Ratusan Hektar Lahan Pertanian Kayangan Kekeringan

Ilustrasi kekeringan
Ilustrasi kekeringan

TANJUNG – Ratusan hektar lahan pertanian di Desa/Kecamatan  Kayangan mengalami kekeringan sejak bulan Agustus lalu.

Akibatnya, tanaman masyarakat tidak bisa panen. “Lahan pertanian yang mengalami kekeringan di desa kami telah terjadi bulan Agustus lalu. Luas lahan kering mencapai 100 hektar. Sehingga masyarakat petani ada yang sudah mulai gagal panen, dan ada juga yang belum,” ungkap Kades Kayangan, Edi Kartono kepada Radar Lombok, Kamis (13/10).

Kekeringan terjadi disebabkan oleh saluran irigasi yang mengalir dari dam sungai Santong tidak mengalir. Yang saat ini tengah ada pembangunan bak air 100 per liter perdetik tersebut. Namun, diakui bahwa kekeringan ini terjadi setiap tahun sehingga para petani tidak bisa panen ketiga. Dari 150 hektar lahan pertanian produktif seluas 100 hektar yang mengalami kekeringan. Adapun 100 hektar itu berada di P3A Lendang Jurang seluas 64 hektar, P3A Sejonggar seluas 30 hektar, dan P3A Bagek Kombar seluas 40 hektar. “Kekeringan ini juga disebabkan tidak pernah hujan di desa kami,” terangnya.

Para petani saat ini menanam kacang tanah, kacang panjang, ubi, kedelai, jagung, dan lainnya. Namun kondisi saat ini ada yang sudah mulai layu karena tidak pernah mendapatkan air. Kekeringan terjadi setiap akhir tahun, ketika memasuki awal tahun maka kondisi turun hujan sehingga masyarakat manfaat tadah hujan. Untuk bantuan dari pemerintah sejak dulu telah disampaikan tapi belum direalisasikan. “Tetapi ketika Pak Wabup turun menghadiri kegiatan di tengah-tengah masyarakat beberapa waktu lalu, kami telah mengusulkan dan Pak Wabup mengiyakan akan membangun bendungan di atas lahan 10 hektar dengan kedalaman 25 meter,” tegasnya.

Bendungan menurutnya sangat penting, karena selama ini para petani untuk mendapatkan giliran mengairi tanaman membutuhkan waktu giliran seminggu bahkan sebulan sekali sehingga membuat tananam masyarakat keburuan kering. Pembangunan bendungan itu akan direncanakan di Dusun Lendang Batu yang memanfaatkan saluran sungai Santong tersebut. Kalaupun menggunakan sumur bor telah diusulkan dan telah disurvei tim kabupaten di dua lokasi, yakni Dusun Sejogar dan Tanak Muat. “Kami tetap mengusulkan dari masyarakt, tapi mungkin karena pemda kekurangan anggara,” pungkasnya. (flo)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid