Sadar di Dalam Penjara, Berkomitmen Bantu Rehabilitasi

KONSELOR: Nanik Marhanik mengabdikan dirinya sebagai konselor bagi pecandu narkoba (Ahmad Yani/ Radar Lombok)

Pengalaman pahit menjadi pecandu narkoba, membuatnya  berkomitmen membantu dan menolong pecandu narkoba terutama anak – anak muda agar terbebas dari jerat barang haram tersebut.

 

 


AHMAD YANI — MATARAM


 

Nanik, panggilan akrab Haerul Marhanik  hampir 5 tahun lamanya menjadi pemakai narkotika dan obatan – obatan (Narkoba). Barang haram tersebut dikenal sejak dirinya masih duduk di kelas VIII SMP.  Awalnya karena penasaran dan coba – coba, serta bujuk rayu dari temannya. Nanik pun terjerat dalam pemakaian barang mematikan tersebut.

Sejak mengenal narkoba hidup Nanik berubah drastis 180 derajat. Nyaris keceriaan dan kegembiraan layaknya usia remaja   terenggut. Kehidupannya  menjadi morat marit. Sekolah pun menjadi tak terurus Ia pun beberapa kali harus pindah sekolah baik di SMP dan SMA.

Hubungan dengan orang tua dan keluarga menjadi berantakan. Ia pun sempat dikucilkan teman dan lingkungan sekitarnya, serta dianggap tak berguna. Semua akibat dari kecerobohan dan kesalahan mengenal barang haram tersebut.

Bahkan, paling menyakitkan ia harus mendekam di balik jeruji besi selama hampir 4 bulan karena dijebak temannya. Kendati begitu, ia memperoleh hikmah dari pengalaman menghuni hotel prodeo. Disitulah ia mulai merenung dan tersadar atas semua kesalahan dan kecerobohannya mengenal barang haram tersebut. " Ada hikmah juga sempat mendekam di penjara," kata perempuan berusia 26 tahun ini kepada Radar Lombok, kemarin.

Perenungan panjang selama mendekam di penjara membuat dirinya, bertekad dan bersungguh – sungguh ingin terbebas dari jeratan barang haram tersebut.  Usai menjalani masa kurungan, Nanik pun memutuskan mengikuti proses rehabilitasi ketergantungan narkoba.  Proses rehab nanik jalani di RSJ Provinsi Selaggalas dan Pusat Rehabilitasi Lido Bogor milik Badan Narkotika Nasional (BNN).

Hampir dua tahun lebih Nanik harus berjuang dan bekerja keras agar terbebas dari jeratan pemakaian dan penggunaan narkoba. Sebuah usaha dan ikhtiar sangat tidak mudah. Tidak gampang bagi seseorang pecandu agar bisa pulih dari pemakaian dan penggunaan narkoba.

Acap kali dalam proses rehab tersebut, banyak pecandu tergoda menggunakan barang haram itu.  Bahkan, pecandu  yang  sudah menjalani masa rehabilitasi atau sudah terbebas dari penyalahgunaan narkoba, sering kali kembali terjerumus akibat godaan dari penggunaan barang haram itu.Sebab itu, kesungguhan dan komitmen agar tidak kembali terjerumus dalam penyalahgunaan narkoba harus selalu dimiliki.

Terpenting pula, harus ada seseorang bisa selalu mengingatkan, memberi motivasi dan tempat curhat maupun berkeluh kesah. Sehingga mereka sudah pulih tidak kesepian, dan tidak kembali memilih menggunakan narkoba untuk mengurangi beban atau depresi yang  dihadapi akibat persoalan hidup. " Disinilah saya ingin berperan membantu sesama pecandu agar bisa pulih dari ketergantungan," katanya.

Pada tahun 2010 Nanik pun bertemu dengan komunitas Aksi NTB. Aksi NTB adalah komunitas rehabilitasi sosial terhadap pecandu narkoba yang banyak digawangi anak – anak muda. Di komunitas Aksi NTB tersebut ia banyak melakukan berbagai aktivitas membantu pecandu narkoba terutama anak – anak muda agar pulih dari ketergantungan narkoba itu.

Nanik pun tercatat sebagai salah satu relawan narkoba. Melalui komunitas Aksi NTB ia banyak memberikan motivasi dan semangat kepada pecandu narkoba agar bisa bangkit dan menata masa depan lebih baik. Menurutnya, menjadi pemakai narkoba tak lantas membuat masa depan seseorang menjadi suram. Mereka masih memiliki masa depan cerah, dan berguna bagi orang lain. Asalkan, ada kesungguhan dan kerja keras mau  berubah serta bangkit dari keterpurukan akibat pemakaian narkoba.  " Apa yang saya alami ini saya sampaikan kepada mereka menjadi pecandu," ucapnya.

Berbekal pengalaman sebagai relawan di komunitas Aksi NTB, Nanik pun banyak mengikuti berbagai pelatihan – pelatihan pendampingan bagi pecandu narkoba. Ia pun makin berkomitmen mendedikasi dirinya bagi pendampingi pecandu narkoba. Dengan pengalaman dan pelatihan yang  sudah dijalani, Nanik  resmi diangkat sebagai konselor narkoba dari Badan Narkotika Nasional (BNN) pada tahun 2014 lalu.

Menjadi seorang konselor sangat tidak mudah. Berbagai tahapan, pelatihan dan ujian harus dijalani. Sebelumnya akhirnya, memperoleh sertifikat sebagai konselor narkoba. " Saya sudah hampir dua tahun jadi konselor," terangnya.

Menjadi konselor narkoba,  suka dukanya sudah banyak dialaminya. Misalnya, sering kali saran, masukan dan pendapat yang  disampaikan kepada klien diacuhkan bahkan dicuekin. Meski begitu,  tidak lantas membuat dirinya patah arang. Menjadi konselor sangat dibutuhkan kesabaran dan ketelatenan dalam menghadapi pecandu narkoba.

Menurutnya, disitulah tantangan harus dihadapi dan ditaklukan. Pihaknya pun sangat memahami beban mental dan psikis dihadapi pecandu narkoba. " Karena saya mantan pecandu, jadi saya sangat memahami kondisi mereka," pungkasnya.(*)