Prospek Budi Daya Porang di Lombok Tengah, Pasar Tersedia, Harga Jual Tinggi

MENJANJIKAN: Salah satu petani saat menunjukkan tanaman porang yang sedang digandrunginya karena prospek ekonominya yang menjanjikan. (DISTANAK LOTENG FOR RADAR LOMBOK)

Tanaman porang belakangan ini sedang tren bagi dunia pertanian di Indonesia. Banyak petani mulai tertarik menanam tanaman jenis umbi-umbian ini. Tapi untuk mendapatkan hasil maksimal, petani tentunya harus selektif memilih bibit dan jenis tanah.

____________________________

DALAAH-LOMBOK TENGAH

____________________________

MAKHLIL salah satu petani yang kini sedang menggandrungi tanaman porang. Petani asal Desa Barejulat, Kecamatan Jonggat ini baru dua bulan ini kepincut tanaman umbi-umbian itu. Makhlil sedang mencoba tanaman mirip talas itu dengan melihat prospek ekonomisnya. Jika sukses, tanaman itu bisa menghasilkan uang melimpah.

Bayangkan saja, cetus Makhlil, petani sudah bisa menjual bibit porang sebelum masuk masa panen. Porang akan menghasilkan biji dari bunganya. Selain itu, porang juga akan menghasilkan bibit dari daunnya. Nah, biji dan bibit dapat dijual sebelum masa panen datang. “Untuk bijinya bisa dijual Rp 25 ribu per kilo. Sedangkan bibitnya bisa dijual Rp 50 ribu per kilo,’’ ujar Makhlil kepada Radar Lombok saat ditemui di kediamannya, baru-baru ini.

Namun, sambung dia, tanaman porang tak semudah yang dibayangkan. Terutama bagi petani yang menanam bijinya. Biji-biji ini harus berkualitas dan harus dipadukan dengan tekstur tanah berporositas tinggi. Jika tidak, maka biji yang ditanam akan mudah sekali mati. Selain tak kuat menahan lembab tanah, biji ini juga harus ditanam sesuai umurnya. “Tak boleh lebih,’’  terangnya.

Lain halnya jika yang ditanam adalah bibitnya, maka akan lebih kuat menahan porositas tanah. Namun demikian, porositas tanah harus tinggi. Tak akan kuat jika ditanam di tanah lembab atau jenis tanah liat.

Untuk umur, tanaman biji juga akan jauh lebih lambat berkembang. Rata-rata, tanaman biji akan menghasil biji lagi atau bibit selama kurun waktu 7-8 bulan. Sedangkan masa panen umbinya akan tiba dalam waktu 2-3 tahun. Beda halnya jika yang ditanam adalah bibitnya, hanya membutuhkan waktu 4 bulan saja. Sedangkan masa panen umbinya akan tiba dalam kurun waktu 7-8 bulan saja. “Jadi perbedaan menanam biji dan bibitnya saja jauh sekali rentan waktunya,’’ ujarnya.

Meski demikian, Makhlil mengaku tetap menaruh harapan ekonomis dalam tanaman porangnya. Sebab, pangsa pasarnya yang terbuka lebar. Untuk menanam saja, Maklil mengaku tak perlu repot-repot cari biji. Ada perusahaan yang menyuplai petani dengan perjanjian pembayaran biji atau bibitnya dipotong setelah panen. Tentunya dengan menjual kembali hasil panen umbi kepada perusahaan tersebut. “Enaknya di sini kita, pangsa pasarnya kita tidak perlu khawatir karena sudah ada,’’ ujarnya.

Prospek tanaman porang ini juga menjadi salah satu tanaman atensi Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Lombok Tengah. Sebab, Jepang dan Korea sudah siap menerima impor tanaman tersebut dalam bentuk cacah atau tepung. Tak peduli berapa banyaknya, kedua negara itu siap menerima. Karena bahan baku porang menjadi salah satu bahan makanan utama bagi kedua negara tersebut.

Cuma saja, petani belum banyak yang menanam tanaman ini. Untuk Lombok Tengah, hanya beberapa orang petani saja yang sudah memulai. Beberapa di antaranya terdapat di wilayah Kecamatan Pujut, Praya Barat, Praya Barat Daya, dan Jonggat. “Tapi belum banyak, hanya beberapa orang saja. Kita sedang kembangkan tanaman ini dan mendukung petani porang,’’ kata Kepala Distanak Lombok Tengah, Lalu Iskandar.

Iskandar yakin ke depannya tanaman ini akan menghasilkan nilai ekonomis yang menjanjikan. Ketersediaan lahan menjadi salah satu faktor pendukung untuk mengembangkan tanaman ini. Apalagi, pemilihan lahannya tidak ruwet. Tanaman porang tidak hanya membutuhkan lahan persawahan, tapi juga lahan tegal, kebun, maupun lahan hutan. “Tanaman pioner ini gampang ditanam di mana saja. Tanaman ini bisa hidup di semua unsur klimatologi dan geografis. Tanaman ini bisa tumbuh di semua jenis tanah,’’ sambungnya.

Untuk Indonesia, sambung Iskandar, tanaman porang, baru Jawa Timur yang mengembangkan. Untuk NTB sendiri belum terlalu banyak, dan Lombok Tengah sedang memulai mengembangkan tanaman ini. Prospek ini dilihat Iskandar dengan kandungan nutrisi tanaman ini yang sangat diminati.

Porang memiliki kandungan nutrisi 45 persen glukomanan. Berbeda halnya dengan tanaman lombos atau suweg dengan kandungan nutrisi rendah meski tanaman itu sejenis. Yang membedakan porang dan lombos ini hanya totolnya. Tanaman porang hanya akan bertotol saat masih kecil saja, sedangkan lombos akan bertotol hingga besar. “Porang juga memiliki kandungan asam amino seperti kalsium, zat besi, posfat, tembaga, dan serat, serta kelebihan nutrisi lainnya,’’ jelas Iskandar.

Selain itu, sambung mantan kepala dinas ketahanan pangan ini, porang juga rendah kalori. Kandungan inilah yang membuat Korea dan Jepang sangat meminati tanaman ini. Di samping itu, harganya juga cukup menjanjikan. Umbinya akan dihargakan Rp 7-13 ribu per kilo. “Dan, yang perlu kita jaga ke depannya adalah pangsa pasarnya. Sekarang ini sedang ada MoU perusahaan lokal dengan perusahaan di Jakarta untuk membicarakan pangsa pasar porang ini,’’ tandasnya. (**)