Rusak, Petani Tolak Bantuan Benih Jagung

BIMA-Warga Desa Punti Kecamatan Soromandi Kabupaten Bima menolak benih Jagung bantuan dari pemda setempat.

Benih jagung itu diduga diproduksi perusahaan lokal. Benih Jagung yang diterima kelompok tani (poktan) terlihat rusak dan basah. ''Kita menolak menerima benih ini. Kita tidak mau ditipu para pengecer membagikan benih rusak,'' keberatan Fajrin, anggota Poktan Desa Punti, kemarin (28/10).

Kata dia, penolakan itu setelah mereka mengecek kualitas benih yang diterima. Menurutnya, benih Jagung hibrida jenis Bima 20 URI yang diterima, jauh beda dengan benih Bisi 18. ''Kita menduga ini benih bermasalah. Karena jauh berbeda dengan benih Bisi 18 dan benih yang lain,'' sebutnya. 

Menurut Fajrin, penolakan benih itu dari sejumlah Poktan di Desa Punti. Sebelumnya, mereka sempat menyampaikan protes pada UPT Pertanian dan Camat Soromandi. Hanya saja, saat itu mereka tidak mendapatkan penjelaskan. ''Camat dan Kepala UPT Pertanian Soromandi tidak ada di kantor saat itu,'' ujarnya.

Fajrin mengaku, sangat kecewa dengan benih Jagung bantuan itu. Mestinya kata dia, benih yang dibagikan berkualitas. ''Kita menduga benih Bima 20 URI ini benih lokal. Kita khawatir kalau ditanam, tidak tumbuh dengan baik,'' khawatirnya.

Benih tersebut katanya, diterima Poktan Dusun Dorombubu pada Selasa (25/10) sore. Dibawa salah seorang penyuluh pertanian, dikawal anggota  Koramil dan Polsek Soromandi. ''Ada 17 kardus bibit Jagung yang kita diterima,'' sebutnya.

Disebutkan, ada keanehan pada benih Jagung yang mereka terima. Pada kardus benih  tertulis Bima 20 URI, bukan Bisi 18. Juga ada tulisan SK Mentan Nomor 505/keputusan/SR.120/12/2013. Diproduksi PT Esa Sarwaguna Adinata. ''Kita mestinya mendapat benih Bisi 18. Tapi yang didrop malah bibit jenis lain,'' tanyanya.

Sementara itu, PPK Tanaman Pangan Dinas Dispertapah Kabupaten Bima Ir Beni Akbar mengatakan, belum mengetahui ada benih yang rusak. Kalaupun ada, Poktan bisa mengembalikannya. ''Kita siap terima kalau ada yang rusak. Karena itu bukan kesengajaan,'' ungkapnya, kemarin.

Kata dia, benih yang didrop itu merupakan bantuan pemerintah pusat melalui APBN 2016. Dengan anggaran Rp 10 miliar. ''Ada lima jenis benih pengadaan kita. Bukan hanya benih Bisi 18,'' ujarnya.

Dari lima jenis benih pengadaan itu, tidak satupun dari perusahan lokal. Bisa dibuktikan dengan mengecek langsung profil perusahan yang menyediakan benih tersebut. ''Ada kode alamatnya perusahaan di setiap sampul benih. Cek saja jika tidak percaya,'' katanya.

Untuk benih Bisi 18 kata Beni, produksinya terbatas. Sehingga ada pengadaan benih jenis DK, pioner dan SA (Bima 20 URI, red). ''Benih Bima 20 URI ini tidak dibuat perusahaan lokal. Kita harus bangga mestinya, karena ada perusahaan besar di Jakarta mau menggunakan nama Bima,'' pungkasnya. (dam)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid