Ribuan Pendaki Rinjani Di-Blacklist

Keindahan Gunung Rinjani tetap saja menarik minat pendaki untuk didaki meskipun di masa pandemi Covid-19 ini.(ist)

MATARAM-Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR) melakukan blakcklist terhadap 1906 pendaki sejak pendakian Gunung Rinjani dibuka Agustus 2020 lalu. 

Para pendaki yang dimasukkan dalam daftar hitam ini tidak mematuhi Standar Operasional Prosedur (SOP) pendakian. Salah satunya artis Fiersa Besari yang belum lama ini di-blacklist.

Kepala BTNGR Dedy Asriady membenarkan bahwa artis Fiersa Besari telah di-blacklist karena dianggap sudah melanggar SOP. “Ya benar itu (Fiersa Besari) di-blacklist karena (pendakian) melebihi waktu yang sudah ditentukan, over time namanya,” ungkapnya.

Tidak hanya Fiersa Besari yang masuk daftar pendaki yang telah di-blacklist tapi sudah ribuan orang. Sejauh ini, kata Dedy, mereka melakukan kesalahan seperti melanggar SOP maupun melanggar aturan yang sudah ditetapkan BTNGR. Lalu persoalan sampah serta tidak melapor saat chek out.”Seribu lebih pendaki yang sudah di-blacklist. Kalau teknisnya  baca aja ya, pokoknya seribu lebih. Kasusnya berbeda-beda pak, ada yang over time, ada karena sampah, ada yang tidak chek out,”katanya.

Dedy menyebut memasukkan mereka dalam daftar black list sebagai salah satu hukuman. Namun ada juga sanksi-sanksi yang lain yang diberlakukan tergantung jenis pelanggaran yang dilanggar pendaki berdasarkan SOP yang ada.

Terpisah, Kepala Subagian Tata Usaha TN Renjani, Dwi Pangestu menambahkan sejak dibuka pendakian dimasa pendemi Covid-19 ini setidaknya jumlah pendaki yang masuk daftar blacklist sebanyak 1.906 orang. “Semua yang over time sesuai dengan penerapan SOP sudah jelas diatur, bagi pendaki yang melanggar ketentuan yang ada, salah satunya melebihan dua hari satu malam, maka salah satu sanksinya adalah di- blacklist. Jumlahnya sampai saat ini sekitar 1.906 orang pendaki termasuk di dalamnya Fiersa Besari,”tambahnya.

Mengenai siapa saja wisatawan yang sudah masuk daftar di blacklist ? kata Pengestu, ada dari wisatawan lokal maupun domestik. Tapi yang paling banyak tentu wisatawan lokal. “Saya tidak bisa sembutkan siapa saja orang-orangnya, tapi yang jelas ada wisatawan lokal, domestik kalau dari mancanegara tidak ada yang di-blacklist,”katanya.

Bagi pendaki yang sudah masuk daftar di-blacklist, sambungnya, maka secara otomatis tidak diizinkan mendaki selama dua tahun. “Karena ini salah satu penerapan dari SOP kita, apalagi di era penerapan protokol Covid-19 ini. Maka yang sudah di- blacklist  kita tidak izinkan mendaki selama 2 tahun bagi pelanggar SOP terutama melebihi waktu yang sudah diterapkan,”katanya.

Pengestu juga tegaskan, berdasarkan SOP pendakian di masa pendemi Covid-19, pendaki hanya diperbolehkan dua hari satu malam. Bagi yang melanggar maka akan diberikan sanksi sesuai dengan aturan dalam SOP. “Jadi kita sangat ketat di masa pandemi Covid ini, bagi pendaki yang melanggar SOP, ya salah satunya kita berikan sanksi di- blacklist, oleh karena itu kita minta kepada pendaki jika melebihi waktu akan mengkonfirmasi kepada kami, bagitu juga yang belum melakukan chek out, supaya ini bisa menjadi evaluasi kami,”ucapnya.

Sejak dibuka Agustus lalu, untuk jalur pendakian ke Gunung Rinjani, dibuka empat jalur. Yakni jalur Senaru, Sembalun, Aik Berik dan jalur Timbanuh. Dengan kuota masing-masing jalur setiap hari ada yang 45 orang, 40 orang dam ada juga yang 30 orang di dua jalur. “Dengan kouta yang ada, harapan nanti kedepan kita bisa tingkatkan kouta yang sudah ada. Sembalun sekarang ini koutanya 45 orang, kalau Aik Berik dan Timbanuh masing-masing 30 orang. Mudah-mudah kedepan bisa ditingkatkan,”harapnya.

Oleh sebab itu, pihaknya saat ini sedang menjaga agar kedepan kouta bisa ditingkatkan dengan penerapan SOP pendakian di masa pendemi Covid-19. “Makanya kita sedang menjaga kondisi, keamanan, setidaknya tidak melanggarlah di masa pendemi ini. Soal dikhawatirkan tempat wisata jadi klaster baru penularan Covid kalau menggar protokol kesehatan,”katanya.

Data BTNGR sejauh ini telah mencatat sebanyak 3.799 pendaki yang sudah menjajal keindahan Rinjani sejak dibuka Agustus lalu di tengah pandemi Covid-19. Dari jumlah tersebut, sebanyak 3.740 pendaki lokal. Sisanya merupakan pendaki domestik dan mancanegara. (sal)