Rayasa dan Samsul Hadi, Pembaharu Muda Indonesia dari Mataram

Tulisan mereka tentang daerah yang harus bebas dari rokok dan iklan-iklan rokok membuat dua remaja Mataram ini menjadi bagian dari 20 Pemuda Pembaharu Indonesia 2016 yang baru saja terpilih.

 

 


ZULFAHMI-MATARAM


 

Berlatar belakang aktivitasnya di Lembaga Perlindungan Anak(LPA) Kota Mataram sejak tahun 2010, pemuda bernama lengkap Rayasa Puringgar Prasadha Putra kelahiran Solo 4 Oktober 1995, dan Samsul Hadi, pemuda 18 tahun mengenal banyak permasalahan anak di daerah ini. Begitu juga  program tentang anak-anak yang diprogramkan oleh Pemerintah Kota Mataram.

Saat ditemui disela-sela kegiatan Kapsul Waktu  FCTC di Kota Mataram  Senin kemarin (18/7), Rayasa dan Samsul menceritakan bagaimana perjalananya sampai bisa terpiliha dan mendapatkan  Training Pembaharu Muda  yang diselenggarakan oleh Lentera Anak Indonesia dan Gerakan Muda  FCTC (Framework Covention on Tobbaco Control.) yang dilaksanakan pada bulan April 2016 lalu.

Samsul menuturkan perjalanan dirinya sampai bisa terpilih sebagai  Pembaharu Muda mengalahkan  ratusan peserta yang lainnya  yakni tidak terlepas dari seleksi yanh diikuti. Ada 180 peserta dari seluruh Indonesia yang mengikuti seleksi ini.

" Kita diseleksi dari 180 pendaftar yang ikut menjadi Pemuda Pembaharu Indonesia," paparnya.

Selama mengikuti  seleksi,   panitia “menggempur'' peserta dengan pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan kiprahnya selama ini. “Panitia pusat melihat apa yang pernah kita laksanakan, aktivitas kita di lembaga,” ungkap mahasiswa Universitas Mataram ini.

Aktivitasnya  di organisasi dan peran yang sudah dilaksanakan menjadi nilai plus dari kedua pemuda asal Nataram ini. Sejak awal, mereka  aktif di LPA dan mengkampanyekan gerakan untuk Mataram Menjadi Kota Layak Anak dan terbebas dari asap rokok.

Selain dilihat dari nilai plus, setiap peserta juga diharuskan mengirimkan tulisan tangan  berupa tulisan esay tentang kondisi daerah tempat tinggal atau bagaimana upaya yang akan dilaksanakan untuk mensukseskan daerah bebas dari asap rokok. Keduanya mengangkat  tentang rokok dan masalah  yang ditimbulkan di Mataram." Kami menyampaikan persoalan rokok dan masalah-masalah yang ditimbulkan," terangnya.

Menurutnya  rokok  sudah mengancam generasi muda di Indonesia terutama di Mataram. Keberadaannya sangat besar gangguannya kepada pemuda." Dalam essay  kami ceritakan kondisi Kota Mataram dan apa yang ingin kami lakukan untuk Kota Mataram," tegasnya.

Apa yang mereka tuangkan dalam tulisan inilah yang membuat mereka terpilih dari 180 pemuda di Indonesia  mewakili 20 Kota di Indonesia. Persaiangan ini   membuat  mereka  termotivasi. Harapannya kedepan, dari program yang ada dalam Pemuda Pembaharu yang fokus pada kampenye anti rokok bisa dilaksanakan di Kota Mataram.

Dengan program FCTC ini, diharapkan kedepannya Kota Mataram memang menjadi Kota Layak Anal (KLA) dimana salah satu indikatornya  yakni dengan Kota Mataram bebas dari iklan-iklan rokok dan   bebas dari asap rokok." Kami berharap Mataram bisa mewujudkan mimpi kami para pemuda," harapnya.(*)