Pustu Sering Tutup, Warga Banyu Urip Terpaksa Berobat ke Loteng

PUSTU: Warga Desa Banyu Urip Kecamatan Gerung mengeluhkan pelayanan Puskesmas Pembantu (Pustu) setempat yang sering tutup dan petugas kesehatannya sering tidak ada di tempat. (IST/RADAR LOMBOK)

GIRI MENANG – Warga Desa Banyurip Kecamatan Gerung memprotes pelayanan kesehatan di desa mereka. Keberadaan Puskesmas Pembantu (Pustu) di desa ini dianggap belum memberikan pelayanan maksimal kepada masyarakat.

Hal ini disampaikan Johri, warga Desa Banyu Urip kemarin. Ia mengungkapkan, keberadaan Pustu tersebut belum memberikan pelayanan maksimal kepada masyarakat karena sering tutup. Petugas kesehatan yang ditugaskan di Pustu tersebut sering tidak ada di tempat. Akibatnya banyak warga yang butuh pelayanan kesehatan terpaksa kembali dan mencari pelayanan kesehatan di desa luar.” Saat ini, warga Desa Banyu Urip krisis pelayanan kesehatan. Pustu yang ada tidak memberikan pelayanan maksimal,” ungkap tokoh masyarakat ini.

Karena tidak ada pelayanan kesehatan yang memadai, warga memilih pergi ke wilayah Lombok Tengah, di wilayah Ranggegata untuk mendapatkan pelayanan kesehatan.”Warga yang ada di wilayah atas  berobatnya ke Ranggegata Lombok Tengah,” ungkapnya.

Kondisi, ini jelas sangat merugikan warga. Apalagi untuk mereka yang tinggal di wilayah atas seperti Dusun Bantir, Dusun Kondak, dan Dusun yang ada di perbatasan Lombok Barat dan Lombok Tengah. Bagi warga yang memiliki uang yang cukup memilih untuk berobat ke desa tetangga, seperti ke Desa Kuripan, bahkan ada yang ke Gerung.

Warga sudah melaporkan kondisi pelayanan kesehatan ini kepada Kades dan Camat Gerung dan meminta agar disampaikan ke Dinas Kesehatan. “ Kemauan warga masyarakat, petugas kesehatan diganti. Dikes Lobar diminta bisa menempatkan orang yang benar-benar bisa bertanggung jawab dengan tugasnya dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat,” tegas Johri.

Karena fasilitas yang sudah ada dianggap cukup memadai untuk memberikan pelayanan selama 24 jam. Namun sekarang pelayanan tidak pernah dipakai 24 jam.

Camat Gerung, Mulyadi, yang dikonfirmasi, membenarkan dirinya sudah didatangi perwakilan warga terkait dengan keluhan ini. Menjawab keluhan warga, ia mengaku langsung berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan. Rencananya hari ini akan ada pertemuan. Begitu juga pihaknya langsung berkoordinasi dengan Kades Banyu Urip untuk mendapatkan informasi yang lebih mendalam lagi.” Informasi dari Kades, hampir sama yang saya terima dari masyarakat, namun saya minta agar di perdalam lagi informasinya,” kata Mulyadi.

Fasilitas ini merupakan kebutuhan vital masyarakat, maka harus didapatkan informasi yang benar-benar valid, karena ini berkaitan dengan kehidupan dan pelayanan kesehatan. Camat juga sudah melakukan komunikasi dengan pihak Puskesmas Gerung yang menjadi penanggung jawab kerja Pustu Banyu Urip. Dari hasil komunikasi, pihak Puskesmas Gerung akan memanggil petugas yang bertugas di Pustu Banyu Urip itu.” Tadi saya sudah telfon, dan sampaikan informasi ini kepada kepala Puskesmas Gerung, besok Senin akan dipanggil petugasnya,” tegasnya.

Terpisah, Sekretaris Dinas Kesehatan Lobar, Arif Suryawirawan, mengatakan, pihaknya akan segera menindaklanjuti laporan masyarakat ini dengan melakukan koordinasi dengan Puskesmas Gerung.”Kami akan tindaklanjuti, akan mempertanyakan ke Puskesmas Gerung, agar segera ditindaklanjuti,” imbuhnya.

Kepala Puskesmas Gerung, H. Hasmuni Budiawan, yang dikonfirmasi, mengatakan pihaknya sudah mengkonfirmasi petugas di Pustu Banyu Urip. Hari ini petugas itu dipanggil untuk menjelaskan terkait keluhan masyarakat.” Sudah saya kontak tadi, sekitar jam 11 besok (hari ini)  petugasnya kami panggil untuk menghadap,” jawab Hasmuni. (ami)