Rumah Adat Limbungan Kian Mempesona

RUMAH Adat Limbungan yang terletak di Desa Prigi, Kecamatan Suela, Kabupaten Lombok Timur (Lotim), merupakan desa adat tertua di Lotim, yang merupakan lokasi pemukiman masyarakat adat Limbungan turun temurun. Rumah adat yang berada di ketinggian sekitar 750 meter dari permukaan laut, dan berada di lereng Gunung Rinjani ini menjadi salah satu daya tarik kunjungan wisatawan di Lotim.

Menempuh perjalanan sekitar 15 kilometer (km) dari Kecamatan Pringgabaya, dengan waktu tempuh sekitar 20 sampai 30 menit, dengan medan jalan menanjak, ternyata menyuguhkan view alam dan laut Selat Alas yang mempesona, terutama saat cuaca cerah. Perjalanan menuju rumah adat ini akan sangat menarik, manakala kita sudah berada di pertengahan jalan. Terlebih lagi ketika telah mencapai lokasi rumah adat.

Mata kita akan dimanjakan dengan pemandangan hijaunya laut  di bawah sana, sehingga lukisan Tuhan berupa perpaduan hijaunya laut dan pulau-pulau kecil, serta deretan pegunungan Pulau Sumbawa akan sangat memanjakan mata kita. Sementara diatas, tepatnya di sebalah utara, deretan pegunungan hijau, serta rapatnya pepohonan hutan lindung juga tak kalah menariknya. Inilah sederet kelebihan yang dimiliki Rumah Adat Limbungan, dibandingkan dengan rumah-rumah adat lain di daerah ini.

[postingan number=3 tag=”wisata”]

Ditambah lagi dengan susunan rumah adat yang berdiri di lokasi sekitar 2 hektar di Limbungan Barat, dan 2 hektar di Limbungan Timur. Tertata sedemikian rupa sehingga membentuk blok, yang masing-masing blok terdapat tujuh sampai 11 rumah adat beratapkan ilalang dan berpagar bedek, serta berlantaikan tanah yang dicampur dengan kotoran sapi, serta getah pohon kayu ini. “Rumah Adat Limbungan ini ada dua di Kekadusan Limbungan Barat, dan Limbungan Timur,” kata Kadus Limbungan Barat, M. Ridwan, belum lama ini.

Sementara di wilayahnya, Limbungan Barat terdapat 74 rumah adat, 37 berada di sebelah timur jalan, dan 37 di sebelah barat jalan, yang membelah rumah adat tersebut. Kesempatan itu dia juga menceritakan sejarah keberadaan rumah adat Limbungan, yang awalnya merupakan tempat tinggal para nenek moyang masyarakat Limbungan, setelah mengungsi akibat serangan musuh (siat). Hingga setelah sekian lama mengungsi ke Pringgabaya, dan setelah aman kembali dan membentuk pemukiman hingga kini, yang diabadikan sebagai rumah adat Limbungan.

Rumah adat ini ukurannya bervariasi, tergantung dari kemampun keluarga yang mendiaminya. Jika kondisi perekonomian penghuninya cukup mampu, maka bentuk dan ukuran yang dibangun akan lebih besar. Sementara bagi yang kondisi ekonominya kurang, akan membangun rumah kecil dan seperlunya untuk ruang tidur, sekaligus ruang keluarga. Sementara dapur berada di luar, satu atap dengan lumbung yang berada di bangunan rumah utama. “Rata-rata penghuni rumah adat adalah orang-orang tua,” imbuhnya.

Limbungan-3

Hampir seluruh penghuni rumah adat ini adalah golongan orang tua, dan bahkan renta. Pasalnya, berada di lokasi rumah adat tidak dibolehkan membangun permanen dengan bata, semen, asbes atau genteng, serta seng. Melainkan jika ingin membangun permanen maka siapapun itu mereka harus keluar dan membangun di luar lokasi rumah adat. Sehingga tak heran bila kemudian jarang terlihat penghuni yang masih muda akan mendiami rumah adat ini. Kecuali bagi yang sama sekali tidak mampu dan tidak memiliki tanah untuk tempat membangun rumah.

Tak heran bila di rumah adat Limbungan ini, pengunjung hanya akan menyaksikan para orang tua yang sudah uzur saja. Sementara anak-anak tidak akan ditemukan disini, kecuali mereka main-main atau menjenguk keluarganya. Kalaupun ada anak-anak mendiami rumah adat ini juga tak banyak, dan dipastikan mereka adalah dari keluarga yang tidak memiliki lahan untuk membangun rumah di luar kompleks rumah adat.

“Beberapa tahun terakhir tingkat kunjungan ke rumah adat berkurang, diakibatkan infrastruktur menuju ke sini sangat jelek, dan nyaris tak dapat dilalui kendaraan. Tapi kini sudah hotmik sampai rumah adat,” jelasnya.

Rusakmya infrastruktur jalan dikatakan sangat berpengaruh terhadap kunjungan wisatawan, terlebih medannya adalah tanjakan yang cukup terjal. Namun setelah jalannya baik dan di hotmik, ternyata juga tidak relevan dengan kenaikan tingkat kunjungan. Pihaknya berharap para pelaku wisata melalui Pokdarwis yang telah diberi wewenang untuk mempromosikan rumah adat ini, dapat membantu tingkat kunjungan nantinya.

“Guna mengejar tingkat kunjungan sesuai program pemerintah provinsi untuk mendatangkan kunjungan tiga juta wisatawan, sehingga kemudian pemerintah melakukan penataan mulai tahun ini,” kata Kadis Pariwisata Lotim melalui Sekdisnya, H. Jamaludin.

Sebanyak Rp 2,5 miliar dianggarkan pemerintah kabupaten melalui APBD guna menata kawasan rumah adat yang berada di Limbungan Barat dan Timur ini. Bahkan tahun ini juga dianggarkan sebesar Rp. 9,5 miliar, yang seluruhnya diperuntukkan bagi penataan fisik, rehab rumah dan jalan, serta pengadaan MCK umum. Mengingat program kebersihan dan kesehatan menjadi prioritas, sehingga kawasan ini selain tertata rapi dengan jalan yang dilapisi kerikil, juga penghuninya akan bersih dan tak membuang kotoran di sembarang tempat.

Jika penataan yang ditrgetkan selama tiga tahun, baik rumah maupun infrastrukturnya  sudah selesai, maka akan beranjak pada tahapan berikutnya, yakni penciptaan Sumber Daya Manusia (SDM) yang akan mengelola kegiatan yang mendukung. “Kalau bagus jalannya, sementara penataan belum kita lakukan, kami takutnya para wisatawan yang datang akan kecewa. Sehingga kami mengambil langkah penataan lebih awal,” urainya.

Kumuh,  tentu hal ini sangat tidak dinginkan. Sehingga penataan sekaligus menjadikan lokasi rumah adat ini bersih dari kotoran, dan warga juga diarahkan untuk membuang air besar atau kecil pada MCK yang telah dibuat di sekitar lokasi rumah adat. “Program pemerintah tepat, membuat daya tarik sehingga wisatawan mau berkunjung, dan kemudian baru akan mempersiapkan sarana pendukung lainnya, infrastruktur ataupun SDM,” paparnya.

Mengenai program mempromosikan rumah adat Limbungan ini dikatakan telah dilakukan melalui berbagai cara. Salah satunya melalui Website milik Dispar Lotim. “Kita sudah masukkan di website, bahkan kita juga sudah melakukan  studi banding ke rumah adat Penglipuran Bali,” ungkapnya.

Selain itu juga studi banding ke Desa Gel-Gel Bali untuk pembinaan SDM bagi peningkatan skill para pengrajin. Sehingga kelak setelah penataan fisik tuntas dilakukan, kemudian tinggal mengatur tata ruang dan sarana pendukung. Misalnya penetapan dimana lokasi kuliner, sarana yang menyediakan souvenir, dan lainnya. “Ini semua dilakukan dalam upaya mendukung dan melaksanakan program Dinas Pariwisata Provinsi NTB, yang menargetkan kunjungan 3,5 juta wisatawan,” tegasnya. (lal)

BACA JUGA :  Dinas Pariwisata Jual Pantai Lawata dan Kolo