Santri Digratiskan, Biaya Ditebus Hafalan Alqur’an

Yayasan Tahfidz Darussomad Pondok Pesantren (Ponpes) Baitul Qurro Wal Huffaz yang terletak di Dusun Berangka, Desa Kerongkong Kecamatan Sukamulia  Lombok Timur  ini usianya masih seumur jagung. Ponpes tersebut  berdiri tahun 2013 lalu. Meski demikian, keberadaanya telah mampu mencetak hafidz yang memiliki prestasi internasional.

 


M GAZALI—LOMBOK TIMUR


 

 Baru-baru  ini  nama Yayasan Tahfidz Darussomad Ponpes Baitul Qurro Wal Huffazh  menjadi perbincangan masyarakat luas. Ini tak lain, setelah santri ponpes itu  Lalu Muh Khairurrazzaq Al –Hafiz  berhasil keluar sebagai Juara I pada MHQ 10 Juz Asia – Pasifik, Pangeran Sultan Bin Abdul Aziz Bin Al- Su’ud Foundation yang digelar di Jakarta, April lalu. Ajang ini diikuti sebanyak 45 negara.

 Lalu Muh Khairurrazzaq Al –Hafiz   merupakan putra dari pendiri ponpes tersebut, Lalu Muhibban Al- Hafiz. Sejak masih duduk di bangku kuliah, Muhibban sudah punya cita-cita kelak bisa mendirikan ponpes tahfiz. Ini tak lepas dari sosoknya yang juga seorang hafiz. Masa kuliahnya pun mulai dari  Strata Satu (SI) sampai  Strata Dua (S2) dihabiskan di Perguruan Tinggai Ummul Qur’an, Jakarta. ‘’ Saya memimpikan bisa mendirikan ponpes tahfiz sejak 23 tahun yang lalu. Saat kuliah, saya terus cari jalan agar bisa mendirikan ponpes ini,” tutur Muhibban, selaku pimpinan yayasan.

 Asa yang dipendamnya selama 23 tahun itu, hampir  pupus di tengah jalan. Bahkan dirinya saat itu, pesimis akan bisa mewujudkan cita-citanya itu. Namun setelah melihat potensi dan kemampuan anaknya,  Lalu Muh Khairurrazzaq Al –Hafiz dari sanalah semangatnya mulai bangkit kembali. Setelah selesai menempuh kuliah  S2, Muhibban  memutuskan untuk  meninggalkan   pekerjaannya di Jakarta dan pulang ke kampung halamannya untuk  mendirikan  ponpes tersebut sekitar tahun 2012 lalu.‘’ Saat itu Khairurrazzaq saya ajak ke Jakarta,  SD kelas 3 disana. Disanalah saya bimbing dia, hafal Alqur'an. Melihat kemampuannya, saya pun mulai bersemangat untuk membangun ponpes tahfidz,” lanjutnya.

  Tahun 2013 , ponpes ini pun mulai dibangun. Sejumlah  satuan pendidikan didirikannya secara berjenjang. Mulai dari TK, SD, SMP, dan SMA. Dari semua jenjang pendidikan itu, para santrinya ditekankan hafalan Alqur'an. Bahkan secara khusus, ponpes ini membuat program ekstrakurikuler  Taman Pendidikan Alqur'an (TPQ) yang biasanya dilakukan setelah  pulang sekolah. TPQ ini rutin setiap harinya, dengan jumlah santri sekitar kurang lebih  400 orang yang datang dari sejumlah desa di Lombok.‘’ Menghafal Alqur'an, jadi prioritas program ekstrakurikuler kita,” sebutnya.

 Dikatakan, untuk membentuk karakter santri agar gemar dan cinta terhadap Alqur'an tentu tidak mudah. Selain butuh kesabaran, metode juga menjadi hal yang paling penting. Dengan metode yang baik, diyakini  kecintaan untuk menghafaz Alqur'an akan timbul dengan sendirinya dalam diri santri itu. Memperkenalkan Alqur'an pada santri , lanjutnya tidak harus dengan cara dipaksa maupun dengan penekanan.  ‘’  Diawal, saya tidak pernah memaksa  hafal sekian juz Alqur'an. Pendekatan,  mereka saya ajak   bermain, bercanda , bahkan ketika saya diundang sebagai hafidz di setiap acara,  mereka  saya ajak. Dari sanalah mereka mulai penasaran, minta diajar menghafal,” tuturnya.

  Setelah kecintaan  timbul dengan sendirinya, dari sanalah, secara perlahan santri dibina dan dibimbing hafalannya. Tingkat hafalan  disesuaikan dengan  usia dan jenjang pendidikan para santri.  Biaya pendidikan di  ponpes tersebut semuanya  digratiskan mulai dari pakian, biaya sekolah . Bahkan makan dan minum bagi santri yang mondok juga gratis. Namun biaya gratis tersebut nantinya akan  ditebus dengan hafalan Alqur'an. Untuk santri yang duduk dibangku SD, mereka diharuskan menghafal 6 juz, sementara  santri SMP dan SMA diwajibkan menghafal 15 juz sampai selesai menempuh pendidikannya. Jika itu tidak tercapai, santri tersebut dikenakan denda. ‘’ Ini untuk memberikan motivasi bagi santri itu sendiri,” ungkapnya.

 Dijelaskan, rutinitas para santri, keseharianya lebih banyak dimanfaatkan untuk mengulang dan meningkatkan hafalan Alqur'an. Itu selalu ditekan ke setiap santri. Bahkan, sebelum jam belajar , santri memulai aktivitasnya dengan membaca dan menghafal Alqur'an. Begitu juga disaat pergantian jam mata pelajar, waktu tersebut juga dimanfaatkan para santri mengulang dan menghafal Alqur'an. Selesai diesekolah, sorenya kegiatan dilanjutkan dengan TPQ. Kegiatan ini rutin dilakukan  setiap hari, dengan jumlah santri mencapai ratusan orang. ‘’ Motivasi juga saya berikan dengan memberikan penghargaan. Santri yang bisa hafal sekian ayat dan juz dalam sekian waktu, saya janjikan hadiah. Kalau bisa, disaat itu juga saya berikan mereka uang atau hadiah lainnya,” ungkapnya.

 Motivasi seperti itu, dianggap akan mampu mendorong semangat para santri dalam meningkatkan hafalannya. Dengan semua metode itu, kini perkembangan tahfidz di ponpes ini kian berkembang pesat.  Terlebih dengan prestasi internasional yang mampu ditoreh putranya, Lalu Muh Khairurrazzaq Al –Hafiz pada Tahfidz Asia-Pasifik. Prestasi itu, membuat ponpes- nya kini kebanjiran santri. ‘’ Ini sebagai pembuktian prestasi tahfidz yang dikembangkan di ponpes ini. Kita terus berbuat, agar muncul hafidz handal seperti putra saya,” akunya.

  Tingkat hafalan santrinya kini sudah melebihi target.  Sebagian dari mereka,   sebentar lagi hafalannya sudah sampai 30 juz. Ini sangat membanggakan. Kedepan , kemampuan para santrinya ini ditingkatkan dengan target capain prestasi ditingkat kabupaten, provinsi, nasional sampai level internasional ‘’ 2017 ini, para santri   akan saya  ikutkan pada MTQ,” pungkasnya.(lie)

BACA JUGA :  Pendiri Ponpes Yusuf Abdussatar Salah Satu penghafal Alqur’an Pertama di NTB