Ruang Belajar SDN 1 Jenggala Memprihatinkan

RUSAK PARAH: Kondisi SDN 1 Jenggala, Kecamatan Tanjung masih rusak parah pasca-gempa 2018. Akibatnya siswa belajar di kelas yang terbuat dari bambu beratapkan daun kelapa. (IST/RADAR LOMBOK)

TANJUNG–Gedung SDN 1 Jenggala di Kecamatan Tanjung, Kabupaten Lombok Utara (KLU) dalam kondisi memprihatinkan. Sejak kerusakan akibat gempa 2018, hingga kini belum diperbaiki. Akibatnya, selama tiga tahun para siswa belajar di kelas yang terbuat dari bambu dengan beratapkan pohon kelapa.

“Tadi pagi (kemarin) kami turun bersama Dinas PUPR mengecek kondisi sekolah tersebut. Kondisi sekolah itu sudah tidak layak lagi karena rusak akibat gempa 2018,” ungkap Ketua Komisi III DPRD KLU Artadi kepada Radar Lombok, Selasa (4/1).

BACA JUGA :  Bosda Guru dan Tenaga Kependidikan di Lombok Utara Dicairkan

Diungkapkan, sekolah itu sudah ada sejak 1945 dan kini hancur akibat gempa. Sesuai hasil diskusi dengan Dinas PUPR dan Dikbudpora akan diupayakan dianggarkan melalui APBDP 2022 dengan estimasi kebutuhan Rp 300 juta untuk perbaikan. “Dikbudpora juga sudah mengusulkan sekolah tersebut ke pusat lewat dana alokasi khusus (DAK),” katanya.

Adapun jika ingin membangun kembali tentu membutuhkan anggaran lumayan besar. Sehingga untuk sementara akan diperbaiki dulu agar anak-anak bisa belajar di tempat yang lebih layak. “Kita sudah minta di APBDP 2022 diprioritaskan,” imbuhnya.

BACA JUGA :  Bayar Rp 20 Juta, Wabup Keluhkan BPJS Kesehatan

Selain SDN 1 Jenggala, pihaknya kata Artadi juga meminta Dikbudpora agar mencatat mana sekolah yang belum terbangun pascagempa, kemudian diusulkan ke pemerintah pusat atau dianggarkan di APBD pada tahun-tahun berikutnya. Jangan sampai kemudian tidak diperhatikan. (flo)