Ribuan Warga Surabaya Terpesona Parade Budaya Lombok Sumbawa

PARADE BUDAYA: Tampak para peserta Parade Budaya Lombok Sumbawa dengan penuh semangat menyusuri Jalan Raya Darmo Surabaya, ketika acara CFD Minggu pagi kemarin (20/11). (SIGIT SETYO/RADAR LOMBOK)

SURABAYA—Car Free Day (CFD) di Jalan raya Darmo Surabaya, Provinsi Jawa Timur (Jatim), yang setiap hari Minggu selalu ramai dengan ribuan warga yang sedang berolahraga, Minggu pagi kemarin (20/11), dikejutkan oleh arak-arakan, atau parade seni budaya yang digelar Pemerintah Provinsi NTB, melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) NTB.

Sekitar 100-an peserta parade budaya NTB, yang terbagi dalam tiga kontingen seni dan budaya mewakili tiga etnis besar di NTB, yaitu suku Sasak, Samawa, dan Mbojo, unjuk kebolehan kepada warga Kota Surabaya yang memadati arena CFD di Jalan Darmo Surabaya.

Parade seni budaya dalam rangka promosi pariwisata NTB kali ini di Surabaya, merupakan rangkaian terakhir dari promosi sejenis yang pernah dilaksanakan di kota-kota besar di Indonesia, seperti di Jakarta, Bandung, Makassar, dan terakhir untuk tahun 2016 ini di Surabaya.

“Ada tiga seni budaya NTB yang dipertunjukkan kepada warga Kota Surabaya, yaitu tradisi Nyongkolan untuk pengantin warga suku Sasak di pulau Lombok. Berikutnya tradisi pernikahan warga suku Samawa di Sumbawa, dan parade busana adat Rimpu pada suku Mbojo. Selain itu, masing-masing tradisi diiringi oleh atraksi kesenian Gendang Beleq, Rebana, Tari Sirmale, tari Gandrung, dan lainnya,” kata Kepala Disbudpar NTB, sesaat sebelum melepas secara resmi Parade Budaya Lombok Sumbawa, dengan didampingi Sekretaris Disbudpar Kota Surabaya, dan sejumlah pejabat terkait.

Sebelumnya, Ketua DPD Asita Jatim, Arifuddinsyah, mengaku sangat bangga kaena daerahnya dipilih oleh Pemda NTB untuk menyelenggarakan promosi wisata.  “Kami sebagai warga Kota Surabaya merasa bangga, sekaligus menyambut hangat kedatangan saudara-saudara kami dari NTB, yang telah mempercayai Kota Surabaya sebagai lokasi promosi pariwisata NTB. Ini sungguh program yang luar biasa,” ujarnya.

Jujur saja sambung Arifuddinsyah, pihaknya merasa iri dan cemburu dengan perhatian Pemda NTB kepada sektor kepariwisataan dan para pelaku usaha wisatanya. Termasuk memberikan anggaran promosi begitu besar kepada Disbudpar NTB, bahkan menghibahkan dana mencapai hampir Rp 7 miliar per tahun untuk Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) NTB.

Perlakuan itu justeru berbeda seratus derajat dengan Pemda Jatim yang masih minim perhatiannya untuk sektor kepariwisataan. “Padahal potensi pariwisata di Jatim besar. Sehingga kami harus banyak belajar dengan Pemda NTB, dan para pelaku usaha wisatanya,” beber Arifuddinsyah jujur.

“Sebagai Ketua DPD Asita Jatim, saya juga sekaligus Wakil Ketua BPPD Jatim. Sehingga saya mengetahui persis, kalau BPPD Jatim memang tidak pernah dianggarkan oleh Pemda Jatim. Sejak keberadaan BPPD Jatim, nol persen anggaran dari Pemda. Sehingga kami para pelaku usaha wisata di Jatim belum bisa bergerak promosi gencar seperti Disbudpar NTB dan BPPD NTB yang ternyata sangat kaya,” candanya.

Menurutnya, Kota Surabaya sebagai daerah yang unggul dalam sektor jasa dan perdagangan, tentu sangat tepat menjadi lokasi promosi pariwisata. Apalagi promosi dilakukan pada saat CFD, dimana hampir seluruh warga Kota Surabaya tumpah ruah melaksanakan aktifitas olahraga pagi, atau belanja, dan lainnya.

“Sebagai kota terbesar kedua setelah Jakarta, Kota Surabaya merupakan hub, atau tempat transit masyarakat dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan mancanegara, sebelaum nantinya mereka melanjutkan perjalanan ke daerah tujuan masing-masing di Indonesia. Selain itu, di Jawa Timur ini setiap tahun ada pergerakan 4,5 juta wisatawan domestik, yang tentu saja merupakan pasar wisatawan yang cukup potensial bagi NTB,” terang Arifuddinsyah.

“Saya pernah berkunjung ke Lombok, dan dibawa keliling ke berbagai destinasi wisata yang sangat indah oleh saudara saya Ketua DPD Asita NTB (Dewantoro Umbu Djoka). Jadi kami sebagai pekerja usaha wisata di Jatim, setelah melihat potensi yang begitu bagus di Lombok, jujur kami tidak akan kesulitan menjual Lombok menjadi paket wisata kami,” urai Arifuddin.

Sementara Ketua DPD Asita NTB, Dewantoro Umbu Djoka, yang juga ikut menjadi kontingen peserta Pawai Budaya Lombok Sumbawa menyampaikan ucapan terima kasih kepada Pemprov jatim, khususnya Pemkot Surabaya, dan para pihak yang telah membantu kelancaran kegiatan Direct Promotion Lombok Sumbawa di Kota Surabaya.

“Setelah sehari sebelumnya melaksanakan temu bisnis atau table top dengan para pelaku usaha wisata di Provinsi Jatim, termasuk Kota Surabaya. Kemudian Parade Budaya Lombok Sumbawa di CFD Darmo Surabaya, maka sebagai rangkaian terakhir kegiatan promosi wisata NTB yakni mengikuti Pameran Ekonomi Kreatif di Jatim Ekspo, yang merupakan agenda pameran terbesar di Jawa Timur,” jelas Wanto, sapaan akrabnya.

Melalui berbagai kegiatan ini, pihaknya berharap bisa menjadi pengetahuan bagi warga Kota Surabaya tentang keindahan dan keunikan aneka seni dan budaya yang ada di Lombok dan Sumbawa, yang pada akhirnya nanti bisa menjadi ketertarikan untuk berwisata ke NTB.

“Mewujudkan target kunjungan 3 juta wisatawan ke NTB tahun ini (2016), dimana dari hasil up date data Disbudpar NTB bekerjasama dengan BPS NTB dan GIZ, hingga bulan November ini angka wisatawan yang berkunjung ke Lombok dan Sumbawa telah mencapai di angka 2.800-an. Hingga akhir tahun, dimana merupakan bulan-bulan ramai tamu, kami meyakini target angka kunjungan 3 juta wisatawan akan terpenuhi, bahkan mungkin lebih,” sahut Kepala Disbudpar NTB, HL Moh Faozal. (gt)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid