Rina Rawianou, Satu-satunya Wasit Perempuan Sepak Bola asal NTB

Rina Rawianou Satu-satunya Wasit Perempuan Sepak Bola asal NTB
LANGKA: Rina Rawianou di sela-sela memimpin sebuah pertandingan sepak bola di Sumbawa Barat. Rina satu-satunya wasit perempuan sepak bola di NTB yang memegang lisensi C3. (ist for Radar Lombok)

Masih sedikit perempuan di NTB yang berkiprah di  olahraga sepak bola, apalagi menjadi wasit. Dari sedikit itu, ada Rina Rawianou. Dialah satu-satunya wasit perempuan di NTB yang telah mengantongi lisensi C3 nasional.Bagaimana ia bisa menekuni menjadi wasit pertandingan sepak bola?


ABDI ZAELANI-MATARAM


Rina Rawianou  seperti para perempuan umumnya. Dia tetap tampil anggun. Penampilannya itu akan berubah saat dia di lapangan.  Mengenakan kaos dan celana pendek serta sepatu bola, Rina berlari dengan lincahnya.  Suaranya pun tegas manakala dia harus mengeluarkan putusan.

Itulah sosok Rina saat menjadi wasit pertandingan sepak bola. Rina sejak dua tahun ini menjadi wasit sepak bola. Rina sejak 2015 resmi mendapatkan lisensi C3 sebagai satu-satunya wasit perempuan di NTB.  Sejak resmi menjadi wasit Rina sudah terlibat dalam berbagai pertandingan resmi yang digelar di Sumbawa Barat.

Rina lahir   Salante, 10 Februari 1983  dari pasangan  R Musatami LM  dan  Syhara.  Kini, dia tercatat sebagai pegawai Pemkab Sumbawa Barat. Kecintaannya terhadap sepak bola menurun dari   sang ayah yang  mantan penjaga  gawang  Persisum Sumbawa di era tahun 1970 – 1980-an.  Saudara-saudaranya-pun tercatat sebagai pemain sepak bola. Sejak kecil Ia selalu diajak menonton ketika sang ayah atau saudaranya bertanding.

[postingan number=5 tag=”sepakbola”]

Sebelum menggeluti dunia sepak bola, ternyata Rina menggeluti voli, namun keinginan dan rasa inging tahu di dunia sepak bola rupanya sudah tumbuh saat duduk di bangku SD.  Tidak jarang ia ikut bermain bola bersama anak laki-laki di kampungnya.

Kecintaannya, bahkan membuat Rina pernah bercita-cita menjadi pemain sepak bola. Namun karena di NTB belum dipertandingkan dan tidak ada klub sepak bola perempuan,  impian itu terpaksa dipendam.

Kecintaan yang demikian besar terhadap sepak bola, menjadi alasan paling kuat yang melatarbelakangi keputusan Rina menjadi wasit.

’’ Saya menjadi wasit bola itu karena unik dan ada tantangan tersendiri karena rata-rata wasit bola itu cowok dan ini saya buktikan bahwa kesetaraan itu penting,’’ paparnya kemarin.

Bukan hanya itu, baginya wasit sepak bola juga bisa membentuk menjadi pribadi yang tegas dan mampu bersikap adil dalam kondisi apapun. Pahit getir saat memimpin pertandingan sudah biasa, bahkan kata-kata kotor sering keluar dari pemain dan kadang-kadang ada yang tidak mengikuti omongan wasit.’’ Kalau mengganggu secara langsung tidak ada, hanya saja ada pemain yang pernah mengeluarkan kata-kata kotor dan kadang-kadang tidak mendengarkan wasit,’’ ujarnya.

Saat bertugas di lapangan pihaknya menjunjung tinggi jiwa sportivitas dalam olahraga itu sendiri.  Baginya dunia olahraga adalah sportivitas.’’  Insya Allah , selama saya memimpin pertandingan saya tidak pernah memihak kepada salah satu tim dan tegas dalam saat mengambil keputusan,’’ ungkapnya.

Rina mengakui menjadi wasit sebenarnya tidak gampang. Perasaan grogi dan was-was serta takut salah dalam mengambil dan membuat keputusan setiap terlibat dalam pertandingan pasti selalu ada. Tetapi ia yakin ketika setiap keputusan diambil dengan tegas tanpa memihak, pasti tidak akan ada persoalan. “Mungkin karena saya seorang perempuan yang terkadang dianggap remeh, jadi perasaan was-was kadang muncul. Tapi itu wajar sekaligus tantangan bagi kaum perempuan yang ingin  menggeluti profesi ini,” jelasnya.

Selain faktor pemain, kondisi cuaca juga bisa menjadi kesulitan tersendiri saat memimpin pertandingan.  Saat hujan besar dan lapangan tergenang air,  bisa saja penglihatan bermasalah sehingga keputusan yang diambil bisa merugikan salah satu pemain.‘’ Ini kondisi yang saya jumpai saat hujan  tersebut. Ini memontum yang tidak saya lupakan saat memimpin pertandingan,’’ tuturnya.

Rina berharap, ada perempuan lain di NTB yang mengikuti jejaknya menjadi wasit. Menurutnya, perempuan tidak perlu takut menggeluti  profesi itu agar kedepan akan lebih banyak lagi wasit perempuan di Indonesia. “Dengan bekal lisensi C3 saat ini, setidaknya saya bisa membuktikan bahwa perempuan juga mampu menjadi pengadil di lapangan. Saya juga merasa bangga dan senang sekali karena keberadaan saya sebagai wasit wanita diterima dengan baik dan teman-teman sangat membantu serta mendukung saya,” ungkapnya perempuan yang masih lajang ini. (*)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid