Pupuk Masih Langka, Harga juga Mahal

BUTUH PUPUK: Petani saat ini tengah membutuhkan pupuk untuk tanaman padi mereka. (Janwari Irwan/Radar Lombok)

SELONG— Petani di sejumlah tempat di Lombok Timur masih saja kesulitan mendapatkan pupuk terutama jenis urea. Jikapun ada, harganya melambung tinggi. Padahal petani saat ini tengah membutuhkan pupuk ini untuk memupuk tanaman padi mereka.

Salah satu petani Amat asal Sakra Barat mengaku dalam beberapa hari ini kesulitan mendapat pupuk jenis urea untuk memupuk padi yang ditanam dua minggu yang lalu. Dia sudah mencari ke beberapa pengecer dan agen namun tidak ada. Jika pun ada, harga pupuk yang dibeli mencapai Rp 230 ribu per kuintal. ”Saya mencari ke pengecer yang terdekat pupuk tidak ada. Di tempat lain juga tidak ada. Jikapun ada, pupuk yang ditawarkan harganya sekitar Rp 225 ribu, bahkan ada yang membeli dengan harga Rp 280 ribu perkuintal,”kataya.

Menurut dia, harga pupuk kali ini benar – benar tidak terkontrol. Karena harga yang ditawarkan oleh penjual sangat tinggi, padahal itu merupakan pupuk bersubsidi. Sulitnya mendapatkan pupuk dan harganya yang tinggi ini membuat petani menjerit.“ Kemarin saya membeli dengan harga normal, tadi malah saya diminta tambah uangnya, dan saya sebagai petani ikut – ikut saja,”ujarnya.

Hal senada juga juga dikeluhkan Amaq Karim petani lainnya. Dirinya membeli pupuk Urea di pengecer dengan harga Rp 200 ribu lebih beberapa hari lalu. Namun untuk mendapatkannya butuh perjuangan panjang. Petani katanya, masih kesulitan mendapatkan pupuk jenis urea. Padahal, setelah seminggu padi ditanam, petani membutuhkan pupuk agar tanaman padi bisa tumbuh dengan baik.

Kepala Bidang Prasarana dan Sarana Dinas Pertanian Lombok Timur Lalu Fathul Kasturi mengatakan, pendistribusian pupuk untuk para petani disesuaikan dengan jumlah yang dibutuhkan. Baru setelah itu proses penyalurannya ditindaklanjuti ke masing-masing distributor dan kecamatan.”Ketersediaan pupuk di masing-masing distributor sejatinya sudah ada. Sesuai SK, Distan Lotim sudah melakukan upaya untuk pendistribusian kepada distributor dan per kecamatan secara bulanan,” imbuhnya.

mengacu ke e-RDKK jumlah petani sebanyak 100.054 dengan rencana luas tanam mencapai 190.049 hektar dalam setahun. Namun kuota pupuk yang diberikan ke distributor ini juga tergantung kemampuan mereka menebus. Dalam arti jika distributor mampu menebus sesuai yang dibutuhkan petani di masing-masing wilayahnya maka kelangkaan pupuk ini tidak akan pernah terjadi. ”Kelangkaan pupuk yang terjadi beberapa waktu terakhir ini disebabkan karena lambannya turun rekomendasi.
Mengacu pada SK Mentan nomor 49 tahun 2020 proses pendistribusian pupuk pertama ditebus dulu melalui provinsi dan kabupaten,” katanya.
Lebih lanjut dia menjelaskan perbedaan harga antara pupuk subsidi dengan non subsidi. Dua jenis pupuk ini memiliki perbedaan harga yang cukup tinggi. Untuk pupuk subsidi dari harga sebelumnya Rp 1.800 per kilo-gram sekarang naik menjadi Rp 2.225 per kilogram. Sedangkan harga pupuk non subsidi bisa mencapai Rp 6.000 sampai Rp 7.000 per kilogram. ”Kenaikan harga bukan di kita.Tapi l)angsung dari pusat,” tutupnya.(wan)