Puncak Perayaan Bau Nyale Ditetapkan

SIDANG ISBAT: Para pemangku adat dari empat penjuru mata angin bersama Kepala Disparbud HL Muhammad Putria, menggelar sidang isbat penentuan puncak Bau Nyale di pantai Seger, kemarin (SAPARAUDIN/RADAR LOMBOK)

PRAYA-Sidang isbat pemangku delapan penjuru mata angin dalam ‘sangkep warige’ berlangsung alot di pantai Seger Kuta Kecamatan Pujut, kemarin (5/1).

Hadir dalam kesempatan itu Kepala Disparbud HL Muhammad Putria, Kabid Promosi Wisata Lalu Sungkul, dan delapan pemangku adat yang disebut empat penjuru mata angin. Yaitu,  HL Moh Yakum, L Syar’i Bayan, HL Waringin, H Papuq Rakyat, L Sedet, Dailun dan HL Murdi SPd, dan Bape Budiman, dan Lalu Junaidi.       Dalam rapat isbat itu, sempat terjadi perbedaan pendapat antara para pemangku adat. Meski demikian, sidang akhirnya memiliki keputusan yang bisa diterima semua pihak. Yakni, penentuan puncak perayaan Bau Nyale (tangkap cacing laut) tahun ini.

Berdasarkan hasil keputusan dan ketetapan bersama, puncak Bau Nyale akan dilaksanakan pada tanggal 16-17 Februari 2017. Tanggal ini dinilai bertepatan dengan tanggal 20 bulan 10 kelender Sasak. Penetapan tanggal ini tak disetujui begitu saja. Masing-masing pemangku dari empat penjuru mata angin memiliki pandangan dan versi masing-masing dalam menilai penanggalan tersebut.

Lalu Syar’i Bayan misalnya berpendapat, penanggalan 20 bulan 10 kalender Sasak jatuh pada hari Jumat tanggal 17 Februari 2016. Sehingga puncak perayaan Bau Nyale akan dilaksanakan pada hari itu. Hari Kamis menjadi hari penyamok (pencari) dan hari Jumat menjadi hari peneter (penutup puncak acara).

Pendapat pemangku adat lainnya juga menyatakan pendapat sama dengan L Syar’i Bayan, bahwa puncak perayaan Bau Nyale jatuh hari Jumat. Para pemangku ini memiliki alasan masing-masing berdasarkan tanggalan Sasak. Perhitungan tanggalan Sasak memiliki perbedaan dengan penanggalan bulan berdasarkan kalender Bali dan Saka Jawa. ‘’Berdasarkan pengamatan saya peneter Bau Nyale jatuh pada tanggal 16 Februari,’’ papar HL Syar’i Bayan.

Dia menjelaskan, penanggalan Sasak ditentukan berdasarkan musim yang jatuh. Jika sudah musim tanam tiba, tumbuhnya rebong (tunas bambu) dan timbulnya bintang tenggala. Yakni bintang yang berada pada arah barat daya dan timbul sebelum bintang lainnya timbul dan bisa dilihat dengan mata telanjang. ‘’Bintang ini akan nampak di lintang utara garis katulistiwa,’’ ujarnya.

[postingan number=3 tag=”nyale”]

Pendapat lainnya HL Moh Yakum, penanggalan Sasak yang diketahuinya juga dilakukan berdasarkan perubahan cuaca dan iklim alam yang terjadi di wilayah Pulau Lombok. Jika dilihat dari perubahan musim tahun ini, nyale akan banyak muncul.

Hal ini dilihat dari suburnya tanaman, berkurangnya hama tikus, dan sempat terjadi banjir di sejumlah daerah karena luapan air hujan. Tahun-tahun sebelumnya, jika ada luapan air di bagian wilayah selatan maka banyak nyale yang akan timbul di hari penangkapannya. ‘’Insya Allah akan banyak nyale yang muncul tahun ini kalau dilihat dari musim dan tanggalnya jatuh pada 16 Februrai,’’ jelasnya.

Dengan versi dan ilmu hitung masing-masing tiga kelompok ini bersikeras dengan argumen mereka. Sehingga hasil kesepakatan puncak malam Bau Nyale ditetapkan tanggal 16-17 Februari mendatang. Ketua pemangku adat Syar’i Bayan menjelaskan, menurut hitungannya memang betul jatuh pada tanggal 17 hari Jumat. Namun, pihaknya tidak akan bersikeras untuk mempertahankan hasil hitungannya. Karena ada 14 anggota adat juga ikut melakukan penghitungan dan itu harus dihormati. “Sebagai ketua adat tetap menerima apapun keputusan kepala dinas. Dalam penghitngan ini terdapat dua versi namun Alhamdulillah dua versi yang sama. Yakni candra dan kartika diterima pada tanggal 16-17 Februari,’’ jelasnya.

Sementara Kepala Disparbud Lombok Tengah, HL Muhammad Putria menerangkan, keputusan ini bersifat mengikat dan tidak bisa diganggu gugat. Keputusan ini merupakan kesepakatan atas sejumlah ahli atau para pemangku adat yang berasal dari empat penjuru angin. Sehingga hal ini tidak bisa diubah. “Keputusan ini bersifat mengikat jadi tidak ada orang yang bisa merubahnya. Artinya, Bau Nyale tetap dilaksanakan tanggal 16-17 Februari mendatang,” tegsanya.

Selanjutnya, terkait keputusan ini akan segera disampaikan kepada bupati dan wakil bupati. Karena keputusan ini akan menjadi landasan acara dan jadwal acara lainnya dalam memeriah core event bau nyale ini. ‘’Informasinya Master Limbad dan Noah akan hadir menghibur masyarakat pada malam Bau Nyale,’’ pungkasnya.

Bupati Lombok Tengah, HM Suhaili FT sebelumnya mengakui, jika pemkab berencana akan mendatangkan Noah Band pada puncak perayaan Bau Nyale. Band papan atas besutan Nazril Irham alias Ariel ini dijadwalkan untuk mengguncang pantai Seger, pada malam perayaan itu nantinya. ‘’Kita akan undang Noah pada malam perayaan Bau Nyale,’ ungkap Suhaili. (cr-ap)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid