Sanksi Pelajar SMA Pelaku Video Mesum, Dikbud NTB Berikan Kewenangan ke Sekolah

SIRKUIT: Presiden Jokowi didampingi Menteri BUMN dan Dirut ITDC ketika meninjau berbagai persiapan di Sirkuit Mandalika jelang perhelatan MotoGP Maret mendatang. (Muchlis JR/Biro Pers Setpres)

MATARAM – Dunia pendidikan NTB kembali tercoreng atas ulah oknum siswa yang diduga melakukan perbuatatan asusila. Bahkan video mesum pasangan yang diduga berstatus pelajar SMAN di Lombok Timur viral di media sosial, Senin (10/1).

Dalam video yang berdurasi sekitar 10 detik tersebut tampak pasangan pelajar merekam sendiri ketika mereka sedang berhubungan badan di sebuah kamar layaknya suami istri.

Kepala Bidang Pembinaan SMA Dikbud NTB Lalu Muhammad Hidlir meminta pihak sekolah untuk menegakkan aturan sesuai ketentuan yang berlaku kepada oknum terduga siswa pelaku asusila.

“Silakan tegakkan aturan sekolah. Artinya, apa yang menjadi aturan-atauran di tata tertib sekolah itu ditegakkan. Namun jika dalam tata tertib sekolah tersebut tidak ada jangan serta merta untuk memberhentikan anak,” kata L Muhammad Hidlir.

Dikatakan, jika nantinya pihak sekolah mengambil tindakan atau sanksi kepada siswa terduga pelaku asusila, maka oknum siswa tersebut masih punya kesempatan menyelesaikan pendidikannya, melalui mengikuit pendidikan keseteraan atau di SMA Terbuka.

BACA JUGA :  Hasil Audit Kredit Fiktif di BPR Aikmel, Negara Dirugikan Rp 1 Miliar

’Pada intinya, Dinas Pendidikan tetap memberikan oknum siswa terduga pelaku asusia untuk tetap melanjutkan pendidikan. Seperti nantinya bisa masuk di SMA Terbuka. Jangan sampai setelah putus sekolah tidak ada solusi, karena itu peluang melanjutkan pendidikan untuk mendapatkan ijazah akan tetap ada ruangnya.

Menurutnya, jika sekolah reguler tersebut tidak boleh terjadi orang yang melakukan perbuataan asusila. Namun jika di SMA terbuka orang yang sudah kawin, kemudian hamil boleh masuk menyelesaikan pendidikan.

“Inilah upaya kita untuk tetap memberikan layanan pendidikan kepada anak-anak bangsa yang umurnya masih usia sekolah,” terangnya.

Hidlir meminta kepada sekolah dan orang tua siswa menjadikan kasus dugaan asusila tersebut sebagai pelajaran untuk memberikan pendampingan di keluarga. Begitu juga sekolah supaya tetap melakukan kontrol kepada siswanya, selama belajar di sekolah. Bagi orang tua juga sangat vital perannya dalam mengawasi anak –anak mereka, karena sebagian besar waktu anak itu ada di rumah lingkungan keluarganya.

BACA JUGA :  Petani Sembalun Diduga Korban SPPT Bodong

“Ini mungkin, karena kurangnya kontrol orang tua yang dilakukan di rumah maupun di luar rumah serta kontrol sekolah hampir tidak ada karena selama pandemi mereka belajar di rumah dan ini bisa terjadi,” ujarnya.

Oleh karena itu, Hidlir berjanji dalam waktu dekat akan segera memanggil kepala sekolah yang bersangkutan untuk mendapatkan kejelasan terkait kasus ini.

Sebelumnya, Kasatreskrim Polres Lombok Timur Iptu Muhammad Fajri juga membenarkan terkait beredarnya video mesum pelajar SMAN itu. Namun pihaknya sejauh ini belum menerima laporan resmi dari pihak sekolah yang dimaksud.

Pihaknya pun telah berkoordinasi dengan kepala sekolah SMAN terkait. Bahkan kepolisian juga telah mengagendakan pemanggilan terhadap pihak sekolah.

“Besok kita akan agendakan untuk panggil pihak sekolah,” tandasnya. (adi)