Rutan Praya Usulkan Tambah Blok Tahanan

Rutan Praya
PENGHUNI RUTAN: Tampak para penghuni rutan sedang menjalani aktivitasnya didalam tahanan, Sabtu kemarin (24/6).

PRAYA – Rumah Tahanan (Rutan) Klas IIB Praya Lombok Tengah untuk tahun ini sudah diusulkan dalam Anggaran Pendapatan Belanja Negara Perubahan (APBNP) untuk mendapatkan dana yang akan digunakan untuk penambahan ruang tahanan atau blok. Pasalnya sejauh ini jumlah tahanan yang ada di tempat tersebut sudah over kapasitas.

Kepala Rutan Kelas II  Praya, Anak Agung Gede Ngurah Putra, menyampaikan bahwa usulan tersebut sudah lama dan rencananya akan bisa terealisasikan pada tahun 2018 ini. Di mana penambahan blok tersebut nantinya akan bisa menambah kapasitas hunian rutan yang saat ini kapasitas tampungan hanya untuk 97 orang namun jika terealisasi maka akan menampung 200 orang. “Tahun ini memang ada rencana penambahan blok dimana satu blok akan meningkat ke atas dengan harapan bisa membuat daya tampung Rutan ini bisa lebih nyaman.karena memang kita tidak bisa memperediksi hunian rutan ini karena terus menerus bertambah. Baik yang masih berstatus titian hingga sudah menjadi Narapidana,” ungkap Anak Agung Gede Ngurah Putra, Sabtu kemarin (23/6).

Diakuinya memang jika melihat dari kondisi saat ini Rutan yang ada di Praya sudah merangkep menjadi lembaga pemasyarakatan. Pasalnya penghuni rutan yang semestinya dihuni oleh orang yang berstatus tahanan yang dititip. Namun karena masih tidak adanya lapas di Praya membuat tempat itu juga dijadikan sebagai lapas bagi para narapidana. “Makanya kalau kita bilang melanggar Hak Asasi Manusia (HAM) makahal itu tidak bisa kita pungkiri. Karena bayangkan saja dari jumlah yang seharusnya penghuni rutan hanya bisa menampung 97 orang ternyata sampai dengan saat ini sudah ada 369 orang. Maka di setiap kamar yang semestinya dihuni oleh tujuh orang, namun sekarang dihuni oleh 14 orang,” jelasnya.

Hal itu pula yang membuat pihak rutan membuat berbagai program agar bisa membuat para tahanan yang ada merasa nyaman. Padahal semestiya kalau berbicara Rutan maka tidak ada kewajiban dalam membuat program pemberdayaan bagi para penghuni rutan, akan tetapi agar kenyaman ditengah kondisi yang sangat memperhatikan tersebut membuat pihaknya mensiasati dengan berbagai program. “Kalau rutan itu sebenarnya tidak ada program karena didalamnya para tahanan. Tapi untuk mesiasati itu kita juga fokus pemberdayaan. Misalnya untuk mengisi waktu luang maka kita lakukan pemberdayaan untuk budidaya ikan lele  maupun kerajinan sapu yang terbuat dari sampah plastik yang ada di dalam lapas,” jelasnya.

Selain untuk menghibur mereka yang menempati ruangan yang jauh dari kata layak, namun hal itu juga diharapkan agar kedepan para penghuni lapas tersebut ketika keluar dari jeruji penjara itu, bisa bermampaat bagi orang lain. Setidaknya mampu untuk menciptakan lapangan kerja baru bagi masyarakat. “Jadi kita punya metode khusus untuk melakukan pendekatan kepada para tahanan. Karena kalau tidak ada metode khusus maka bisa saja mereka ngamuk. Dan sudah jelas dari jumlah tahanan dengan petugas rutan sangat jauh lebih banyak para tahanan,” tambahnya. (met)