Puluhan Warga Kabupaten Lombok Utara Diserang Demam Berdarah

Ilustrasi Demam Berdarah
Ilustrasi Demam Berdarah

TANJUNG – Perubahan cuaca yang kadang hujan dan kadang panas membuat masyarakat banyak mendapatkan perawatan terhadap penyakit demam berdarah (DB) yang dialami.

Saat ini sudah tercatat 65 kasus mengalami penyakit DB. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk menjaga kebersihan lingkungan pekarangan rumah, terutama tempat-tempat munculnya jentik-jentik penyakit DB tersebut. “Jumlah kasus DB hingga bulan November ini sudah tercatat antara 61 sampai 65 kasus,” ungkap Kabid Penindakan dan Penyidikan Dinas Kesehatan Lombok Utara I Ketut Jaya kepada Radar Lombok, kemarin.

BACA JUGA :  Cakades Dugaan Ijazah Palsu Menang , Warga Geruduk Kantor Desa Sokong

Penderita penyakit DB ini merata, artinya ada anak-anak maupun dewasa. Pada angka kasus ini langsung ditangani secara itensif baik di Puskesmas maupun RSUD. Sehingga dari hasil catatan belum ada yang meninggal dunia. Pihaknya sendiri sangat mengantisipasi dini adanya penderita yang meninggal. “Kita harap jangan sampai kita termasuk sebagai daerah kawasan luar biasa (KLB),” harapnya.

Dalam mengantisipasi hal itu, pihaknya sudah mengintruksikan jajarannya untuk melakukan pencegahan dan imbauan kepada masyarakat agar bisa menjaga lingkungan rumah, terutama tempat mudahnya muncul jentik-jentik DB seperti bak mandi, botol-botol plastik yang berserekan, ban bekas, sampah berserakan, gantungan baju di dalam rumah, dan lainnya. “Kita mengimbau kepada seluruh masyarakat agar tetap menjaga kebersihan lingkungan guna mencegah timbul jentik-jentik nyamuk,” imbuhnya.

Dikatakan, sebenarnya penyebab demam berdarah masyarakat sudah mengetahui. Hanya saja masyarakat belum bisa membedakan mana nyamuk demam berdarah dan tidak. Oleh karena itu, diperlukan penekanan gejalanya. “Kalau ada kejadian kasus baru diobati, tapi faktor pencegahan berkurang,” tandasnya.

BACA JUGA :  270 Penerima Bantuan PKH di Lombok Utara Bermasalah

Di lima kecamatan ini tidak semua desa masuk kategori demam berdarah. Dan saat ini juga Lombok Utara belum berstatus kawasan luar biasa (KLB). Sedangkan, untuk melakukan poging sebenarnya lebih pada membunuh nyamuk, bukan membunuh sumbernya. “Pogin itu bukan menuntaskan, yang terpenting itu bentuk pencegahan,” pintanya.

Adanya penyakit DB, katanya, karena faktor kondisi iklim tak karuan sehingga itu gampang memunculkan penyakit tersebut. Pihaknya yakin bahwa masyarakat telah sadar akan kebersihan lingkungan sebagai pemicu munculnya penyakit tersebut. Sebab, pihaknya telah mengintruksikan seluruh puskesmas untuk turun melakukan pencegahan baik dengan cara program surveling mana titik rawan maupun poging. Meskipun begitu, pencegahan kasus paling ampuh dilakukan dengan tingkat kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungannya.

Penderita DB sambungnya, biasanya pada awal dan akhir tahun rawan karena peralihan musim dari musim kemarau ke musim hujan atau sebaliknya. Sehingga, itu yang menyebabkan air hujan mengendap dan akan mengundang nyamuk. Sebab, berdasarkan penelitian nyamuk DB ini biasanya relatif di air bersih tapi bau seperti bak mandi, ban, pecahan botol, plastik mika. Di sini biasanya air hujan itu masuk dan membuat jentik-jentik. Sedangkan, saluran got itu biasanya nyamuk biasa yang nama dalam istilah nyamuk culek ini hanya membuat gatal-gatal saja. “Makanya diharapkan untuk masyarakat tetap dibersihkan,” imbuhnya.

BACA JUGA :  Pemkab Lombok Utara Mempercepat Pelayanan Isbat Nikah

Jenis nyamuk penyebar penderita DB ini namanya aedis agipty ini biasanya meningkat di musim hujan dan proses menyebarnya itu ketika ada salah satu tetangga yang kena, kemudian nyamuk ini pindah lagi menggigit tetangga sebelah. Dan nyamuk ini biasanya akan mati setelah 3-4 kali menyebarkan ke tubuh yang berbeda dan biasanya nyamuk ini muncul ketika pagi dan sore di sana mulai menggigit. Makanya, ketika ada penularan ini pihak dikes langsung tanggap dimana jentik-jnetiknya. “Ini yang menyebabkan menular,” jelasnya.

Tambahnya, penyakit demam berdarah disebabkan minumam yang murung, talang air, lingkungan yang jarang dibersihkan, sampah yang numpuk, kamar mandi yang tidak bersih, kamar tidur misalnya gatungan pakaian, ranjang tidur yang berantakan bisa jadi sarang nyamuk.

Oleh karena itu, Dikes mengimbau kepada masyarakat untuk memberantas DBD dengan tiga gerakan yakni pertama, menguras wadah air seperti bak mandi, tempayan ember, vas bunga, tempat minuman burung, penampung air kulkas. Kedua, menutup rapat semua wadah air hangat agar nyamuk tidak masuk dan bertelur, dan terkahir mengubur atau memusnahkan semua barang bekas yang dapat menampung air hujan seperti ban bekas, kaleng bekas, dan pecahan botol. “Kalau bisa gunakan obat antijentik,” pungkasnya. (flo)