Sahyun dan Kidah, Pasutri yang Naik Haji dari Untung Jualan Rujak

Setoran Awal dari Memburuh, Tak Putus Asa Meski Untung Seadanya

Naik Haji dari Untung Jualan Rujak
BAIK HAJI: Inilah pasangan suami istri Sahyun dan Kidah yang merupakan pasangan yang naik haji berkat hasil jualan rujak. (JANWARI IRWAN/RADAR LOMBOK)

Menunaikan ibadah haji merupakan suatu cita-cita bagi setiap muslim beriman. Tapi berbagai kendala dihadapi untuk menjalankan rukun Islam kelima ini. Terutama dari segi materi mengingat kebutuhan biayanya tak sedikit. Tapi tidak bagi Sahyun dan Kidah, pasutri ini terus beriktiar dan berdoa dengan berjualan rujak sehingga bisa melunasi tambang haji.


Janwari Irwan – Selong


SAHYUN dan Kidah merupakan warga RT 13 Kampung Seruni Kelurahan/Kecamatan Selong Kabupaten Lombok Timur. Mereka adalah pasangan suami istri yang berprofesi sebagai tukang rujak. Bulan ini, mereka akan menunaikan ibadah haji. Pasutri ini tercatat sebagai calon jemaah haji (CJH) yang aakan berangkat pada kloter terakhir bulan Juli ini.

Sahyun dan Kidah merupakan pasangan yang sudah menikah puluhan tahun. Dari pernikahannya itu dikarunia lima orang anak yang rata-rata dibesarkan melalui hasil jualan rujak. Bahkan, pembangunan rumahnya juga rata-rata dibiayai dari hasil keringat menjual rujak sejak enam tahun lalu. Kemudian ditabung sebagai pelunasan menuju tanah suci Makkah. ‘’Alhamdulillah, cita-cita kami selama ini menuju rumah Allah terwujud. Ini semua berkat hasil jualan rujak selama ini,” tutur Sahyun, kemarin.

BACA JUGA: Mengenal Baiq Ilda Karwayu, Salah Satu Penyair Muda NTB

Sebelum menjadi tukang rujak, katanya, untuk setoran awal ia mendapatkan uang dari hasil jerih payah menjadi kuli bangunan. Namun bukan kuli bangunan menjadi tukang atau yang lainnya, tetapi hanya sebagai kuli mengangkut batu, bata, pasir di piggir jalan ke dalam rumah. “Setiap ada warga yang mau bangun rumah, yang dipanggil adalah suami saya. Dari itulah kami bisa makan dan sisakan untuk menabung pergi haji,” kata Kidah mendampingi suaminya.

Setelah lama menjadi kuli bangunan, ia kemudian meninggalkan pekerjaan menjadi buruh menjadi pedagang rujak. Profesi berjualan rujak ini digeluti secara rutin selama enam tahun lamanya. Lokasi pangkalannya adalah taman Rinjani Selong, tepatnya di depan kantor Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil).

Dari jualan rujak ini, pasangan yang sehari- berjualan bersama ini mampu meraup untung  dan mulai terlihat tabungannya. Meski hanya mendapatkan untung Rp 50 ribu sehari, untung inilah kemudian disisihkan sebagai uang belanja sehari-hari. Sisanya disimpan untuk ditabung. “Kadang dalam sehari itu saya simpan sebanyak Rp 10 ribu hingga Rp 30 ribu dalam sehari. Kadang-kadang juga Rp 50 ribu kalau lagi ramai. Setelah sebulan saya tabung ke bank untuk dijadikan biaya haji,” kata Sahyun sambil menunduk.

Di usianya yang sudah 60 tahun lebih ini, hujan dan panas merupakan cobaan yang harus dirasakan selama menjadi penjual rujak. Lebih-lebih saat pagi hari ketika berangkat dari rumah dengan kondisi badan yang sudah tua. Hanya saja, niat yang tulus dan tekat yang kuat untuk menunaikan rukun Islam kelima tidak pernah pudar.

Terlbih lagi, saat jualan kadang-kadang laku dan kadang-kadang tidak. Apalagi dengan hasil jualan rujak yang hanya Rp 5000 per bungkus ini, tentunya hasil tidak akan sama dengan pengusaha besar yang sudah mendapatkan untung besar. Sedangkan menjual rujak hanya mampu mendapatkan uang paling banyak Rp 200 ribu dalam sehari baik dengan modal ataupun dengan untung. “Satu yang menjadi nekat saya setiap hari. Setiap saya keluar dari rumah berjualan, saya selalu berniat, semoga hari ada hasil yang saya sisakan untuk berangkat haji. niat ini terus kami ucapkan selama bertahun, dan alhamdulillah mimpi itu saya bisa wujudkan,” katanya dengan penuh haru sambil mengusapkan air matanya.

BACA JUGA: Mengenal Nana Nutrisari, Penyanyi Kecimol yang Lagi Naik Daun

Ia mengatakan, sebenarnya ia belum yakin tahun ini akan berangkat ke tanah suci Makkah. Namun entah kenapa, niat yang kuat yang ada dalam hati ini selalu muncul dalam mimpi, sehingga tiba-tiba mendapat panggilan berangkat tahun ini. “Sejak saya mendapatkan pemberitahuan akan berangkat tahun ini, hati saya sangat senang. Sehingga saya mengambil tabungan itu ke bank yang kemudian kami setor sebagai pelunasan haji,” akunya.

Setelah menyetor biaya pelunasan haji, dia tentunya belum berhenti jualan. Ia kemudian kembali ke taman untuk mencari biaya selamatan sebelum berangkat haji. ‘’Namun alhamdulilillah, anak-anak saya memiliki rezeki sehingga memberikan saya uang sebagai modal selamatan dan biaya di tanah suci Makkah nantinya. Intinya, jika niat kita tulus, maka apa yang kita cita-citakan itu akan tercapai,” pungkasnyanya sambil meneteskan air mata penuh keharuan. (**)