Rumah Sakit Semipermanen Lombok Utara Bisa Digunakan Oktober

Rumah Sakit Semipermanen Bisa Digunakan Oktober
OPTIMAL : Pelayanan kesehatan RSUD KLU dioptimalkan di dalam tenda pelayanan. (HERY MAHARDIKA/RADAR LOMBOK)

TANJUNG – Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemen-PUPR) bersama Kementerian Kesehatan (Kemenkes) bakal membangun rumah sakit semipermanen di Terminal Tanjung. Di sana nanti akan menjadi tempat operasional sementara RSUD Kabupaten Lombok Utara (KLU) yang kini bangunannya nyaris roboh akibat gempa selama sebulan terakhir. “Rumah sakit semipermanen itu baru dibuat sekat-sekatnya saja, itu butuh waktu dua bulan, ditargetkan bulan Oktober baru bisa terpakai,” ujar Direktur RSUD KLU dr. H. Lalu Bahrudin kepada Radar Lombok, Sabtu (25/8).

BACA JUGA: Trauma Rumah Beton, Sebagian Korban Tolak RISHA

Diterangkan, struktur bangunan rumah sakit semipermanen itu bukan tenda. Atapnya yang menggunakan baja ringan. “Sekarang sudah ada yang ngukur pakai kayu untuk RS sementara tersebut,” jelasnya.

Sejauh ini di lokasi juga sudah ada empat kontainer multifungsi, sejumlah bahan bangunan seperti kayu. Lokasi juga sudah dipagari seng. Namun lokasi saat ini masih ditempati para pengungsi. “Informasi kita peroleh bulan Oktober baru bisa pindah ke sana,” tandasnya.

Sembari menunggu rumah sakit semipermanen selesai dibangun, pelayanan kesehatan saat ini tetap optimal di bawah tenda bantuan BNPB, TNI, dan lainnya di areal Halaman RSUD KLU. Dari 10 tenda bantuan ini, pihak RSUD sudah membaginya untuk berbagai pelayanan. “Seluruh pelayanan termasuk manajemen mendapatkan satu tenda,” jelasnya.

Di areal Halaman RSUD KLU sudah dipasang tanda, semisal untuk jalan masuk ke pelayanan, plang pelayanan, tempat parkir roda dua dan roda empat, termasuk juga jalur khusus ambulans. Di pintu pertama terdapat loket pendaftaran, kemudian ada poli khusus dan poli umum, manajemen RSUD, Irna II dan Irna II, apotek, laboratorium, dan lainnya. “Tenda yang vital dilengkapi AC seperti ruang operasi, ruang melahirkan, Poli, IGD, ICU, dan lainnya,” paparnya.

Terkait alat kesehatan (alkes) yang dimiliki RSUD memang banyak yang mengalami kerusakan. Dari 136 unit tempat tidur, yang bisa dipakai hanya 70 unit. Alat steril, dan alat operasi banyak yang tidak bisa diambil. Saat ini RSUD mengalami keterbatasan alkes. Itu semua sudah disampaikan ke Kemenkes.

Jadwal pelayanan tetap seperti hari biasa sebelum gempa. Buka pelayanan 24 jam, tenaga medis bergiliran. Yang membedakan saat ini bergiliran pagi dan malam, sebelumnya pagi-siang malam. Kebijakan itu dilakukan karena tenaga medis RSUD juga menjadi korban gempa. Saat ini pihaknya masih dibantu tenaga medis dari berbagai daerah yang menjadi relawan.

BACA JUGA: Kesan Relawan Yang Membantu Korban Gempa

Pasien yang berobat ke RSUD lebih banyak sakit ringan seperti pilek, batuk, sakit kepala. Kalau sakit berat berikut operasinya sudah berkurang. Sebenarnya RSUD hanya melayani pasien sakit berat. Namun saat ini yang berpenyakit ringan tetap dilayani karena puskesmas belum optimal. “Tanpa rujukan kami tetap layani, dalam sehari 100 pasien yang berobat,” ungkapnya.

Ia berharap pihak Dinas Kesehatan bisa memaksimalkan pelayanan puskesmas supaya rujukan ke RSUD berkurang agar pelayanan ke RSUD cukup pasien yang berat.

Jika rumah sakit semipermanen tuntas dibangun, seluruh pasien akan langsung dipindah ke sana. Sebab bangunan gedung A dan C tepatnya di depan halaman akan dirobohkan untuk dibangun ulang. Khusus pembangunan gedung A dan C kemungkinan besar bertahap. Sementara gedung lainnya masih menunggu kepastian hasil asesmen adari UGM dan Kemen-PUPR. (flo)