Puluhan Anak Sapi di Loteng Mati Terserang PMK

MULAI SEMBUH: Ternak sapi warga Desa Kelebuh yang sempat terserang PMK mulai sembuh meski di satu sisi terdapat puluhan anak sapi yang mati. (M HAERUDDIN/RADAR LOMBOK)

PRAYA – Serangan penyakit mulut dan kukuk (PMK) yang menjangkit ternak sapi kiat meresahkan peternak di Lombok Tengah. Khususnya peternak di Desa Kelebuh Kecamatan Praya Tengah, tempat lokasi pertama ditemukannya penyakit PMK ini di wilayah Provinsi NTB.

Para peternak mengaku resah ternak mereka akan terus diserang penyakit merisaukan ini. Meski terdapat kesembuhan signifikan dari jumlah ternak yang dinyatakan positif terserang penyakit ini. Tetapi lebih dari itu, sudah puluhan pedet atau anak sapi di desa itu mati karena tak mampu menahan serangan penyakit ini.

Di satu sisi, pemerintah juga belum turun memberikan bantuan obat sebagai solusi untuk mengatasi penyakit ternak ini. Para peternak bahkan harus rela merogoh uang tabungannya hingga jutaan rupiah untuk membeli obat demi bisa menyembuhkan ternak mereka. Para peternak berharap agar pemerintah memberikan solusi untuk mengatasi virus ternak ini agar mereka tidak terus merugi.

Ketua  Kelompok  Ternak Lancar Jaya Dusun Pengeot Desa Kelebuh, Janwardi Asror menuturkan, ada 63 ekor sapi yang diangon anggota kelompoknya di kandang kompleks yang ia kelola. Awalnya, penyakit sapi para ternak ini hanya sariawan dengan ciri mengeluarkan busa di mulutnya secara berlebihan. Setelah ternak mereka membaik, muncul lagi masalah baru yakni kuku sapi mereka terbelah dan berdarah. Kondisi badan ternak mereka juga mengalami panas berlebihan hingga tak punya tenaga. “Awalnya sakit semua di bagian mulut. Setelah kita kasih obat yang kita beli sendiri akhirnya hewan ternak kita bisa makan. Tapi kita masih khawatir karena sekarang sapi-sapi ini sakit di bagian kaki,” tutur Janwardi Asror kepada Radar Lombok saat ditemui di kandang kompleksnya, Selasa (24/5).

BACA JUGA :  Bupati Raih Piagam Rinjani Agung Award

Janwardi mengakui, belum ada ternak sapi kelompoknya yang menjadi korban keganasan virus PMK ini. Tetapi imbasnya adalah pedet atau anak sapi. Puluhan anak sapi sudah mati sejak penyakit ini menjangkit sapi indukan dan pejantan di kandang kompleksnya. ‘’Di kandang kami saja ada tiga ekor anak sapi yang sudah mati. Belum lagi di kandang lainnya, kebanyakan yang mati anak sapi usia di bawah tiga bulan,” katanya.

Jika dihitung dari berbagai lokasi atau kandang di Desa Kelebuh saja, ada puluhan anak sapi yang sudah mati. Pihaknya berharap agar adanya bantuan atau perhatian dari pemerintah. “Setidaknya kita diberikan obat gratis oleh pemerintah karena kita masih khawatir,” harapnya.

Harapan serupa disampaikan peternak lainnya, Budi Luhur, para peternak sangat khawatir dengan kondisi hewan ternak mereka. Di tengah kekehawatiran tersebut, ternyata banyak saudagar dan pengepul yang datang ingin membeli hewan ternak mereka dengan harga yang sangat murah. “Makanya harapan kami dari peternak supaya pihak pemerintah betul-betul memperhatikan peternak. Banyak yang datang mau membeli sapi kami tapi harganya jauh dari sebelumnya. Biasanya sapi yang harga Rp 20 juta malah ditawar Rp 9 juta. Makanya kami sekarang tidak mau menjual dan lebih memilih mengobati dengan cara membeli obat sendiri,” jelasnya.

BACA JUGA :  14 Calon Desa Persiapan Lulus Administrasi

Budi Luhur menambahkan, kondisi ternak mereka memang sudah membaik sejak diserang PMK ini. Namun persoalan baru yang mereka hadapi adalah munculnya kembali penyakit sapi di bagian kaku atau kukunya. “Ini yang kami khawatirkan. Apalagi sudah ada anak sapi yang mati,’’ tambahnya.

Kepala Desa Kelebuh, Nurahim yang dikonfirmasi mengenai kondisi serangan PMK di desanya mengaku, para peternak di desanya belum melaporkan kasus kematian anak sapi. Yang dilaporkan hanya kesembuhan sapi indukan dan pejantan dan perpindahan penyakit ternak ini. Apalagi, pihaknya tidak terlalu leluasa untuk menyurvei langsung kandang kompleks warganya. ‘’Namun PMK ini membuat para peternak menjadi khawatir dan satu-satunya jalan agar penyakit ini bisa diatasi yakni dengan pemberian vaksin dan kandang kita semprot,” tegasnya.

Nurahim juga tidak menafikan, banyak peternak yang membeli obat secara mandiri. Karena pemerintah belum menganggarkan untuk penanganan penyakit tersebut. Terlebih PMK ini merupakan penyakit yang tidak pernah diduga oleh semua pihak. “Oleh dinas memang informasinya tidak dianggarkan, karena tidak disangka-sangka dan obat terbatas dari dinas pertanian. Sehingga masyarakat berinisiatif maka lebih baik swadaya dalam membeli obat,” katanya. (met)