Puasa, Produksi Cabe NTB 277.044 Kwintal

SIAP PANEN: Tanaman cabe yang siap panen untuk memenuhi kebutuhan masyarakat NTB selama bulan puasa Ramadan, yang diperkirakan mencapai 277.044 kwintal (LUKMAN HAKIM/RADAR LOMBOK)

MATARAM—Pasokan cabe selama puasa Ramadan 1438 Hijriyah dipastikan tetap aman, dari hasil produksi dalam daerah. Pasalnya, produksi cabe selama puasa Ramadhan ini dari hasil panen petani di NTB diperkirakan sebanyak 277.044 kwintal.

“Kalau melihat luas areal tanam cabe di NTB bulan Januari -Maret, maka pasokan cabe lokal selama puasa Ramadhan ini tidak ada masalah,” kata Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Provinsi NTB, Husnul Fauzi, Selasa kemarin (30/5).

Husnul mengatakan bahwa realisasi tanam cabe rawit dari Januari hingga Maret seluas 1.502 hektar dengan estimasi produksi panen sebanyak 277.044 kwintal. Artinya jika melihat produksi cabe di dalam daerah tersebut, maka kebutuhan untuk di Provinsi NTB selama puasa Ramadhan sudah tidak ada masalah.

Lebih lanjut Husnul mengatakan, produksi cabe di Provinsi NTB pada tahun 2016 berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) mencapai 969.960 kwintal. Berarti terjadi peningkatan dari produksi tahun 2015 yaitu 735.250 kwintal. Peningkatan produksi ini dikarenakan luas areal panen mencapai 7.050 hektar yang berarti lebih luas 13 persen dari tahun 2015.

Pendukung utama luas panen cabe ini adalah luas tanam dan curah hujan yang cukup signifikan . Gerakan pengembangan kawasan cabe yang dilakukan dalam bentuk gerakan panen cabe ini dimaksukdkan sebagai upaya bersama percepatan tanam memasuki musim kemarau 1 pada tahun 2017.

Berkaitan dengan upaya pencapaian program pertanian dengan sasaran luas tanam, luas panen dan produktivitas, serta produksi cabe dan bawang merah, khususnya untuk mendukung ketersediaan komoditas horti, cabe, bawang merah dan bawang putih, yang bisa mempengaruhi inflasi.

Maka Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi NTB telah melakukan berbagai hal, diantaranya mendorong peningkatan penggunaan benih unggul yang memiliki potensi produksi tinggi. Perluasan areal dan perbaikan teknologi PTT, mendorong penggunaan pupuk berimbang tungggal, maupun majemuk guna menghindari terjadinya kekurangan pupuk karena penggunaan yang berlebihan di tingkat petani.

Selain teknlogi budidaya, yang tidak kalah pentingnya adalah teknlogi pasca panen, agar produk pertanian dapat ditangani dengan baik dan menghasillkan, terlebih ketika harga anjlok.

Untuk itu ada solusi bagi petani dan kelompok tani, pemerintah pusat telah memberikan alat bagi kelompok wanita tani, seperti alat mengolah cabe menjadi tepung cabe atau abon cabe. Hal ini dimaksudkan agar saat harga rendah, maka dapat dipanen dan diolah menjadi tepung cabe dan masyarakat bisa konsumsi tepung cabe tersebut dengan harga yang standar. “Masysarakt jangan berpikir cabe segar yang enak, tapi melainkan cabe yang sudah diolah malah lebih awet dan harganyapun terjangkau,” kata Husnul.

Sementara itu, Kepala Dinas Perdagangan Provinsi NTB, Hj. Selly Andayani mengatakan, harga cabe di pasaran lebih stabil jika dibandingkan dengan beberapa bulan lalu. Saat ini  harga cabe lebih stabil sejumlah pasar tradisional yang sudah didatangni petugas survey dari Dinas Perdagangan NTB. “Harga sudah turun. Cabe rawit sekarang harganya sudah Rp20 ribu/kg dan bawang putih sudah Rp25 ribu/kg,” pungkasnya. (luk)