Sakralnya Maulid Adat Sesait

FOR RADAR LOMBOK MAULID ADAT: Para perempuan di Desa Sesait melakukan ritual Bisok Menik (cuci beras) ke Lokok Kremean, Selasa (11/10). (IST FB ASYIRA ETAYA)

TANJUNG – Acara maulid adat di Sesait, Kecamatan Kayangan tampak begitu sakral. Acara puncaknya digelar Rabu lalu (12/10).

Khusus di Desa Sesait acara dipusatkan di Masjid Kuno Sesait. Di mana ada berbagai prosesi adat yang dilaksanakan. Di antaranya ritual Bisok Menik (cuci beras) ke Lokok Kremean pagi hari. Lokok Kremean diyakini oleh masyarakat Sesait dahulunya tempat pemandian bidadari dan orang-orang suci. Sehingga, Lokok Kremean jadi sakral dan tidak dapat dimasuki oleh orang-orang sembarangan.

Di samping itu Lokok Kremean juga hanya digunakan pada saat melakukan ritual adat Bisok Menik di waktu maulid adat yang dipandu oleh mangku atau sebagai jalan pembuka menuju lokasi tempat Bisok Menik. Ritual Bisok Menik dilakukan oleh kaum hawa baik yang masih gadis maupun yang sudah berkeluarga sambil membawa peraras (bakul) yang berisi beras.

Para perempuan yang mengikuti acara ini berjalan beriringan dari Kampu menuju Lokok Kremean dan diiringi oleh gamelan (musik tradisional).

Setelah ritual Bisok Menik selesai, pada hari yang sama bakda Zuhur dilangsungkan ritual penyembelihan hewan kurban atau masyarakat Sesait menyebutnya dengan sebutan Sembeleh Kok (penyembelihan kerbau) yang ukuran, umur, dan bobot sudah ditentukan oleh para leluhur atau disebut dengan (Kok Kembalik Pokon). Penyembelihan ini dilakukan di depan Masjid Lokak.

Baca Juga :  Raden Nuna Cek Ombak Menuju Pilkada 2024

Di samping itu, masyarakat lainnya menyiapkan peralatan memasak hewan kurban yang sudah disembelih untuk dimasak dan disajikan bakda Ashar dan dibawa ke masjid. Setelah itu dilanjutkan dengan ritual Naikang Dulang Nasi Aji dengan wadah dulang.

Dulang ini dibawa oleh para laki laki yang diiringi oleh Tau Lokak Empat (Mangkubumi, Penghulu, Pemusungan, dan Jintaka) dari kampu menuju masjid kuno.

Salah satu Tokoh Adat Sesait, Karudi mengatakan bahwa acara maulid adat berlangsung selama empat hari. Puncaknya digelar pada Rabu (12/10). “Jadwal maulid atau Mulud Adat Wet Sesait ditetapkan oleh Tau Lokak Empat Wet Sesait berdasarkan perhitungan Taon Jango Bangar Wet Adat Sesait. Tahun ini dalam perhitungan kalender Jango Bangar Wet Sesait adalah Taon Ehe; sehingga acara puncak Mulud Adat Wet Sesait ditetapkan pada hari Rabu,” jelasnya

Camat Kayangan Siti Rukaiyah mengatakan bahwa kegiatan maulid tersebut berjalan dengan meriah. “Ada berbagai prosesi-prosesi yang dilaksanakan. Macam-macam namanya. Saya tidak hapal semua,” ujarnya, Kamis (14/10).

Baca Juga :  Bupati Minta Gubernur Tarik PT GNE dari Gili

Bupati KLU Djohan Sjamsu berharap event budaya dan adat KLU ini terus terjaga. “Kita ingin ke depan itu supaya program maulid adat ini diselenggarakan dengan baik sehingga ada gaungnya kepada masyarakat kita,” ujarnya.

Pihaknya tidak menginginkan maulid adat ini sekadar euforia. Tetapi harus ada efek positif yang dihasilkan sehingga masyarakat tetap bersemangat merayakan event tahunan tersebut. “Jadi bukan hanya hura-hura. Begitu makan kemudian selesai, tetapi ada efeknya yang lebih besar,” jelasnya.

Dari pemda kata Djohan selalu siap untuk mendukung kegiatan semacam ini. Apalagi ini dalam rangka merayakan Hari Kelahiran Nabi Besar Muhammad SAW. “Sebagai pemerintah daerah tentu tetap men-support. Karena ini bagian dari kepedulian pemerintah terhadap budaya yang ada di daerah kita,” ungkapnya.

Pada maulid adat berikutnya, ia berharap OPD terkait bisa tetap menjalin komunikasi dengan masyarakat ataupun penyelenggara untuk mempersiapkan kegiatannya secara betul. Sebab kegiatan ini bukan hanya menjadi perhatian masyarakat sekitar saja tetapi juga wisatawan mancanegara. “Promosi juga perlu dilakukan,” tutupnya. (der)

Komentar Anda