Proses Ulang Beras Rastra Kualitas Buruk Sesuai SOP Bulog

Beras Rastra Kualitas Buruk
Kepala Bidang OPP Perum Bulog NTB, Muhamad Ramahan menyaksikan tenaga lepas saat melakukan Reproses beras kualitas buruk untuk Rastra yang disaksikan langsung setiap harinya oleh personil TNI dari Kodim 1602 Praya, Serda Saiful Hamdi yang ditugaskan di setiap gudang Bulog yakni di GBB Semayan, Praya, Selasa kemarin (6/6)

MATARAM – Kekisruhan yang terjadi belakangan ini terkait penyaluran Rastra oleh Perum Bulog Divisi Regional (Divre) NTB kepada sebagian kecil penerimaan manfaat yakni masalah kualitas beras buruk serta adanya dugaan pengoplosan beras buruk dengan baik.

Terkait masalah rastra yang kondisi kualitas buruk tersebut, Selasa kemarin (6/6) Bulog Divre NTB mengakui adanya sejumlah Rastra yang tersalurkan kepada masyarakat penerima manfaat mendapatkan Rastra dalam mutu kualitas kurang bagus.

“Untuk keluhan Rastra yang diterima masyarakat penerimaan manfaat kualitasnya kurang bagus, Bulog sudah langsung menggantinya,” kata Kepala Bidang OPP Perum Bulog Divre NTB, Muhmmad Ramadhan didampingi Kepala Seksi Humas Bulog Divre NTB,Sawaluddin Susanto.

[postingan number=5 tag=”beras”]

Ramadhan menjelaskan, adanya beras dengan kualitas kurang bagus untuk Rastra sebagian kecil di terima oleh masyarakat penerima manfaat disebabkan beras yang disalurkan oleh Bulog Divre NTB terlambat tersalurkan. Beras hasil pengadaan bulan September dan Oktober tahun 2016 tersebut seharusnya sudah disalurkan pada awal Januari 2017. Tapi ternyata penyaluran molor karena harus menunggu SK dari Kemensos sebagai acuan untuk menyalurkan rastra tersebut. Alhasil karena penyimpanan beras terlalu lama hingga 8 bulan berada di gudang menyebabkan beras Rastra yang disalurkan itu menurun kualitasnya seperti berdebu, hitam dan bahkan ada berkutu.

Menurut Ramadhan menurunnya kualitas beras Rastra tersebut tidak bisa terbantahkan. Karena idealnya penyimpanan beras itu adalah tiga bulan baru langsung disalurkan. Tapi justru setelah 8 bulan berada di gudang penyimpanan baru bisa disalurkan.

Kendati demikian, lanjut Ramadhan, Perum Bulog Divre NTB siap menerima keluhan masyarakat miskin yang mendapatkan jatah Rastra jika dalam kondisi tidak layak konsumsi. Dimana Perum Bulog NTB menyiapkan layan aduan 24 jam untuk menerima pengaduan masyarakat. Selain itu, setiap aduan raskin kualitas buruk, Perum Bulog Divre NTB siap mengganti dengan beras Rastra layak konsumsi.

“Raskin yang kualitas buruk, masyarakat dan kepala desa serta kepala dusun silahkan langsung melaporkan ke Perum Bulog dan kami siap menggantinya. Lebih bagus lagi sebelum disalurkan, kepala desa selaku tim Rastra bisa mengecek dulu kualitas beras di gudang Bulog,” ucap Ramadhan.

Berdasarkan data Perum Bulog Divre NTB hingga 5 Juni 2017, Rastra yang sudah disalurkan sebanyak 23.538.495 Kg. Dari jmlah itu yang dikeluhkan Rastra dengan kualitas buruk sebanyak 230.422 Kg, sementara yang sudah langsung diganti sebanyak 229.225 kg. Selanjutnya sebanyak 1.200 kg tidak diakukan pergantian, karena beras tersebut sudah tidak ada, dan sudah sebar bagi dan dikonsumsi masyarakat penerima manfaat.

BACA JUGA :  Bulog NTB Kembali Kirim 5 Ribu Ton Beras ke NTT

“Prosentase beras rusak dikeluhkan itu sebesar 0,01 persen dari jumlah total yang telah disalurkan,” sebutnya.

Lebih lanjut Ramadhan mengatakan untuk masalah adanya isu yang berkembang di media sosial terkait kabar pencampuran beras raskin yang kualitas buruk dengan beras bagus, Ramadhan mengakui hal tersebut. Hanya saja, yang perlu diketahui oleh berbagai pihak adalah pencampuran beras Rastra yang berkualitas buruk dengan beras bagus memiliki Standar Operasional Prosedur (SOP) dan sudah menjadi keharusan dilakukan dengan istilah nama Reproses (proses ulang).

Untuk Reproses ulang Rastra ini, lanjut Ramadhan sudah ada ketentuan yang diatur dari peraturan Bulog Pusat. Untuk dalam Reproses beras tersebut juga disaksikan personil dari TNI seperti yang dilakukan di Gudang Baru Bulog (GBB) Semayan, Praya dan Gudang Bulog di Dasan Cermen Mataram. Dalam Reproses tersebut dipantau langsung oleh Tim peronsil TNI dari Kodim Praya, Serda Saiful Hamdi.

“Jadi Reproses beras itu memang benar ada dan itu sudah ada ketentuannya dari aturan Bulog,” kata Ramadhan.

Kepala Seksi Humas Perum Bulog Divre NTB, Sawaluddin Susanto menjelaskan untuk melakukan Reproses beras Rastra yang berkualitas buruk itu terlebih dahulu diusulkan ke Perum Bulog Pusat dalam hal untuk perbaikan kualitas beras di gudang-gudang Bulog sebanyak 1.405.470 kg yang tersebar di gudang I Cakranegara, gudang lembar, gudang Ubung, dan gudang Semayan.

“Pencampuran beras atau Reproses itu sudah ada aturannya untuk memperbaiki kualitas. Jadi postingan di media sosial itu sudah benar, tapi mereka belum tahu aturanya saja, kalau Reproses itu boleh dilakukan,” terangnya.

Sementara itu, salah seorang buruh/pekerja yang dilibatkan dalam Reproses beras kualitas kurang bagutersebut, Inaq Nirwaini mengatakan, sebelum dilakukan pencampuran beras buruk dan bagus, terlebih dahulu beras kualitas buruk di blower (mesin pembersih debu), setelah itu baru dilakuan mixing (pencampuran) dengan ketentuan yang diberikan oleh Bulog.

Untuk pencampuran adalah sebanyak 15 karung beras yang kualitas buruk yang berisi 15 kg dicampur dengan beras bagus sebanyak 2 karung yang berisi 50 kg untuk setiap karungnya. Selanjutnya beras tersebut diaduk, baru dimasukan dalam karung Rastra berisi 15 kg.

“Beras raskin yang kualitas buruk itu kita masukan kemesin pembersih debu, baru kita campur dengan beras yang bagus,” jelasnya. (luk)