Rencana Aksi Rehabilitasi Rekonstruksi Disusun

SEDIMENTASI: Penyebab banjir di wilayah Kota Bima adalah sedimentasi di sejumlah aliran sungai dan laut.

KOTA BIMA-Dua pekan lagi Kota Bima memasuki status tahap rehabilitasi dan rekonstruksi. Dalam status ini pemerintah kota harus membuat rencana aksi.

Karena tidak mau menyalahi aturan, pemerintah kota (Pemkot) menggandeng Bappenas dan BNPB. Bahkan kemarin, tim sudah melakukan rapat pendahuluan. Plt Kabag Humas dan Protokol Syharial Nuryadin SIP MM menyampaikan banyak hal dalam rapat tersebut. Diantaranya, penetapan waktu pelaksanaan rahab dan rekonstruksi. "Dalam jangka waktu 2  hingga 6 bulan, dilakukan pemulihan kondisi, kehidupan sosial dan budaya. Pemulihan kondisi kehidupan ekonomi. Kemudian penyiapan revisi rencana tata ruang wilayah dan masterplan pembangunan kota," gambarnya.

Pada jangka waktu enam hingga 12 bulan, dilakukan pembangunan prasarana dan sarana dasar. Pembangunan prasarana dan sarana ekonomi, serta pembangunan sarana dan prasarana transportasi dan komunikasi. Kemudian jangka waktu 13 hingga 36 bulan dilakukan penataan perumahan dan permukiman. Rehabilitasi kawasan hulu, penataan daerah aliran sungai. "Pak wali berharap finalisasi rencana aksi sudah bisa dilaksanakan pada hari Senin pekan depan," tuturnya.

[postingan number=3 tag=”bima”]

Diungkapkannya, dalam rapat tersebut dihadiri perwakilan dari Bappenas dan BNPB. Rapat dipimpin Wakil Wali Kota Bima HA Rahman H Abidin.

Di lain sisi, Wali Kota Bima HM Qurais H Abidin mengutarakan salah satu penyebab banjir. Yakni sedimentasi di teluk Bima. Kondisi ini membuat air yang harusnya mengalir ke laut malah terhambat. "Sekitar 8 centimeter sedimentasi di teluk Bima setahun," ujarnya pada kepala BNPB Laksamana Muda TNI (Purn.) Willem Rampangilei, kemarin.

Saat ini lanjutnya, sedimentasi di teluk Bima ini sudah sangat parah. Terbukti, dulu di muara sungai warga tidak bisa berjalan ke tengah laut. Tapi kerana sedimentasi dari kali Padolo, sekarang warga bisa berjalan kaki hingga ke tengah laut. "Bapak bisa lihat, lebih panjang sedimentasi dari pada dermaga Pelabuhan Bima," katanya saat mengecek kondisi teluk di Pelabuhan Bima.

Bila sedimentasi tersebut bisa dikeruk, resiko banjir bisa dikurangi. Sebab air sungai akan mengalir dengan lancar ke hulu. Dia berharap, ada dukungan dari BNPB terkait penyelesaian persoalan tersebut. Dengan cara mengeruk sedimentasi di teluk Bima.

Kepala BNPB Laksamana Muda TNI (Purn.) Willem Rampangilei membenarkan analisa HM Qurais. Bahkan dia mengaku akan menuntaskan persoalan tersebut. "Semua sudah kami analias terkait penyebab banjir. Dan saya baru tahu kalau masih ada satu masalah lagi yang belum dianalisa yaitu sedimentasi di teluk Bima," akunya, kemarin.

Melihat kondisi tersebut dia mengaku akan berkoordinasi dengan kementerian terkait. Supaya ada solusi terkait persoalan tersebut. "Penanganan bencana itu lintas sektoral. Sehingga kami akan berkoordinasi dengan kementerian terkait, untuk mencari solusi masalah ini," tegasnya.

Pada kesempatan itu, Willem memerintahkan bawahannya untuk mengambil gambar sedimentasi di teluk Bima. Gambar kondisi teluk Bima tersebut nantinya akan dijadikan bahan koordinasi. (nk)