Ratusan Hektar Sawah Alami Kekeringan

KEKERINGAN
SAWAH : Seorang petani di Jerowaru Lombok Timur di tengah sawahnya yang kekurangan pasokan air menyusul terjadinya kekeringan di wilayah ini. Kekeringan akibat musim kemarau tidak hanya menyebabkan berkurangnya ketersediaan air bersih warga. Ada ratusan hektar sawah di daerah ini yang tidak mendapat pasokan air yang cukup dan terancam gagal panen. (AZWAR ZAMHURI/RADAR LOMBOK)

MATARAM – Kekeringan akibat musim kemarau tidak hanya menyebabkan berkurangnya ketersediaan air bersih warga. Ada ratusan hektar sawah di daerah ini yang tidak mendapat pasokan air yang cukup dan terancam gagal panen. 

Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi NTB, H. Husnul Fauzi, mengungkapkan dampak kekeringan hingga saat ini terhadap tanaman petani. “ Padi dan jagung yang terdampak kekeringan, itu ratusan hektar,” ungkap Husnul kepada Radar Lombok, Selasa (2/7).

Berdasarkan data Dinas Pertanian dan Perkebunan, jumlah lahan petani yang terdampak kekeringan mencapai 918 hektar. Data tersebut terhitung bulan April hingga tanggal 2 Juli 2019. Sementara kekeringan diprediksi masih akan terus terjadi untuk beberapa waktu kedepan. 

Untuk tanaman padi yang terdampak, luasnya mencapai 857 hektar yang tersebar di beberapa kabupaten. Sedangkan untuk jagung, hanya terdampak di kabupaten Lombok Barat seluas 61 hektar. “ Kondisi kekeringan yang terjadi di NTB harus diwaspadai melihat kondisi cuaca dan curah hujan yang berkurang akhir-akhir ini,” kata Husnul. 

Di kabupaten Lombok Barat, padi yang terdampak sudah mencapai 35 hektar. Kemudian di Lombok Tengah 35 hektar, Sumbawa 180 hektar dan di Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) seluas 607 hektar. “ Data yang masuk untuk wilayah Kabupaten Lombok Barat, jagung disana terdampak seperti di Desa Buwun Mas 26 hektar, Sekotong Tengah 6 hektar, desa kedaro 29 hektar,” paparnya. 

Sementara untuk wilayah Lombok Tengah, kekeringan yang berdampak pada tanaman petani terjadi di bagian Praya 15 hektar, Praya Tengah 10 hektar, Praya Barat 10 hektar dan lain-lain. “Sudah diupayakan untuk mendapatkan air. Tapi sejauh ini tidak ada yang sampai puso, hanya rusak ringan dan sedang saja,” ujar Husnul. 

Berbagai upaya telah dilakukan Dinas Pertanian dan Perkebunan untuk mengatasi kondisi saat ini. Diantaranya melakukan mitigasi seperti pompanisasi pada kantong air, embung dan tandon air. Husnul mengaku, pihaknya juga terus turun ke lapangan melakukan pemantauan terhadap tanaman petani yang rentan terdampak kekeringan. “Saya sudah minta kepada seluruh petugas untuk lebih intensif juga mengawal dampak kekeringan ini,” tandasnya. 

Kabupaten Lombok Timur juga mengalami kekeringan. Namun tidak ada data yang masuk sehingga belum diketahui jumlah lahan terdampak hingga saat ini. Salah seorang petani di Lombok Timur, Suhardi mengatakan, kondisi saat ini bukan hanya padi dan jagung saja yang mengalami kerusakan. Namun tanaman tembakau di wilayahnya juga banyak yang rusak. “Contohnya saya menanam tembakau bandong, itu sekarang rusak. Saya gak tahu apa penyebabnya, tapi tembakau saya rusak,” tuturnya. 

Petani lainnya, Hafizin, juga sangat kecewa dengan tanaman tembakau saat ini. Biaya sudah banyak dikeluarkan, namun belum masa panen sudah rusak. “Rugi kita kalau begini terus. Cabai saya juga tidak tumbuh baik, padahal saya rawat sebaik mungkin. Tapi kalau petani seperti saya ini, mana pemerintah peduli,” kesalnya.(zwr/cr-dev)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid