Saling Klaim Unggul tapi Tak Mau Buka Data

(ist)

TANJUNG–Baik kubu Djohan Sjamsu-Danny Karter Febrianto Ridawan (JODA) maupun Najmul Akhyar-Suardi (NADI), sama-sama mengklaim unggul pada survei elektabilitas. Kendati begitu, mereka masih belum mau terbuka terkait lembaga survei mana yang dipergunakan berikut hasil surveinya. “Kami belum bisa memberikan persentase kemenangan, tapi survei terakhir di mana posisi kami (JODA) mempunyai elektabilitas di atas petahana. Dengan swing voters yang muncul sekitar 12 persen lebih, artinya posisi JODA masih aman,” ungkap Ketua Tim Pemenangan JODA, Raden Nuna Abriadi kepada Radar Lombok, Kamis (5/11).

Elektabilitas yang ada ini membuktikan bahwa paslon, tim pemenangan, relawan dan masyarakat pendukung kompak memenangkan JODA. Adapun untuk kampanye sudah disasar 506 lokasi. Jika digabungkan dengan sosialisasi dan kampanye sudah mencapai 700 lokasi. “Jika dihitung dari jumlah perkiraan masyarakat yang sudah bertatap muka langsung mencapai 90 ribu lebih orang,” bebernya.

Dalam posisi sekarang, tentunya JODA tidak bisa lengah. Sisa waktu sebulan terakhir ini, petahana sebagaimana lazimnya pasti tidak mau tinggal diam. Pasti ada trik-trik yang dilakukan. Namun JODA pastinya juga terus berupaya mengimbangi gerakan petahana. “Seluruh elemen kekuatan JODA AKBAR sudah bergerak baik secara individual maupun kelompok,” terangnya.

Tingginya elektabilitas JODA menurutnya, didasari kerinduan sosok pemimpin bersahaja serta kekompakan Tim JODA. Selain itu masyarakat juga sudah menilai hasil pekerjaan pemerintahan saat ini. Misalnya visi-misi Najmul Akhyar-Sarifudin di periode pertama, apakah sudah tercapai atau tidak? Masyarakat sudah bisa mengukur realitasnya. “Itulah mengapa kami optimis sebab di setiap kegiatan kampanye JODA, antusiasme masyarakat itu luar biasa, sampai kami kewalahan memenuhi keinginan masyarakat ingin berjumpa, sedangkan setiap pertemuan dibatasi di tengah pandemi covid-19,” bebernya.

Sementara itu, Ketua Tim Pemenangan NADI Fajar Marta mengatakan, masyarakat lebih banyak memilih NADI. Dan NADI punya hasil survei juga. Namun masih belum bisa dibuka.

Ketua DPD NasDem KLU ini mengklaim, NADI menang di empat dari lima kecamatan. Oleh karena itu, pola kampanye yang dilakukan NADI tetap menyerang sambil bertahan. “Basis kemenangan itu diprediksi terus semakin bertambah, Insyaallah kami pertahankan sampai 9 Desember,” tegasnya.

Diungkapkan, masyarakat lebih banyak memilih NADI karena mempertimbangkan persoalan daerah yang saat ini harus dituntaskan di masa dua periode Najmul Akhyar. Terlebih kondisi keuangan daerah hanya Rp 900 miliar lebih; menurun dari APBD sebelumnya Rp 1,2 triliun. Jika JODA menang maka tidak bisa memenuhi janji dengan hanya mengharapkan APBD sebesar itu. Apalagi periode kepemimpinan untuk pemenang pilkada hanya 3 tahunan, pada 2024 akan digelar pilkada serentak lagi. “Kalau NADI hanya melanjutkan mana yang belum tuntas, kalau buat program tentu berat bisa terpenuhi,” imbuhnya. (flo)