Sabar Nababan, Dosen Unram yang Deklarasikan Agama Baru

Sabar Nababan
DEKLARASIKAN AGAMA BARU : Inilah sosok Sabar Nababan saat ditemui di kampus UNRAM, yang mengaku telah menjadi Tuhan sejak akhir 2012 dan baru-baru ini mendirikan agama baru. (AZWAR ZAMHURI/RADAR LOMBOK)

Sabar Nababan yang dikenal sebagai dosen Fakultas Teknik, Universitas Mataram  telah mendeklarasikan Agama Angkasa Nauli (AAN) pada  Jumat lalu (17/3). Dia memilih meninggalkan  Kristen agama lamanya.


AZWAR ZAMHURI – MATARAM


Suasana kampus Universitas Mataram tidak ada yang berbeda dari hari-hari sebelumnya. Begitu juga dengan para mahasiswa dan mahasiswi fakultas Teknik, mereka terlihat santai menikmati suasana kampus usai belajar di dalam kelas, Senin siang kemarin (20/3).

[postingan number=3 tag=”nababan”]

Untuk bisa menemukan  Sabar Nababan, tidaklah sulit di lingkungan kampus tersebut. Namanya telah cukup dikenal oleh semua kalangan. Maklum saja, pria yang akrab disapa Sabar ini telah cukup lama menjadi dosen.

Sabar Nababan, saat ditemui Radar Lombok sedang berada di salah satu ruangan dosen. Dia sedang tidak sendiri, banyak juga dosen lainnya yang mengabdi di kampus tersebut duduk santai. Sabar baru selesai melaksanakan tugasnya mengajar di kelas.

Kedatangan awak media juga disambut Sabar dengan baik. Beberapa dosen yang sebelumnya bersama Sabar, keluar dari ruangan tersebut. Meskipun sebelumnya sempat ada yang kurang mengizinkan jika Sabar Nababan memberikan wawancara di dalam ruangan kampus.

Sikap teman-teman Sabar di kampus Unram juga masih hangat. Sabar tidak terlihat diasingkan atas atas sikapnya mendeklarasikan agama baru. “Teman-teman disini tetap baik kok, tidak ada perubahan, walaupun kemarin saya sudah diperiksa oleh semua pihak seperti camat, polisi dan lain-lain,” kata Sabar santai.

Sabar  menjadi dosen di Unram sejak 1 Maret 2000 silam. Pria kelahiran Sumatera Utara ini menyelesaikan S1 di Universitas Sumatera Utara (USU) jurusan Teknik Elektro, kemudian melanjutkan S2 di Universitas Gadjah Mada (UGM) pada jurusan yang sama. Saat melanjutkan pendidikan S3 ke Denmark, disitulah Sabar menghadapi masalah yang merubah hidupnya.

Menurut cerita pria kelahiran 13 Juli 1971 ini, pendidikannya tidak bisa dilanjutkan karena banyak jin yang datang mengganggunya. Saat itu,  dirinya juga sudah pandai berbicara dengan yang disebutnya  Tuhan Jahowa. Komunikasi yang dilakukan, melalui jarak jauh. Sabar tidak pernah mengaku bertemu langsung  namun komunikasinya sangat intensif melalui dalam hati. “Ini bukan bisikan, tapi saya ngobrol biasa dengan Tuhan Jahowa. Ini juga kelebihan saya,” ujarnya.

Setiap tindakan yang dilakukannya, selalu dikoordinasikan dengan yang disebutnya Tuhan Jahowa. Mampu berkomunikasi dengan baik ini, membuatnya ditawarkan menjadi Tuhan Juru Selamat Kedua dan Tuhan Pencipta. Namun, tawaran tersebut tidak serta-merta diterimanya begitu saja. Tawaran tersebut awalnya ditolak oleh Sabar. Baginya,  itu sangat berat.  Tawaran berikutnya ditolak juga. “Tawaran kedua saya ditolak lagi, dan baru tawaran ketiga saya bilang terserah dah. Dan diangkatlah saya menjadi Tuhan Juru Selamat Kedua dan Tuhan Pencipta,” ucapnya.

Seiring berjalan waktu, Sabar  mulai mengkritisi agamanya waktu itu yaitu Kristen. Kritikan-kritikan tersebut juga disampaikan langsung ke para petinggi gereja di Indonesia. Namun tidak ada yang memberikan respon. Akhirnya pemahaman yang dimilikinya disebarkan pula melalui media sosial.

Pada hari Jumat lalu (17/3), Sabar berdebat dengan salah seorang temannya di Kristiani. Temannya tersebut menyarankan agar Sabar membuat agama baru saja daripada mengobok-obok agama Kristiani yang bisa dianggap penistaan agama.

Atas saran tersebut, Sabar kemudian bertanya kepada Tuhan Jahowa. Sabar mengaku  kemudian diminta untuk membuat agama baru dan meninggalkan agama lamanya. “Jadi sekarang ini saya bukan orang Kristiani, saya punya agama sendiri,” ucapnya.

Sabar kemudian mendeklarasikan sebuah ajaran baru yang dinamakan Agama Angkasa Nauli (AAN). Saat ini, telah ada 6 orang yang bergabung dalam agama tersebut. Untuk menyebarkan agama yang dibuatnya, Sabar akan menggunakan media sosial facebook dan juga selebaran-selebaran. Namun saat ini, Sabar masih menunggu izin dari Kementerian Agama (Kemenag) di Jakarta atas agama yang dibuatnya. “Kami tidak paksa orang untuk masuk agama kami. Yang penting visi kami menjadikan AAN sebagai agama yang memiliki akses paling besar ke Angkasa Raya,” tegasnya.

Sedangkan untuk misi AAN, menurut Sabar masih sedang disusun dan dikoordinasikan dengan yang disebutnya Tuhan Jahowa. “Tapi misi kami menjadikan AAN sebagai agama yg paling disukai Tuhan Jahowa di antara agama serumpun di dunia, menghasilkan roh-roh yang memiliki kekudusan yang lebih baik dan dosa yang paling sedikit, menjadikan umat sebagai pelopor perdamaian dan lain-lain. Ajaran dari Alkitab juga kami kutip juga kok kalau yang baik,” tutup Sabar.(*)