Ratusan Hektare Tanaman Tembakau Gagal Diselamatkan

TEMBAKAU: Inilah kondisi tembakau para petani yang lesu di wilayah Praya Timur akibat hujan, kemarin. (ISTIMEWA/RADAR LOMBOK)

PRAYA – Turunnya hujan di tengah musim kemarau belum lama ini berdampak buruk bagi petani tembakau. Pasalnya, tak sedikit tanaman tembakau petani gagal diselematkan. Terutama tanaman tembakau di area lahan rendah.

Catatan Dinas Pertanian dan Peternakan Lombok Tengah, terdapat sekitar 170 hektare tanaman tembakau petani yang gagal diselematkan. Luas tanaman tembakau yang mati ini diklaim lebih rendah jika dibandingkan dengan luasan lahan yang terdampak, yakni sekitar 325 hektare. “Dari 325 hektar ini, terdapat sekitar 40-50 persen atau sekitar 170 hektare yang tidak terselamatkan sekitar dan sebagian besar tanam ulang,” ungkap Sekretaris Distanak Lombok Tengah, Fathurrahman kepada Radar Lombok, Minggu (11/7).

Menurutnya, kerusakan tanaman tembakau kali ini merusakan kerusakan terparah jika dibandingkan dengan musim tanam sebelum-belumnya. “Kita dari tim bersama Pemprov NTB sebelumnya sudah turun ke lapangan untuk mengecek kondisi tembakau kita. Termasuk mendalami karakter dari pada petani kita, kondisi tanaman tembakau juga bervariasi. Karena ada yang masih kurang satu bulan dan ada yang lebih,” tambahnya.

BACA JUGA :  DPRD Loteng Sampaikan Hasil Reses

Menurut dia, area tanaman tembakau yang tidak terselamatkan ini biasanya berada di area rendah. Di area rendah itulah, ada petani yang lebih banyak memilih untuk menanam ulang. “Untuk tembakau yang berumur di bawah satu bulan, petani memilih untuk menanam ulang. Itu bagi tembakau yang ditanam langsung oleh petani,’’ tegasnya.

Soalnya, sambungnya, karakter petani di seputar wilayah Kopang dan Janapria, mereka biasanya akan menyewakan lahan area rendah. Sehingga bukan hanya petani yang mengalami kerugian langsung melainkan juga pengusaha tembakau. ‘’Petani hanya sebagian kecil yang rugi, kebanyakan pengusaha,’’ sebutnya.

Disampaikan juga, Pemprov NTB sebelumnya menawarkan agar para petani mengganti tembakau dengan menanam jagung. Tapi dari dinas melihat kondisi anomali yang hanya satu minggu dan sekarang sudah masuk musim kemarau. Maka dikhawatirkan jika dialihkan ke tanaman jagung, maka tanaman jagung nantinya mau mendapatkan air dari mana. “Di satu sisi pupuk untuk jagung juga tidak tersedia, sementara jagung membutuhkan pupuk dan oleh petani juga tidak semua menerima jagung. Maka sebagian besar petani menanam ulang tembakau dan kita belum pernah mengalami kerusakan separah ini kalau sebelumnya. Tahun ini adalah yang paling parah,” tambahnya.

BACA JUGA :  ITDC Gelar Pasar Murah dan Santuni Anak Yatim

Fathurrahman menegaskan, kondisi cuaca yang tidak bisa diprediksi membuat penyebab banyaknya yang rugi. Meski pihaknya kembali mempertegas bahwa yang mengalami kerugian adalah para pengusaha yang menyewa lahan para petani untuk kemudian mereka menanam tembakau. “Menurut BMKG ada terjadi penumpukan awan atau konfergensi awan. Sehingga anomali cuaca terjadi, terlebih dengan banyaknya kerusakan lingkungan maka secara otomatis alam juga tidak diperediksi. Kita sudah sampaikan agar petani bisa diberikan mesin perajang tapi ini masih menunggu persetujuan dari Pemprov NTB,” tegasnya. (met)