaikan fisik akan dilakukan koordinasi dinas terkait. Saat ini pihaknya telah memberikan bantuan sementara waktu untuk kebutuhan warga setempat.

BACA JUGA :  Radar Lombok Ikut Meriahkan HUT Mataram

Terpisah, Kepala BPBD Kota Mataram Mahfudin Noor mengatakan, data perbaikan kerusakan sudah dilakukan. Satu rumah dan belasan lapak pedagang kaki lima di Pantai Loang Baloq, Kecamatan Sekerbela, terdampak banjir rob yang terjadi akibat gelombang pasang dengan ketinggian sekitar dua meter.

“Saat ini Satgas BPBD dan Satgas Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) sedang bergotong royong membantu penanganan lapak PKL yang terendam, dan penanganan sampah yang masuk ke areal taman dan kolam Loang Baloq,” jelasnya.

Dikatakan Mahfudin, dari informasi BMKG gelombang pasang di sepanjang sembilan kilometer perairan Kota Mataram, selalu terjadi enam bulan sekali, dengan lokasi berubah-rubah. Tahun kemarin (2020), banjir rob terjadi di pesisir Bintaro. Sedangkan tahun ini di pesisir Pantai Loang Baloq dan di Muara Jangkuk, Lingkungan Bangsal.

Lebih jauh Mahfuddin mengatakan, selain melakukan pembersihan, tim dari BPBD juga melakukan pendataan terhadap kerugian yang dialami PKL. Sebab, ada juga lapak PKL yang rusak, termasuk barang dagangannya. “Pendataan terhadap dampak yang dialami PKL tersebut sebagai dasar untuk pengajuan penanganan kepada organisasi perangkat daerah (OPD) terkait,” katanya.

BACA JUGA :  Empat Remaja Terjaring Operasi Yustisi

Sementara untuk saat ini para pedagang meminta agar areal kawasan taman bisa segera dikeringkan, agar mereka bisa menata kembali lapaknya dan beraktivitas. Untuk melakukan pengeringan itu, dibutuhkan alat sedot. “Guna mempercepat penyedotan, kita butuh mesin sedot air lebih banyak. Sementara saat ini kita hanya memiliki satu unit,” sebutnya.
Sedangkan untuk areal lainnya, air laut yang naik ke daratan di sekitar Taman Loang Baloq sudah membentuk seperti kolam, karena kondisinya yang memang lebih rendah dari permukaan laut. “Tetapi pada areal itu tidak ada aktivitas, karena aktivitas PKL ada di pinggiran. Hanya saja kita perlu melakukan penyedotan untuk menghindari potensi dampak lainnya,” pungkasnya. (dir)