Promosi Pariwisata Daerah Masih Nihil

PENYEBERANGAN : Sejumlah wisatawan lokal baru balik dari tiga gili (HERY MAHARDIKA/RADAR LOMBOK)

TANJUNG –Saat ini Lombok Utara tengah mengejar target tag line pariwisata menuju dunia.

Adanya slogan tersebut, pemerintah daerah mendapatkan sorotan dari Badan Promosi Daerah (BPD) Lombok Utara. Pasalnya, pariwisata sebagai akseleratos ekonomi dan memasangkan slogan menuju dunia, sangat tidak elok ketika melihat pemerintah daerah tidak pernah melakukan promosi skala nasional maupun internasional. Oleh karenanya, slogan ini patut dipertanyakan yang hanya sebatas menjad retorika belaka. “Bagaimana mengejar tag line menuju dunia. Sementara kegiatan promosi baru skala lokal, sedangkan skala nasional maupun dunia mana. Kalau lokal kita memang hebat,” tegas Ketua BPD Lombok Utara, H Rufai kepada Radar Lombok, Rabu (18/1).

Menurutnya, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata yang baru berumur dua tahun ini belum memiliki terobosan apapun dalam meningkatkan angka kunjungan wisatawan. Hanya saja keberuntungan Gili Trawangan dan Senaru yang terkenal saja. Tag line menuju dunia, katanya, jangan sampai menjadi retorika semata tanpa membuat program yang jelas. “Kalau nama program pariwisata dunia, ya berarti dunia harus mengetahui. Tapi mana masih lokal. Makanya membuat program itu yang masuk akal saja,” tandasnya.

Untuk diketahui, kedatangan para tamu ke Lombok Utara ingin menikmati panorama alamnya. Sehingga pemerintah daerah disarankan jangan terlalu banyak merubah alamnya atau objek wisatanya. Menurutnya, tampilkan apa adanya. Kecuali pembenahan infrastruktur jalan di beberapa ruas menuju objek wisata. “Kalau terlalu dirubah akan berimbas. Sebab kita dikenal wisata alamnya,” pintanya.

Selain itu, para wisatawan membutuhkan tempat parkir yang aman dan jelas, kemudian toilet sebagai tempat ganti, termasuk juga kebersihan. Inilah kebutuhan dasar yang perlu ada. Menurutnya, pembenahan boleh asalkan dibarengi dengan promosi. “Masak mau memperbaiki dulu, baru mengundang orang (wisatawan). Apa kira mendatangkan orang itu gampang. Travel tourism itu sudah menyiapkan lokasi-lokasi setahun sebelumnya. Jangan sampai objek yang diperbaiki, malah keburuan rusak,” tandasnya.

[postingan number=3 tag=”promosi”]

Untuk diketahui, wisata alam di Lombok Utara itu cukup banyak, ada yang ditahu dan tidak ditahu. Pihak travel biasanya menjual objek wisata yang sudah ditahu, dan objek wisata yang belum ditahu lebih baik disimpan dulu. “Sering masyarakat juga ribut terkait objek wisata baru, nama juga baru ditemukan maunya segera diperbaiki. Yang menjadi objek wisata itu ialah yang sudah ditetapkan pemerintah daerah,” geramnya.

Mengenai objek wisata yang akhir-akhir ini bermunculan. Ia sendiri mengapreasi atas kesadaran masyarakat. Namun, objek baru itu tidak bisa langsung menjadi objek dunia. Dan pemerintah daerah harus fokus untuk menggarap delapan objek yang sudah ditetapkan tersebut, kalau semuanya digarap. “Ya travel agen akan bingung juga. Masak mau belok kiri-kanan banting setir, tentu travel harus memperhitungkan waktunya,” terangnya.

Ia sendiri juga mengkritik terhadap target angka kunjungan wisatawan yang masih tercapai baru 600 ribu dari target 750 ribu. Seharusnya target itu harus bisa terlampui. Dengan angka kunjungan yang cukup tinggi, ia juga mengkritik retribusi tambahan dari Dinas Pariwisata yang hanya sebesar Rp 1 miliar. “Masak kecil sekali, padahal itu banyak sekali yang bisa digarap. Harus maksimal lah untuk meningkatkannya,” sindirnya sembari memberikan solusi.

Sementara itu, Plt Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Lombok Utara, Baiq Prita Sutiati mengakui, bahwa dalam hal promosi ke luar daerah maupun luar negeri saat ini masih dibantu oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata NTB dengan mengadakan berbagai macam kegiatan di luar daerah seperti greenfield yang akan dilaksanakan mula minggu ketiga bulan Januari hingga bulan Februari di Solo dan Denpasar. “Banyak promosi yang dibantu provinsi. Karena objek wisata Lombok Utara lagi booming. Sedangkan di daerah hanya promosi di even-event saja, karena anggaran promosi hanya Rp 300 juta,” terangnya belum lama ini secara terpisah.

Pada tahun 2017, kita menargetkan satu juta angka kunjungan wisatawan. Untuk mengejar tersebut, saat ini pihaknya tengah sibuk merencanakan pendataan angka kunjungan wisatawan yang tidak menginap juga. Sebab, selama ini pihaknya hanya mendata angka kunjungan wisatawan yang menginap seperti tahun kemarin, target angka kunjungan wisatawan yang menginap 750 ribu yang bisa tercapai 600 ribu lebih. Jika melihat angka pelancong yang tidak menginap, justru melampui target tersebut. “Banyak para turis yang datang dari bali ke Gili Trawangan, mereka langsung pulang. Dan kita untuk data yang tidak menginap ini belum punya. Nah, itu yang akan digarap juga,” terangnya.

[postingan number=3 tag=”wisata”]

Selain itu, pihaknya juga tidak akan fokus terhadap tiga gili saja. Pihaknya juga akan fokus kepada obyek wisata yang ada di daratan dengan penambahan faslitas dan perbaikan jalan-jalan masuk ke obyek wisata, seperti air terjun Senaru, Air Terjun Tiu Teja, Kerujuk, Kertagangga, dan rumah adat yang ada di gumantar. “Apalagi, Lombok Utara saat ini lagi booming,” katanya.( flo)