Puluhan Sapi Warga Lombok Tengah Terserang Virus

Taufikurrahman Puanote (M HAERUDDIN/RADAR LOMBOK)

PRAYA – Puluhan hewan ternak jenis sapi warga Desa Kelebuh Kecamatan Praya Tengah Kabupaten Lombok Tengah terjangkit penyakit aneh. Sapi tersebut memiliki gejala adanya lelehan lendir dari mulut dan hidung serta adanya luka di hidung, air liur berlebihan dan panas badan terlalu tinggi hingga lebih dari 37 drajat celsius dan di antara belahan kuku kaki ada yang terluka.

Dinas Pertanian dan Peternakan Lombok Tengah bekerja sama dengan tim Balai Besar Denpasar-Bali sudah turun memeriksa penyakit yang baru pertama terjadi ini. Kuat dugaan jika sapi-sapi ini terkena virus dengan gejala yang hampir sama dengan wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) yang sedang merebak di Jawa Timur dan beberapa daerah lainnya di Indonesia.

Dinas terkait juga sudah mengeluarkan surat imbauan kepada semua kecamatan dan desa untuk tidak memotong sapi sakit. Pihak dinas juga sudah berupaya mengobati sapi yang sakit sembari menunggu hasil laboratorium untuk mengetahui penyakit aneh ini. Bahkan sapi yang sakit tidak boleh dikeluarkan untuk menghindari penularan kepada hewan ternak lainnya. Warga juga dilarang mendekat meski penyakit tersebut diyakini tidak menular kepada manusia.

Kepala Distanak Lombok Tengah, Taufikurrahman Puanote mengaku, telah menerima laporan dari masyarakat semenjak lebaran Idul Fitri lalu. Bahwa, terdapat ternak warga yang sakit yang di beberapa kandang kompleks di Desa Kelebuh. Dari data yang mereka himpun hingga Senin kemarin, jumlah sapi yang sakit sudah mencapai 63 ekor. “Kita sudah turunkan tim dari Sabtu hingga Senin kemarin, ditemukan ada 63 ekor yang sakit, tapi belum ada yang mati. Cuma jenis penyakitnya belum bisa kita simpulkan. Cirinya ada lelehan lendir dari hidung dan luka serta air liur berlebihan dan sapi tersebut demam dan beberapa gejala lainnya yang kita temukan,” ungkap Taufikurrahman Puanote, Selasa (10/5).

Taufik menyebutkan, ciri-ciri penyakit yang sama sedang merebak di Jawa Timur yang hampir 5000 ekor, termasuk di Aceh dan Riau. Untuk diagnosa awal ada beberapa penyakit seperti Septicaemia Epizootica (SE) atau penyakit demam tiga hari atau penyakit lainnya yang memiliki ciri khas. Namun penyakit tersebut belum berani dipastikan kebenarannya. “Untuk menentukan itu, kita sudah meminta balai besar veteriner yang ada di Denpasar, dan tim dari balai besar sudah turun. Untuk menentukan diagnosa, kita tunggu hasilnya. Mudah-mudahan dua tiga hari ke depan bisa keluar. Tapi yang jelas tindakan teknis sudah kita berikan,” terangnya.

BACA JUGA :  Perdebatan Gubernur-Sekda Memalukan

Taufikurrahman menegaskan, pengobatan juga ada yang merupakan keswadayaan masyarakat dengan memberikan obat antibiotik, pengobat luka dan lain sebagainya. Sementara dinas sendiri sudah berusaha memberikan terapi untuk memperbaiki metabolisme tubuh pada hewan ternak supaya kuat. “Sampai sekarang sudah ada yang kondisi membaik. Kondisi penyakit ini juga membuat ternak malas makan dan itu yang membuat tubuhnya lemas, sehingga jatuh dan tidak bisa bangun,” tambahnya.

Sementara itu, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi NTB langsung menyikapi munculnya penyakit mulut dan kuku (PMK) pada sapi ini. Terlebih lagi, mengingat penyakit PMK ini sudah terdapat di sejumlah daerah di Indonesia. Disnasnakeswan NTB bahkan akan membentuk posko penanganan PMK di sejumlah kabupaten dan kota di NTB. Upaya ini sebagai bentuk pencegahan ternyadinya penyebaran dan tracing penyakit PMK pada ternak. “Kami akan membuat SK Gubernur untuk membuat satgas penanganan di NTB dan mengintruksikan pemerintah kabupaten untuk segera membuat posko-posko PMK. Agar para petugas medik veteriner dan paramedik dimasing-masing kabupaten bisa memantau kondisi lapangan serta melaporkan kondisi terkini kepada pemprov,” kata Kepala Disnakeswan NTB, Khaerul Akbar, Selasa (10/5).

Hal tersebut dalam rangka pencegahan sekaligus mitigasi risiko secara dini serta meminimalkan kerugian bagi peternak akibat ancaman risiko PMK. Sehingga diimbau kepada seluruh dinas yang membidangi fungsi kesehatan hewan seluruh kabupaten dan kota se NTB agar meningkatkan tindakan dan upaya teknis pelayanan secara nyata dan efektif. Apalagi Provinsi NTB secara aktif diketahui sebagai daerah pemasok sapi ke luar daerah. “Ini juga sebagai tindak lanjut dari arahan Pemerintah Pusat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap wabah PMK. Setelah mengamati tingginya arus lalu lintas hewan ternak dan produknya dari maupun keluar NTB,” tambah Khaerul.

Adapun langkah strategis lainnya yang bisa dilakukan pemprov untuk mengantisipasi berkembangnya wabah PMK ini. Maka akan dilakukan pembatasan lalu lintas hewan ternak yang rentan terkena penyakit PMK seperti sapi, kambing, kerbau, domba dan babi. Termasuk juga pembatasan keluar masuk produk hewan ternak dan media pembawa penyakit yang berisiko tinggi. Baik menuju daerah wabah seperti Jawa Timur dan Provinsi Aceh. Di samping itu, pihaknya tetap mengawasi dan mengendalikan lalu lintas serta menolak ternak dari daerah wabah untuk masuk ke NTB. “Kita terapkan prinsip-prinsip biosekuriti di daerah dan peternak seperti isolasi ternak yang sakit. Selain mengontrol pergerakan lalu lintas hewan ternak maupun produknya,” tambahnya.

BACA JUGA :  Dispar dan BPPD NTB Dinilai Tak Punya Inovasi Promosi WSBK

Kata Kherul, ternak yang terduga atau bergejala sakit akan segera ditangani. Misalnya dengan melakukan isolasi, vaksinasi, dan pengobatan terhadap hewan ternak sakit. Kemudian dilakukan pembersihan dengan desinfektan, pemberantasan vector atau media penularan penyakit PMK. Kemudian bisa juga dilakukan penguburan dan pembakaran bangkai hewan yang terindikasi tertular.

Langkah sberikutnya adalah meningkatkan surveilans dan investigasi serta pengambilan sampel dan pengujian. Untuk mengidentifikasi sumber penularan, faktor risiko dan gambaran epidemilogi penyakit serta apa penyebab kematian hewan ternak tersebut. Sebab media penularan penyakit PMK ini rentan ditularkan melalui udara.

Untuk itu, diimbau bagi masyarakat maupun dinas yang terkait agar masif dalam melaporkan kasus hewan ternak mati atau yang masih sakit maupun terduga sakit di lapangan melalui Sistem Informasi Kesehatan Hewan Nasional (Sikhnas) yang terintegrasi di Indonesia.  Agar para petugas paramedik vateriner bisa segera berkoordinasi dengan Balai Besar Veteriner Denpasar untuk mendapat penanganan lebih lanjut. “Makanya penting ada komunikasi dan edukasi serta informasi kepada masyarakat untuk meningkatkan kepedulian dan kesadaran masyarakat terhadap ancaman dan potensi bahaya penyakit hewan menular, khusunya PMK,” tambahnya.

Dengan adanya penyakit PMK ini, Khaerul juga memastikan pasokan maupun harga daging di NTB akan tetap stabil hingga lebaran Idul Adha. Meski ada bayangan terjadi pelonjakan harga daging apabila wabah PMK ini berlangsung lama. Karena adanya sejumlah pembatasan arus laluintas hewan ternak dan produknya di sejumlah daerah, termasuk di NTB sendiri. “Tata niaga pasti berpengaruh, tapi nanti ada tim satgas pangan dan TPID yang menangani. Kita juga sedang koordinasi dan pembahasan dengan pusat dan karantina,” tutupnya. (cr-rat/met)