Satu Lagi Korban Meninggal Diduga Penderita DBD

SELONG—Salah seorang warga asal  Desa Beriri Jarak, Kecamatan Wanasaba, Lombok Timur (Lotim), Inaq Jueni, 40 tahun, Selasa (18/5) lalu, meninggal. Kematiannya diduga akibat terjangkit DBD.

Atas kasus ini, Dinas Kesehatan (Dikes) setempat masih dilakukan penyelidikan guna memastikan serangan DBD. Jika dari hasil penelitian tersebut menunjukkan positif, maka angka jumlah warga Lotim yang meninggal mencapai 7 orang dari 512 kasus di 116 Desa di Lotim.

          Meski di Lotim telah memasuki cuaca atau musim panas sejak dua bulan terakhir. Namun dugaan serangan wabah DBD masih cukup tinggi. Dari catatan Dinas Kesehatan Lotim untuk bulan Mei ini saja telah tercatat 16 kasus. Catatan ini belum termasuk korban meninggal suspek asal Wanasaba ini dan tiga suspek lainnya yang juga asal Wanasaba. Sehingga bila keempatnya positif maka akan menambah jumlah penderita selama bulan Mei sampai dengan minggu ini menjadi 20 kasus.

          Sejak bulan Januari sampai dengan Mei ini telah tercatat jumlah serangan DBD mencapai 512 orang. Dengan rincian 80 kasus terjadi pada Januari dengan korban meninggal satu orang. Kemudian Februari sebanyak 152 kasus dengan jumlah korban meninggal terbanyak yaitu 4 orang. Lalu, bulan Maret tercatat jumlah kasus terbanyak 177 kasus dengan korban meninggal satu orang. Sementara bulan April mulai menurun dan hanya 87 kasus dan tidak ada yang korban meninggal. Sedangkan bulan Mei ini baru tercatat 16 kasus. Dari 20 Kecamatan yang ada di Lotim kasus tertinggi terjadi di lima Kecamatan masing-masing Sakra, Terara, Sikur, Selong dan Aikmel.

          Kadis Kesehatan Lotim, drg Asrul Sani, pada saat ditanya Radar Lombok prihal kematian Inaq Jueni asal Beriri Jarak Kecamatan Wanasaba mengatakan, kasus tersebut masih dalam penyelidikan oleh tim guna memastikan penyebab meninggalnya korban. “Masih dilakukan pemeriksaan lapangan dan belum ada laporan saya terima jika itu kasus DBD,” katanya, Rabu (18/5).

          Mengingat kasus DBD masih saja terjadi di Lotim sehingga ia mengimbau masyarakat untuk melaksanakan Pemusnahan Sarang Nyamuk (PSN) secara rutin dan tidak harus menunggu gotong royong yang hanya setahun sekali. Mengingat perkembangbiakan nyamuk DBD sangat cepat yaitu 9 sampai 10 hari, sehingga kesadaran masyarakat sangat dibutuhkan guna rutin melaksanakan PSN dengan 3M plus pencegahan gigitan dengan memberikan racun nyamuk dan sebagainya.

         Sementara langkah dari Dinas Kesehatan dalam penanganan DBD ini tetap dilaksanakan mulai dengan melakukan sosialiasi dan penyuluhan pada warga yang merupakan daerah endemis. Pihaknya juga mendoorng masayarakat menjaga lingkungan terutama melaksanakan PSN kemudian fogging bila diperlukan.

          Sementara Kepala Puskesmas Wanasaba, Khairul Fathi SKep, saat dikonfirmasi terkait kasus yang terjadi di wilayah kerjanya mengatakan, bahwa korban suspek bernama Inaq Jueni merupakan pedagang kain yang biasa keliling dari satu kampung ke kampung lainnya. JIka positif serangan DBD diperkirakan serangan tidak terjadi di desanya Beriri Jarak, melainkan di desa lain. Ini karena desa asal korban dikatakan belum ada laporan serangan ini sebelumnya.

          Menurutnya, korban tidak dirawat di Puskesmas Wanasaba melainkan di Puskesmas Aikmel yang kemudian dirujuk ke RSU Selong dan kemudian ke Mataram, hingga kemudian meninggal. Sama dengan dua orang suspek lainnya yang berasal dari Tembeng juga langsung dibawa ke Aikmel sehingga tidak tahu akan adanya kasus yang terjadi terhadap warga tersebut. (lal)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid