Prosmala Hadisaputra, Kepala Program Diniyah Wakil NTB di MEP

PESERTA PROGRAM MEP: Prosmala Hadisaputra (kanan) saat berada di kantor Kedutaan Besar Australia di Jakarta sebelum persiapan berangkat ke Australia. (Prosmala for Radar Lombok)

Prosmala Hadisaputra adalah salah satu dari sepuluh  pemuda-pemudi dari Indonesia yang terpilih oleh Kedutaana Besar  (Dubes)  Australia mewakili Indonesia dalam   ajang Muslim Exchange Program (MEP) 2017  yang akan dilaksanakan di  Australia selama kurang lebih 2 pekan.


ZULFAHMI—MATARAM


Hari ini  lelaki yang akrab disapa Ustadz Pros mungkin sudah sudah menginjakan kaki di  Australia setelah berangkat dari Bendara Ngurah Rai  Denpasar Bali sekitar pukul 17.00 Wita Minggu  kemarin (5/3). Sebelum berangkat Kepala Program Diniyah di Pondok Pesantren (Ponpes)  Selaparang (Perguruan NW) Kediri Lombok Barat ini menyempatkan diri bercerita kepada Radar Lombok terkait proses pemilihannya  untuk mengikuti program (MEP) 2017 melalui aplikasi mesengger.

[postingan number=3 tag=”boks”]

Prosmala lahir tanggal 3 Mei  1985 dari pasangan H  Alimin  dan Ibu Hj Rosyida. Saat masih kuliah dulu di IAIN  Mataram pada tahun 2008, Ustadz Pros   memang sudah dikenal  oleh para dosen dan mahasiswa sebagai mahasiswa yang berprestasi.

Sambil kuliah, ia  mengabdikan diri di Ponpes Selaparang NW. Dibalik kesibukannya ternyata tidak menggangu prestasinnya. Terbukti, Indek  Prestasi Komulatif (IPK) selalu berada di angka 4.00 pada  prodi Pengembagan Masayarakat Islam (PMI)  Fakultas Dakwah dan Komunikasi IAIN Mataram.

Bahkan pada saat diwisuda awal tahun 2012 lalu, ia tercatat menjadi wisudawan  terbaik  dengan IPK 4.00 dengan lama study kurang lebih 3,5 tahun. Usai mendapatkan gelar sarjana, oleh pihak kampus  memintanya untuk menjadi  staf sekaligus dosen untuk mengisi  mata  kuliah matrikulasi bahasa Arab, menjadi staff Pusat Bahasa IAIN Mataram dan menjadi dosen luar biasa Fakultas Dakwah dan Komunikasi IAIN Mataram mengampu mata kuliah Bahasa Arab, ilmu kalam, dan manajemen zakat.

Ia kemudian melanjutkan studi S2 di kampus yang sama.  Berbagai prestasi terus datang menghampirinya. Dia jadi wisudawan terbaik Pascasarjana Prodi Pendidikan Agama Islam IAIN Mataram  tahun 2014.  Pada tahun 2015 lalu, dia   mendapatkan prestasi Awards LPDP yang sudah diterima pada Ph.D Programe In Islamic Education, Academy of Islamic Studies, University of Malaya. Lalu, tahun ini dia mewakili Indonesia di  ajang Muslim Exchange Program (MEP) 2017    bersama 10 orang, salah satunya juga termasuk artis Oki Setiana Dewi.

Ia menuturkan untuk  bisa ikut program MEP 2017 melalui persaingan ketat. Lebih dari 250 orang pelamar yang ikut dan lolos hanya 10 orang. “ Saya satunya yang mewakili NTB sisanya berasal dari Jawa dan 1 orang dari Makasar,” tuturnya.

Suami dari  Baiq Rofiqoh Amalia Syah  punya hasrat besar mengikuti program ini. Ia sudah mempersiapan diri mengukuti program ini hampir 5 tahun. Caranya dengan memperbanyak pengabdian di ponpes, kampus, ma'had, dakwah di masyarakat dan giat menulis.

Sejak ia resmi direkomendasikan oleh ponpes tempatnya mengabdikan diri, Pros langsung  mempersiapkan semua yang dibutuhkan. Namun Pros sempat deg-degan menunggu pengumuman nama-nama yang lolos. Beberapa bulan  tidak ada kabar tentang aplikasi yang sudah ia  kirim apakah diterima atau ditolak. Namun akhirnya, kabar gembira itu pun datang. ” Saya  tidak pernah menyangka akan bisa terpilih dari ratusan  peserta yang terdaftar karena tidak ada laporan dari panitia soal aplikasi yang saya kirim,” tuturnya.

Program MEP 2017 ini diselanggarakan oleh Australia-Indonesia Muslim Exchange Program (AIMEP) yang didukung oleh Kedutaan Besar Australia. Para peserta bisa berasal dari kalangan artis, politisi, akademisi, penulis, peneliti, pegiat LSM  dan ada juga mahasiswa. Intinya seluruh pemuda muslim Indonesia.

Proses yang ia lalui terdiri dari dua  tahap seleksi. Seleksi pertama  yakni seleksi dokumentasi untuk menyaring 25 orang terbaik. Kemudian dari 25 orang disaring menjadi 10 orang. Setelah terpilih 10 orang maka dilakukan seleksi  dengan  interview di Universitas Paramadina. Tujuan kegiatan ini  untuk  mempromosikan Islam di Indonesia di Australia. “ Nanti saya akan menceritakan tentang kehidupan Islam di Lombok,” ungkapnya.

Selama kurang lebih dua pekan kedepan, ia  bersama peserta lain akan belajar dan   melihat secara langsung kehidupan muslim dan muslimah Australia. Karena di negara ini   Islam mengalami perkembangan sangat pesat di dunia. Sehingga mereka sangat multikultural.

Selama dua pekan disana, peserta  akan mengunjungi komunitas muslim dan non muslim, akademisi di Melbourn University dan Monash University, artis, zakat foundation dan lainnya.

Keberangkatannya oleh Kedubes Australia dibagi menjadi dua tahap. Tahap pertama sebanyak lima orang termasuk dirinya mewakili NTB.

Saat persentasenya nanti Pros akan menguraikan tentang Islam di Lombok. Menurutnya, di  Lombok itu Islamnya sangat menarik, terutama tingkat toleransi antar beragama. Hal itu dapat dilihat dalam setiap event keagamaan dan kebudayaan yang digelar. Contoh kecil, di kampung halamannya menurutnya Islam dan Hindu dapat hidup berdampingan dan bertetangga. Hampir Tidak pernah terjadi konflik. Bahkan kuburan muslim dan tempat ngaben bagi umat Hindu pun berdampingan hanya terpisah tembok setinggi sekitar 1 meter." Keunikannya Islam di Lombok inilah yang akan saya sampaikan nanti," jelasnya.

Dengan segudang prestasi dan beasiswa pendidikan yang sudah ia dapat, satu mimpi besarnya Pros  ingin suatu saat nanti  memiliki Pesantren Manusia Lanjut Usia (Manula) atau  Pesantren Lansia.  Alasannya karena ia senang dengan orang tua." Saya ingin punya Pesantren Manula/Lansia. Pesantren, semisal panti jompo. Karena saya senang dengan orang sepuh," tutup Pros. (*)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid