RSUD Provinsi NTB Disomasi Pasien

RSUD PROVINSI NTB: Tampak foto gedung RSUD Provinsi NTB di Jalan Prabu Rangkasari, Dasan Cermen, Kecamatan Sandubaya, Kota Mataram, ketika dilihat pada malam hari.(ROSYID/RADAR LOMBOK)

MATARAM — Salah satu pasien Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Provinsi NTB bernama Mastampawan, asal Desa Brang Kolong, Kecamatan Plampang, Kabupaten Sumbawa, melayangkan somasi ke pihak rumah sakit setempat. Pihak RSUD Provinsi NTB diduga telah melakukan malpraktek selama dirinya berobat.

Somasi dilayangkan perempuan tersebut, melalui kuasa hukumnya, Abdul Hanan. Dimana Hanan menceritakan kliennya datang ke RSUD Provinsi NTB untuk berobat kemoterapi atas penyakit yang diderita, kanker payudara. Sebelum dilakukan tindakan kemoterapi, seluruh badan kliennya normal, dan tidak ada gangguan, termasuk adanya penyakit bawaan.
Akan tetapi kondisi kliennya mulai berubah usai disuntikkan suatu cairan pada bagian tangan sebelah kiri. “Akan tetapi (setelah) disuntik di tangan, tahu-tahu bengkak semuanya,” ucap Hanan, Kamis (20/6).

Bahkan reaksi cairan yang disuntikkan perawat tersebut, terjadi hanya dalam hitungan menit saja. “Setelah pergantian shift perawat, langsung reaksinya. Tidak sampai sehari (reaksi cairan yang disuntikkan). Yang menyuntik perawat, bukan dokter,” sebut Hanan.

Sebelum melayangkan somasi, pihak RSUD dan keluarga kliennya pernah membicarakan persoalan yang dialami Mastampawan, akan tetapi tidak ada kejelasan dan pertanggungjawaban yang didapatkan kliennya. “Karena pihak keluarga tidak puas, makanya kami somasi. Ini somasi pertama,” sebut Hanan.

Disampaikan, kliennya itu mulai berobat di RSUD Provinsi NTB sekitar bulan April 2024 lalu. Selama berada di RSUP NTB, kliennya itu ditangani oleh dr. Ramses Indriawan SpB,Subsp.Onk (K) di ruangan Laboratorium Patologi Anatomi. Saat ini kliennya masih dirawat di sana.

Baca Juga :  Ini Jadwal Imsak dan Buka Puasa Hari Rabu 13 Maret 2024 di NTB

Selama dirawat, kliennya tidak pernah menerima penjelasan atau tindakan yang dilakukan perawat. Termasuk menjelaskan jenis cairan yang disuntikkan ke tangan kiri kliennya. “Seharusnya dilakukan suntikan Fine Needle Aspiration Biopsy (FNAB) pada benjolan kanker payudara,” katanya.

Kliennya pernah menanyakan kenapa tangan kirinya membengkak setelah disuntik, juga menanyakan cairan apa yang disuntikkan tersebut. Akan tetapi kliennya tidak mendapatkan jawaban atas pertanyaannya.

“Dokter juga tidak ada satu pun yang melakukan kunjungan atas tindakan yang dilakukan perawat tersebut. Padahal atas tindakan tersebut, kondisi tangan kiri klien kami semakin parah dan mengalami luka yang melebar,” ujarnya.

Lebih lanjut disampaikan, pihak dr Ramses Indriawan pernah mengunjungi kliennya pada Rabu (12/6) lalu, namun pihak keluarga kliennya tidak mendapatkan penjelasan medis terkait yang dialami.
“Jadi itu alasan kami mengajukan somasi pertama ke pihak Direktur RSUD Provinsi NTB untuk mempertanggungjawabkan atas dugan kelalaian tindakan medis di RSUD Provinsi yang dilakukan oleh perawat dan dokter yang bertanggungjawab atas klien kami,” tegasnya.

Somasi itu dilayangkan Kamis (20/6), dan jika pihak RSUD Provinsi NTB tidak merespon somasi tersebut dalam tiga hari setelah somasi dilayangkan, maka pihaknya mengancam akan membawa kasus tersebut ke ranah hukum maupun perdata ke pengadilan.

“Kami minta pihak RSUD Provinsi (NTB) menyelesaikan persoalan tersebut paling lambat 3 hari, terhitung sejak tanggal surat ini (Kamis, 20/6). Dan apabila tidak ada penyelesaian sampai batas waktu tersebut, maka kami menganggap pihak RSUD Provinsi tidak mempunyai iktikad baik untuk menyelesaikan. Maka kami akan melanjutkan kasus ini secara pidana maupun perdata,” tegas Hanan.

Baca Juga :  Kades Jadi Vote Getter Capres Bakal Ditindak

Tindakan tersebut mengarah ke perbuatan tindak pidana sesuai Pasal 359, Pasal 360 dan/atau Pasal 361 KUHP tentang Pertanggungjawaban Pidana Terkait Malpraktek Medik juncto Pasal 190 Ayat (1) Undang-Undang No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan. “Ancamannya 5 tahun penjara. Sedangkan terkait pasal kesehatan itu ancaman pidananya 2 tahun,” sebut Hanan.

Terpisah, Dirut RSUP NTB dr. Lalu Herman Mahaputra menyatakan bahwa dokter yang menangani pasien tersebut, sudah menjelaskan apa yang terjadi. “Pihak keluarga sudah dijelaskan. Semua yang kita lakukan ini berdasarkan tindakan medis,” ujar dr Jack, sapaan akrabnya.

Terkait somasi yang dilayangkan pasien asal Kabupaten Sumbawa itu, pihaknya tidak mempermasalahkan. “Kalau memang dia tidak terima, tidak apa-apa. Silakan saja kalau mau somasi, kan bisa langsung ketemu sama dokternya kalau belum puas,” kata dr Jack.

Menurut dr Jack, pihak medis sudah bekerja sesuai dengan keahliannya. Dalam hal in, pihak rumah sakit tentu saja menginginkan semua pasiennya sembuh. “Mana ada dokter yang menginginkan pasien tidak sembuh. Tidak ada manusia seperti itu. Kita serahkan ke medik, dokter yang merawatnya,” pungkas dr Jack. (sid)

Komentar Anda